Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:56 WIB
loading...
Rupiah Menguat Tipis...
Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tipis sepanjang sepekan terakhir. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah mencatat penguatan tipis sepanjang sepekan terakhir meski pada perdagangan akhir pekan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, mata uang Garuda diproyeksikan kembali berada di bawah tekanan pada pekan depan seiring potensi penguatan indeks dolar AS.

“Saya melihat indeks dolar AS berpotensi kembali menguat dengan kisaran 99,200 hingga area resisten 101,700,” kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Minggu (21/6/2026).

Berdasarkan data perdagangan pasar spot pada Jumat (19/6), kurs rupiah ditutup melemah tipis 0,06 persen ke posisi Rp17.804 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, secara mingguan rupiah masih menguat 0,31 persen dibandingkan posisi Rp17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6).

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS

Pergerakan serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang berada di level Rp17.826 per dolar AS pada akhir pekan. Secara akumulatif mingguan, rupiah Jisdor menguat 0,53 persen dari posisi Rp17.921 per dolar AS pada pekan sebelumnya.



Ibrahim mengatakan penguatan dolar AS berpotensi kembali menekan rupiah ke kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan. Menurut dia, terdapat empat faktor utama yang menopang penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut, yakni geopolitik global, kebijakan politik AS, arah kebijakan bank sentral AS, serta faktor permintaan dan penawaran global.

Dari sisi geopolitik, pasar masih mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam menutup kembali Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik kawasan, sementara serangan Rusia ke Kyiv turut mendorong kenaikan harga minyak dan permintaan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Selain faktor geopolitik, kebijakan politik AS di bawah Presiden Donald Trump juga dinilai semakin proteksionis menjelang pemilu paruh waktu 2026. Pemerintah AS disebut kembali mengaktifkan tarif resiprokal terhadap puluhan negara mitra dagang, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif ekspor sebesar 19 persen.

Baca Juga: Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848

Dari sisi moneter, kepemimpinan baru bank sentral AS oleh Kevin Walsh dinilai membawa arah kebijakan yang lebih hawkish dengan fokus menjaga suku bunga tinggi demi mencapai target inflasi 2 persen. Kebijakan tersebut diperkirakan memperkuat dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, faktor supply dan demand global juga turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Penurunan harga emas dimanfaatkan sejumlah bank sentral dunia untuk meningkatkan cadangan emas sebagai langkah lindung nilai dan dedolarisasi.

Sepanjang kuartal I 2026, pembelian emas oleh bank sentral global tercatat mencapai 244 ton. Ibrahim menilai kombinasi ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga AS yang agresif, perang dagang, serta kenaikan permintaan aset aman menjadi faktor yang berpotensi membuat dolar AS tetap perkasa dan menekan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
BI Tancap Gas, Suku...
BI Tancap Gas, Suku Bunga Acuan Kembali Naik 25 Bps ke Level 5,75%
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rekomendasi
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Puji Kepemimpinan Wali...
Puji Kepemimpinan Wali Kota Agustina, Hendardji Soepandji: Budaya Semarang Kian Kuat dan Harmonis
Buronan Kasus Penipuan...
Buronan Kasus Penipuan Bisnis Batu Bara Rp7 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta
Berita Terkini
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Infografis
3 Fakta Ukraina Tak...
3 Fakta Ukraina Tak Memiliki Masa Depan dalam Konflik Lawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved