Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru

Kamis, 02 Juli 2026 - 09:16 WIB
loading...
Aset Kripto Rp18 Triliun...
Nilai aset kripto yang hilang akibat peretasan sepanjang semester I-2026 hampir mencapai Rp18 triliun. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Nilai aset kripto yang hilang akibat peretasan sepanjang semester I-2026 hampir mencapai USD1 miliar atau sekitar Rp18 triliun. Meningkatnya kompleksitas serangan siber di ekosistem blockchain mendorong pelaku industri mulai memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk memperkuat sistem keamanan digital.

"Yang berubah saat ini bukan hanya jumlah serangan yang terjadi, tetapi juga tingkat kompleksitasnya. Pelaku kejahatan siber semakin terorganisir dan memanfaatkan berbagai metode yang sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional," kata CEO Indodax William Sutanto, seperti dikutip pada Kamis (2/7/2026).

Baca Juga: Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun

Berdasarkan data DeFiLlama, sedikitnya 127 insiden keamanan menyebabkan kerugian sekitar USD947 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan pola serangan pada ekosistem blockchain berkembang semakin kompleks sehingga pendekatan keamanan konvensional dinilai tidak lagi cukup.

Kompleksitas ancaman tercermin dari dua insiden besar pada April 2026 yang menimpa Drift Protocol dan KelpDAO dengan total kerugian sekitar USD577 juta. Laporan TRM Labs mencatat kedua kasus itu menyumbang sekitar 76 persen dari total nilai aset kripto yang dicuri hingga April 2026.

William mengatakan pelaku kejahatan siber kini tidak hanya mengeksploitasi celah kode pada smart contract, tetapi juga menyerang infrastruktur blockchain dan memanfaatkan kelengahan manusia melalui metode social engineering.

Menurut dia, AI memiliki potensi besar untuk membantu industri kripto dan blockchain membangun sistem keamanan yang lebih proaktif. Berbeda dengan audit tradisional yang dilakukan secara berkala, AI memungkinkan pemantauan risiko dan analisis smart contract dilakukan secara berkelanjutan dan lebih cepat.

Teknologi tersebut mulai diterapkan sejumlah perusahaan teknologi global seperti Frosty yang dikembangkan Coinbase dan Mythos dari Anthropic. Selain mempercepat audit internal, AI juga mampu melakukan analisis on-chain, memantau perubahan perilaku protokol, serta mendeteksi aktivitas transaksi yang tidak wajar secara real time.

Baca Juga: Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya

Meski demikian, William menegaskan AI bukan solusi tunggal untuk seluruh ancaman keamanan di industri aset digital. Menurut dia, keamanan blockchain tetap membutuhkan perlindungan berlapis melalui tata kelola yang teregulasi, audit independen, pengelolaan akses yang ketat, hingga peningkatan kesadaran pengguna.

"AI bertindak sebagai resource multiplier yang mempercepat deteksi teknis. Namun, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kompetensi, integritas, dan human judgement di belakangnya," ujarnya.



Sebagai perusahaan pertukaran kripto berlisensi di Indonesia, Indodax menyatakan terus memperkuat standar keamanan melalui penerapan teknologi, tata kelola, serta edukasi keamanan kepada masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan ialah bekerja sama dengan Chainalysis guna memperkuat kemampuan pemantauan aktivitas on-chain, manajemen risiko, dan sistem kepatuhan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fenomena Baru Investasi:...
Fenomena Baru Investasi: Tokenisasi Aset Buka Akses ke Saham AS, Minat Investor RI Melonjak
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
Bidik Integrasi Aset...
Bidik Integrasi Aset Digital dan Ekonomi Riil, JAM Coin Resmi Meluncur
LM FEB UI Tekankan Pentingnya...
LM FEB UI Tekankan Pentingnya Merekayasa Human Performance di Era AI
BTC Price Game Meluncur,...
BTC Price Game Meluncur, Fitur Game Edukatif untuk Analisis Harga Bitcoin
AI for Life: Ketika...
AI for Life: Ketika Kampus Mulai Bicara Etika, Bukan Sekadar Teknologi
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan...
1 Tahun Berkuasa, Kekayaan Trump Bertambah Rp25 Triliun
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Rekomendasi
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan...
Rekonstruksi Kasus Penganiayaan YTR , Taufik Hidayat Peragakan Pukul Pakai Golok dan Sundut Korban
Menekraf Ajak Generasi...
Menekraf Ajak Generasi Muda Berperan Aktif dalam Kebangkitan Ekonomi Kreatif Indonesia
Sidang Ijazah Jokowi,...
Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Didakwa Pasal Berlapis Pencemaran Nama Baik dan UU ITE
Berita Terkini
DJP Kejar Pajak Digital,...
DJP Kejar Pajak Digital, Jangan Kaget Pengguna Aplikasi Olahraga Strava Kena PPN 11%
Seluruh Laporan Keuangan...
Seluruh Laporan Keuangan BUMN Tahun 2025 Sudah Masuk Danantara, Intip Bocorannya
Waste-to-Energy Dinilai...
Waste-to-Energy Dinilai Efektif Atasi Sampah Nasional, Asal Masyarakat Dilibatkan
Purbaya Sangkal Merah...
Purbaya Sangkal Merah Putih Bond Jadi Celah Pencucian Uang, Singgung Peran Singapura
Pemadaman Listrik Ungkap...
Pemadaman Listrik Ungkap Pentingnya Sinkronisasi RKAB dan Pasokan Batu Bara
ICDX dan Bursa Komoditas...
ICDX dan Bursa Komoditas Belarus Jalin Kerja Sama Perdagangan Internasional
Infografis
China Luncurkan AI Baru...
China Luncurkan AI Baru Manus, Pintar Analisis Pasar Saham
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved