Inflasi Jakarta Terjaga pada Level 0,41%, Terendah di Pulau Jawa
Kamis, 02 Juli 2026 - 21:28 WIB
loading...
Inflasi Jakarta per Juni 2026 menyentuh angka 0,41% (mtm) atau meningkat 0,12% di tengah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Inflasi Jakarta per Juni 2026 menyentuh angka 0,41% (mtm) atau meningkat 0,12% di tengah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) . Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta , Iwan Setiawan menjelaskan, sekalipun demikian, inflasi yang terjadi di Jakarta masih lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 0,44%.
“Peningkatan inflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok Transportasi, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada awal Juni serta kenaikan tarif angkutan udara akibat meningkatnya permintaan perjalanan selama periode libur sekolah,” katanya dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).
Lanjut Iwan, inflasi DKI Jakarta secara tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,78% (yoy), menjadikannya terendah se-provinsi di Pulau Jawa. Bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy). Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Capai 3,34%, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pendorong
“Capaian ini menunjukkan inflasi Jakarta tetap terkendali di tengah berlanjutnya penyesuaian harga (BBM) sebagai dampak gejolak harga minyak dan energi global,” tambahnya.
Selain kelompok transportasi yang menjadi penyumbang inflasi mulai dari BBM, suku cadang, dan operasional. Tekanan inflasi tertinggi juga dipengaruhi oleh harga chip dan komponen elektronik lainnya yang mendorong kenaikan harga telepon seluler.
Komoditas tersebut mencatat inflasi sebesar 4,01% (mtm), tertinggi dalam empat tahun terakhir dengan andil sebesar 0,02%. Di sisi lain, tekanan inflasi Jakarta tertahan oleh deflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Baca Juga: Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras seiring berlanjutnya tren penurunan harga di tingkat produsen yang didukung oleh pasokan yang memadai dari daerah sentra di tengah permintaan yang relatif stabil dan penurunan permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
“TPID Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi sepanjang Juni 2026 melalui implementasi strategi 4K,” lanjut Iwan.
Dari sisi keterjangkauan harga, upaya dilakukan melalui pasar murah, Program Pangan Bersubsidi, serta penyaluran bantuan pangan berupa ber as dan minyak goreng. Dari sisi ketersediaan pasokan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendorong penguatan produksi melalui pelatihan hilirisasi cabai dan bawang, pengembangan urban farming melalui kegiatan panen dan Akademi Urban Farming, serta didukung penguatan koordinasi program antara Bank Indonesia, DKPKP, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Ke depan lanjut Iwan, implementasi strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memitigasi risiko inflasi yang bersumber dari faktor global maupun domestik.
“Risiko global terutama berasal dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan nilai tukar, sementara risiko domestik berasal dari potensi El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli - Agustus 2026 sehingga dapat mengganggu produksi pangan,” tuturnya.
Melalui sinergi yang semakin erat antara TPID Provinsi DKI Jakarta dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1% pada tahun 2026.
“Peningkatan inflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok Transportasi, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada awal Juni serta kenaikan tarif angkutan udara akibat meningkatnya permintaan perjalanan selama periode libur sekolah,” katanya dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).
Lanjut Iwan, inflasi DKI Jakarta secara tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,78% (yoy), menjadikannya terendah se-provinsi di Pulau Jawa. Bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy). Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Capai 3,34%, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pendorong
“Capaian ini menunjukkan inflasi Jakarta tetap terkendali di tengah berlanjutnya penyesuaian harga (BBM) sebagai dampak gejolak harga minyak dan energi global,” tambahnya.
Selain kelompok transportasi yang menjadi penyumbang inflasi mulai dari BBM, suku cadang, dan operasional. Tekanan inflasi tertinggi juga dipengaruhi oleh harga chip dan komponen elektronik lainnya yang mendorong kenaikan harga telepon seluler.
Komoditas tersebut mencatat inflasi sebesar 4,01% (mtm), tertinggi dalam empat tahun terakhir dengan andil sebesar 0,02%. Di sisi lain, tekanan inflasi Jakarta tertahan oleh deflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Baca Juga: Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras seiring berlanjutnya tren penurunan harga di tingkat produsen yang didukung oleh pasokan yang memadai dari daerah sentra di tengah permintaan yang relatif stabil dan penurunan permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.
“TPID Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat pengendalian inflasi sepanjang Juni 2026 melalui implementasi strategi 4K,” lanjut Iwan.
Dari sisi keterjangkauan harga, upaya dilakukan melalui pasar murah, Program Pangan Bersubsidi, serta penyaluran bantuan pangan berupa ber as dan minyak goreng. Dari sisi ketersediaan pasokan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mendorong penguatan produksi melalui pelatihan hilirisasi cabai dan bawang, pengembangan urban farming melalui kegiatan panen dan Akademi Urban Farming, serta didukung penguatan koordinasi program antara Bank Indonesia, DKPKP, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Ke depan lanjut Iwan, implementasi strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) akan terus diperkuat untuk memitigasi risiko inflasi yang bersumber dari faktor global maupun domestik.
“Risiko global terutama berasal dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan nilai tukar, sementara risiko domestik berasal dari potensi El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli - Agustus 2026 sehingga dapat mengganggu produksi pangan,” tuturnya.
Melalui sinergi yang semakin erat antara TPID Provinsi DKI Jakarta dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1% pada tahun 2026.
(akr)
Lihat Juga :