Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Kamis, 02 Juli 2026 - 22:37 WIB
loading...
Iran secara resmi merilis ultimatum keras dengan memperingatkan seluruh kapal supertanker minyak internasional yang melintasi Selat Hormuz wajib mematuhi rute navigasi yang ditentukan Teheran. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan di jalur urat nadi energi dunia kembali membara ke tingkat yang mengkhawatirkan. Komando militer gabungan Iran secara resmi merilis ultimatum keras dengan memperingatkan seluruh kapal supertanker minyak internasional yang melintasi Selat Hormuz wajib mematuhi rute navigasi yang ditentukan Teheran.
Jika ada kapal tanker yang nekat melanggar protokol atau melenceng dari jalur, militer Iran memastikan kapal tersebut akan menghadapi "respons militer yang cepat dan menghancurkan."
Baca Juga: Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
Gertakan dari Komando Militer Khatam al-Anbiya yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Iran ini seketika mengerem optimisme pasar global, tepat di saat harga minyak dunia baru saja mendingin pasca-kesepakatan damai sementara Amerika Serikat atau AS-Iran.
Frasa tersebut dinilai Iran sebagai bentuk provokasi siber dan militer asing di halaman rumah mereka. Kondisi psikologis Teheran sendiri saat ini tengah berada dalam tensi tinggi menjelang upacara pemakaman akbar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di awal perang pada Februari lalu.
"Setiap kegagalan untuk mematuhi, penyimpangan rute, atau pengabaian terhadap protokol navigasi Republik Islam Iran di Selat Hormuz akan dihadapi dengan respons langsung dan keras dari angkatan bersenjata," tulis pernyataan resmi militer Iran.
Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Teheran juga menuntut AS untuk segera menarik mundur jet-jet tempur mereka yang masih berpatroli di atas selat. Iran menegaskan bahwa setiap upaya intervensi oleh Amerika Serikat akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional mereka.
Namun di balik meja perundingan Swiss dan Qatar, Iran secara radikal menuntut perubahan aturan main global. Iran bersikeras berhak mendikte secara mutlak rute koridor kapal tanker.
Setelah masa transisi 60 hari habis, Iran berencana memungut biaya tol laut (passage fees) terhadap setiap kapal tanker yang lewat. Langkah sepihak ini merombak total hukum maritim internasional yang sudah berlaku selama puluhan tahun.
AS dan negara-negara Arab sekutunya di Teluk secara tegas menolak membayar upeti tersebut. Bahkan, upaya Kesultanan Oman dan badan PBB untuk membuka rute alternatif darurat di luar teritorial Iran sempat memicu rentetan serangan misterius akhir pekan lalu. Hal ini membuktikan betapa rapuhnya keamanan logistik minyak dunia saat ini.
Meskipun situasi di lapangan memanas, pihak mediator dari Pakistan, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Tahir Andrabi, menyatakan bahwa negosiasi diplomatik di Qatar sebenarnya menunjukkan "kemajuan positif."
Jika ada kapal tanker yang nekat melanggar protokol atau melenceng dari jalur, militer Iran memastikan kapal tersebut akan menghadapi "respons militer yang cepat dan menghancurkan."
Baca Juga: Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
Gertakan dari Komando Militer Khatam al-Anbiya yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Iran ini seketika mengerem optimisme pasar global, tepat di saat harga minyak dunia baru saja mendingin pasca-kesepakatan damai sementara Amerika Serikat atau AS-Iran.
Pemicu Amarah Teheran
Eskalasi mendadak ini dipicu oleh perang urat syaraf yang terjadi di balik layar antara Washington dan Teheran. Iran meradang setelah Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengadakan pertemuan darurat di Bahrain bersama negara-negara Arab dan mengeluarkan komitmen bersama untuk "menjaga kebebasan arus perdagangan di Selat Hormuz."Frasa tersebut dinilai Iran sebagai bentuk provokasi siber dan militer asing di halaman rumah mereka. Kondisi psikologis Teheran sendiri saat ini tengah berada dalam tensi tinggi menjelang upacara pemakaman akbar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di awal perang pada Februari lalu.
"Setiap kegagalan untuk mematuhi, penyimpangan rute, atau pengabaian terhadap protokol navigasi Republik Islam Iran di Selat Hormuz akan dihadapi dengan respons langsung dan keras dari angkatan bersenjata," tulis pernyataan resmi militer Iran.
Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Teheran juga menuntut AS untuk segera menarik mundur jet-jet tempur mereka yang masih berpatroli di atas selat. Iran menegaskan bahwa setiap upaya intervensi oleh Amerika Serikat akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional mereka.
Dilema Pajak Selat Hormuz: Aturan Main Puluhan Tahun Dirombak Total
Para pelaku pasar finansial dunia kini dicekam ketakutan akan terjadinya sabotase jilid dua. Berdasarkan perjanjian transisi berdurasi 60 hari, AS dan Iran sebenarnya sepakat mengizinkan kapal melintas gratis tanpa biaya.Namun di balik meja perundingan Swiss dan Qatar, Iran secara radikal menuntut perubahan aturan main global. Iran bersikeras berhak mendikte secara mutlak rute koridor kapal tanker.
Setelah masa transisi 60 hari habis, Iran berencana memungut biaya tol laut (passage fees) terhadap setiap kapal tanker yang lewat. Langkah sepihak ini merombak total hukum maritim internasional yang sudah berlaku selama puluhan tahun.
AS dan negara-negara Arab sekutunya di Teluk secara tegas menolak membayar upeti tersebut. Bahkan, upaya Kesultanan Oman dan badan PBB untuk membuka rute alternatif darurat di luar teritorial Iran sempat memicu rentetan serangan misterius akhir pekan lalu. Hal ini membuktikan betapa rapuhnya keamanan logistik minyak dunia saat ini.
Meskipun situasi di lapangan memanas, pihak mediator dari Pakistan, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Tahir Andrabi, menyatakan bahwa negosiasi diplomatik di Qatar sebenarnya menunjukkan "kemajuan positif."
(akr)
Lihat Juga :