Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata

Rabu, 08 Juli 2026 - 08:35 WIB
loading...
Keruntuhan Dolar AS...
Sentimen anti-dolar AS atau dedolarisasi yang digelorakan oleh aliansi negara-negara berkembang BRICS kini bukan lagi sekadar gertakan sambal atau cerita fiksi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Sentimen anti- dolar AS atau dedolarisasi yang digelorakan oleh aliansi negara-negara berkembang BRICS kini bukan lagi sekadar gertakan sambal atau cerita fiksi. Ekonom dunia yang pertama kali menciptakan istilah BRIC pada 25 tahun lalu, Jim O'Neill secara mengejutkan mengubah pandangannya dan mengakui bahwa keruntuhan dominasi mata uang Negeri Paman Sam kini sudah di depan mata.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Reuters, mantan Kepala Ekonom Goldman Sachs tersebut blak-blakan menyebut bahwa lompatan masif teknologi sistem pembayaran digital dalam beberapa waktu terakhir telah mengubah total lanskap finansial dunia.

Dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata bagi Amerika Serikat

O'Neill mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun lalu, ia adalah salah satu orang yang paling skeptis terhadap ambisi aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) untuk menantang mata uang AS.

"Sekitar 18 bulan lalu, jika Anda bertanya kepada saya soal ini, saya akan bilang itu hanya khayalan (fantasy). Ide bahwa negara-negara BRICS bisa menciptakan semacam instrumen finansial alternatif untuk menggantikan dolar terdengar mustahil," aku O'Neill jujur.

Baca Juga: Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan

Skeptisisme itu wajar, mengingat Dolar AS telah mencengkeram sistem moneter global selama lebih dari setengah abad sejak runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1970-an. Namun saat ini, peta kekuatan dunia sudah bergeser. Munculnya berbagai teknologi finansial baru membuat O'Neill ragu dolar bisa bertahan selamanya.



"Siapa yang benar-benar tahu seperti apa sistem moneter kita di masa depan nanti?" cetusnya.

Senjata Rahasia BRICS: Menghubungkan QR Code Antar-Negara

Selama ini kritik terbesar terhadap BRICS adalah ketidakmampuan mereka menyatukan visi politik karena kepentingan ekonomi yang berbeda-beda. Namun aliansi negara-negara berkembang ini menemukan jalan pintas cerdas melalui jalur teknologi sistem pembayaran nontunai.

Baca Juga: Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?

Daripada repot-repot membuat satu mata uang tunggal baru yang rumit, negara-negara BRICS+ kini fokus mengembangkan sistem BRICS Pay serta mengintegrasikan jaringan pembayaran domestik sukses milik mereka, seperti UPI (Sistem pembayaran instan milik India), CIPS (Sistem kliring lintas batas milik China), serta PIX (Sistem transfer instan populer milik Brasil).

Ditambah jangan lupakan QRIS kepunyaan Indonesia, hingga penggunaan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) untuk perdagangan antar-negara.

Masuknya Indonesia ke BRICS+ dan Sindiran untuk Donald Trump

Aliansi ini kini telah bermutasi menjadi BRICS+, sebuah platform raksasa yang mewakili suara wilayah Global South (Arah Selatan Dunia). Di dalam lingkaran baru ini, bercokol kekuatan ekonomi besar seperti Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Ethiopia, Iran, termasuk Indonesia.

Makin kuatnya cengkeraman ekonomi BRICS+ bahkan mulai membuat para pemimpin di Washington ketakutan. O'Neill bahkan melontarkan sindiran menggelitik terkait perubahan sikap drastis politik di Amerika Serikat.

"Saya sering bercanda, seingat saya tidak ada satu pun Presiden AS dalam 25 tahun terakhir yang sudi menyebut nama BRICS. Tapi sekarang, Donald Trump bahkan tidak bisa berhenti membicarakan mereka," kata O'Neill.

Melihat pergeseran besar ini, O'Neill bersama Gemma Chenger Deng mendirikan BRICS+ Thinking, sebuah platform kebijakan nonprofit yang didanai secara mandiri. Tujuannya adalah untuk memublikasikan indeks pertumbuhan serta mendorong kolaborasi antara negara Barat dan blok BRICS+ agar tidak terjadi benturan ekonomi yang merusak tatanan dunia, terutama di sektor AI, perubahan iklim, dan transisi energi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bertemu PM Modi, Prabowo...
Bertemu PM Modi, Prabowo Minta QRIS Segera Bisa Dipakai di India
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
Rupiah Ditutup Melemah,...
Rupiah Ditutup Melemah, Sempat Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah Sentuh Rp17.963,...
Rupiah Sentuh Rp17.963, Hari Ini Berakhir Sedikit Menguat Lawan Dolar AS
Rupiah Kritis, Hari...
Rupiah Kritis, Hari Ini Berakhir Ambruk ke Rp17.995 per Dolar AS
Rupiah Ambruk Dekati...
Rupiah Ambruk Dekati Rp18.000, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Maia Estianty Soroti...
Maia Estianty Soroti Dolar Tembus Rp18.000, Curhat soal Pajak
Mahasiswa UNS Diajak...
Mahasiswa UNS Diajak Pahami Penyebab Rupiah Melemah dan Dolar Naik di ICC 2026
Rekomendasi
Iran Serang 85 Situs...
Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Iran Sebut Sanksi AS...
Iran Sebut Sanksi AS yang Diperbarui Langgar MoU, Langkah itu Mulai Berlaku Penuh 17 Juli
Menhaj Buka Peluang...
Menhaj Buka Peluang BPIH Haji 2027 Turun jika Harga Minyak Dunia Terus Merosot
Berita Terkini
Harga Emas Jatuh Rp14...
Harga Emas Jatuh Rp14 Ribu per Rabu 8 Juli 2026, Buyback Ambrol Rp21.000
Daftar di Sini dan Simak...
Daftar di Sini dan Simak Webinar Strategi Kelola Keuangan dari MNC Asset Management dan Invesnow!
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Terkoreksi 0,04 Persen di Level 5.984
Perusahaan yang Sahamnya...
Perusahaan yang Sahamnya Dimiliki Kaesang Kesandung Kredit Macet, Utang Bank Tembus Rp2,8 Triliun
Keruntuhan Dolar AS...
Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata
RI-India Bidik Nilai...
RI-India Bidik Nilai Kerja Sama Ekonomi Tembus Rp445,8 Triliun, dari Infrastruktur hingga SDA
Infografis
Rencana AS Keluar dari...
Rencana AS Keluar dari NATO dan PBB Didukung Elon Musk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved