Koper Jadi Ukuran Baru Kenyamanan, Piece Concept Mulai Dibicarakan Penumpang RI
Rabu, 08 Juli 2026 - 18:13 WIB
loading...
A
A
A
Istilah seputar bagasi, boarding prioritas, dan barang pribadi tidak selalu konsisten di antara maskapai. Ini berarti penumpang bisa tiba di bandara tanpa mengetahui dengan pasti perbedaan kebijakan bagasi antar satu maskapai dengan maskapai lainnya.
Dari sudut pandang pelaku perjalanan, hal ini berarti pemilihan maskapai yang akan digunakan tidak lagi dilihat dari sekadar harga yang tertera, melainkan juga menuntut ketelitian dalam melihat perbedaan kebijakan antar satu maskapai dengan maskapai lainnya khususnya ketika terbang dengan connecting flight. Bagi mereka, pertimbangan utamanya kini bukan lagi sekadar biaya, melainkan nilai keseluruhan dan kejelasan aturan.
Di banyak maskapai internasional, piece concept diadopsi dan dikembangkan menjadi cara untuk membuat pengalaman perjalanan lebih mudah dibaca. Emirates, misalnya, menerapkan weight concept pada sebagian rute, tetapi menggunakan pendekatan berbeda untuk rute tertentu seperti Amerika dan Afrika. Air France dan KLM bahkan telah mengimplementasikan piece concept untuk seluruh rute penerbangannya terhitung sejak tahun 2010.
Di Asia Pasifik, Cathay Pacific telah mengubah kebijakan bagasinya dari weight concept menjadi piece concept sejak tahun 2016 yang kemudian diikuti oleh beberapa maskapai di Asia Tenggara seperti Vietnam Airlines (2019) dan Thai Airways (2026) dengan mencantumkan pengaturan berbasis piece concept pada sejumlah ketentuan bagasinya, termasuk pembatasan berat per koper.
Praktik ini menunjukkan bahwa hingga saat ini memang tidak ada satu model tunggal yang berlaku untuk semua pasar. Namun, arahnya semakin jelas: maskapai global berupaya membuat aturan bagasi lebih terstruktur, lebih mudah dibandingkan, dan lebih sesuai dengan karakter perjalanan penumpang di tiap rute. Baca juga: Arus Mudik 2026 di Bandara Soetta, 191 Ribu Penumpang Pesawat Diterbangkan ke Kampung Halaman
Bagi traveler modern, standar seperti ini menjadi penting karena perjalanan hari ini semakin terhubung. Satu penumpang bisa membeli satu tiket yang melibatkan beberapa maskapai, transit di beberapa bandara, dan membawa barang untuk kebutuhan yang berbeda-beda.
Dalam situasi seperti itu, pada akhirnya aturan bagasi yang jelas bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal mengurangi ketidakpastian. Semakin mudah penumpang memahami berapa koper yang dapat dibawa, berapa batas berat masing-masing koper, dan bagaimana aturan itu berlaku sejak awal perjalanan, semakin besar pula rasa percaya diri mereka saat bepergian.
Dari sudut pandang pelaku perjalanan, hal ini berarti pemilihan maskapai yang akan digunakan tidak lagi dilihat dari sekadar harga yang tertera, melainkan juga menuntut ketelitian dalam melihat perbedaan kebijakan antar satu maskapai dengan maskapai lainnya khususnya ketika terbang dengan connecting flight. Bagi mereka, pertimbangan utamanya kini bukan lagi sekadar biaya, melainkan nilai keseluruhan dan kejelasan aturan.
Di banyak maskapai internasional, piece concept diadopsi dan dikembangkan menjadi cara untuk membuat pengalaman perjalanan lebih mudah dibaca. Emirates, misalnya, menerapkan weight concept pada sebagian rute, tetapi menggunakan pendekatan berbeda untuk rute tertentu seperti Amerika dan Afrika. Air France dan KLM bahkan telah mengimplementasikan piece concept untuk seluruh rute penerbangannya terhitung sejak tahun 2010.
Di Asia Pasifik, Cathay Pacific telah mengubah kebijakan bagasinya dari weight concept menjadi piece concept sejak tahun 2016 yang kemudian diikuti oleh beberapa maskapai di Asia Tenggara seperti Vietnam Airlines (2019) dan Thai Airways (2026) dengan mencantumkan pengaturan berbasis piece concept pada sejumlah ketentuan bagasinya, termasuk pembatasan berat per koper.
Praktik ini menunjukkan bahwa hingga saat ini memang tidak ada satu model tunggal yang berlaku untuk semua pasar. Namun, arahnya semakin jelas: maskapai global berupaya membuat aturan bagasi lebih terstruktur, lebih mudah dibandingkan, dan lebih sesuai dengan karakter perjalanan penumpang di tiap rute. Baca juga: Arus Mudik 2026 di Bandara Soetta, 191 Ribu Penumpang Pesawat Diterbangkan ke Kampung Halaman
Bagi traveler modern, standar seperti ini menjadi penting karena perjalanan hari ini semakin terhubung. Satu penumpang bisa membeli satu tiket yang melibatkan beberapa maskapai, transit di beberapa bandara, dan membawa barang untuk kebutuhan yang berbeda-beda.
Dalam situasi seperti itu, pada akhirnya aturan bagasi yang jelas bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal mengurangi ketidakpastian. Semakin mudah penumpang memahami berapa koper yang dapat dibawa, berapa batas berat masing-masing koper, dan bagaimana aturan itu berlaku sejak awal perjalanan, semakin besar pula rasa percaya diri mereka saat bepergian.
(poe)
Lihat Juga :