Kesepakatan Damai Batal! AS Gempur Balik Iran, Harga Minyak Ngamuk Lagi
Kamis, 09 Juli 2026 - 08:45 WIB
loading...
Serangan militer udara besar-besaran oleh militer Amerika Serikat ke sejumlah wilayah vital di Iran membuat harga minyak mentah dunia yang sempat ambruk langsung berbalik arah. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah kembali meledak ke titik paling kritis. Hanya berselang beberapa hari setelah rumor gencatan senjata membawa angin segar, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa kesepakatan damai dengan Iran telah resmi berakhir alias batal.
Pernyataan keras ini langsung diikuti dengan serangan militer udara besar-besaran oleh militer Amerika Serikat ke sejumlah wilayah vital di Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat. Akibatnya, harga minyak mentah dunia yang sempat ambruk langsung berbalik arah dan melonjak drastis lebih dari satu dolar per barel dalam hitungan jam.
Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Media lokal Iran melaporkan rentetan ledakan dahsyat terdengar mengguncang sejumlah titik strategis, termasuk Bandar Abbas (Kota pelabuhan utama Iran), Pulau Abu Musa, hingga di Bushehr (Lokasi instalasi nuklir dan energi penting).
Eskalasi ini dipicu oleh aksi nekat Iran yang sebelumnya meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait, sebagai balasan atas dicabutnya kelonggaran sanksi minyak oleh Washington.
Baca Juga: Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Minyak mentah Brent meroket lebih dari 5% dan bertengger pada posisi USD79,28 per barel. Sedangkan minyak mentah WTI (AS) ikut terbang tinggi ke angka USD74,76 per barel.
"Perjanjian sementara untuk mengakhiri perang Iran sudah berakhir," tegas Donald Trump kepada awak media, meski dirinya mengklaim tetap berupaya menghindari pecahnya perang terbuka berskala penuh (full-fledged war).
Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan seperlima (20%) total pasokan minyak bumi global. Kontrol ketat Teheran atas selat ini menjadi kartu as yang membuat pasar keuangan internasional selalu bergetar setiap kali tensi meninggi.
Bagi konsumen global, termasuk di Indonesia, eskalasi terbaru ini menjadi alarm darurat. Jika gempuran AS terus berlanjut dan memicu aksi balasan yang lebih ekstrem dari Iran, siap-siap saja melihat harga minyak kembali terbang ke level USD100/barel dan memicu inflasi jilid dua.
Pernyataan keras ini langsung diikuti dengan serangan militer udara besar-besaran oleh militer Amerika Serikat ke sejumlah wilayah vital di Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat. Akibatnya, harga minyak mentah dunia yang sempat ambruk langsung berbalik arah dan melonjak drastis lebih dari satu dolar per barel dalam hitungan jam.
Rudal AS Hantam Iran: Ledakan Guncang Pesisir Pantai
Komando Sentral (CENTCOM) militer Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan gelombang serangan udara baru yang diklaim jauh lebih masif ketimbang operasi militer hari sebelumnya. Target utama AS adalah merontokkan pertahanan Iran guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka untuk jalur perdagangan internasional.Baca Juga: Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Media lokal Iran melaporkan rentetan ledakan dahsyat terdengar mengguncang sejumlah titik strategis, termasuk Bandar Abbas (Kota pelabuhan utama Iran), Pulau Abu Musa, hingga di Bushehr (Lokasi instalasi nuklir dan energi penting).
Eskalasi ini dipicu oleh aksi nekat Iran yang sebelumnya meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait, sebagai balasan atas dicabutnya kelonggaran sanksi minyak oleh Washington.
Harga Minyak Dunia Langsung Meroket 5% Lebih
Kepanikan langsung menjalar ke bursa komoditas Wall Street. Setelah sempat nyaman di kisaran USD68 per barel awal pekan ini, harga minyak mentah langsung mengamuk.Baca Juga: Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Minyak mentah Brent meroket lebih dari 5% dan bertengger pada posisi USD79,28 per barel. Sedangkan minyak mentah WTI (AS) ikut terbang tinggi ke angka USD74,76 per barel.
"Perjanjian sementara untuk mengakhiri perang Iran sudah berakhir," tegas Donald Trump kepada awak media, meski dirinya mengklaim tetap berupaya menghindari pecahnya perang terbuka berskala penuh (full-fledged war).
Status Selat Hormuz Masuk Level Severe (Sangat Berbahaya)
Akibat serangan balasan dan ancaman sabotase, otoritas maritim internasional resmi menaikkan status risiko bagi kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz menjadi "Severe" (Sangat Berbahaya). Kebijakan ini diambil setelah dua kapal tanker raksasa dilaporkan rusak parah akibat diserang pada perdagangan Selasa kemarin.Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan seperlima (20%) total pasokan minyak bumi global. Kontrol ketat Teheran atas selat ini menjadi kartu as yang membuat pasar keuangan internasional selalu bergetar setiap kali tensi meninggi.
Bagi konsumen global, termasuk di Indonesia, eskalasi terbaru ini menjadi alarm darurat. Jika gempuran AS terus berlanjut dan memicu aksi balasan yang lebih ekstrem dari Iran, siap-siap saja melihat harga minyak kembali terbang ke level USD100/barel dan memicu inflasi jilid dua.
(akr)
Lihat Juga :