Jalur Ini Lebih Berbahaya jika Ditutup Iran, Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Rabu, 15 Juli 2026 - 09:14 WIB
loading...
Kapal Epaminondas terlihat saat disita IRGC di Selat Hormuz, Iran pada 24 April 2026. FOTO/Reuters
A
A
A
BEIRUT - Iran mengirimkan sinyal kuat untuk memainkan kartu paling berbahaya dengan memanfaatkan sekutu Houthi di Yaman guna menutup gerbang Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah setelah sebelumnya membatasi pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dinilai membuka front baru melawan Amerika Serikat (AS) sekaligus menempatkan dua jalur nadi energi paling vital di dunia dalam risiko besar akibat serangan yang terus meningkat.
"Jika situasi saat ini memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak bisa melonjak hingga USD200 per barel dalam guncangan yang sangat mengerikan," ujar Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Houthi (Ansarullah), Mohammed al-Farah, dalam laporannya kepada Press TV Iran, dikutip dari Reuters pada Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Al-Farah juga memperingatkan jika Washington terus menghasut Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Menurutnya, provokasi semacam itu sama sekali tidak akan pernah menguntungkan kepentingan AS di Timur Tengah.
Seiring dengan semakin dalamnya serangan balasan AS ke wilayah dalam Iran dan meningkatnya serangan Houthi, para analis menilai Teheran sedang memperluas cakupan konflik. Iran berupaya menekan Washington dengan menyebarkan ancaman terhadap perdagangan global dan pasokan energi hingga ke luar wilayah Teluk.
Pengamat Timur Tengah, Fawaz Gerges, menyatakan Teheran ingin menunjukkan kepada Washington mengenai kemampuan mereka dalam mengancam kedua jalur pelayaran tersebut secara bersamaan. Upaya ini berpotensi mengubah konflik bilateral menjadi tantangan besar bagi jalur laut yang menopang perdagangan energi global.
Ancaman dari Houthi ini digambarkan oleh Andreas Krieg, dosen senior di School of Security Studies King's College London, sebagai "pilihan nuklir" kedua bagi Iran setelah Selat Hormuz. Langkah ekstrem ini diperkirakan baru akan dikerahkan jika Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyimpulkan bahwa perang total sudah tidak dapat dihindari lagi.
Baca Juga: Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
Krieg menambahkan, apabila Washington mengintensifkan serangan terhadap infrastruktur kritis Iran, Teheran dipastikan merespons dengan menggunakan sekutunya di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb. Blokade ini diyakini akan memperparah guncangan ekonomi dunia yang sebelumnya telah terdampak oleh situasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, menyatakan negara-negara Teluk kian percaya bahwa upaya diplomasi dengan Iran telah mencapai batas. Kendati demikian, kelompok Houthi dinilai kecil kemungkinan akan mengambil langkah eskalasi massal tanpa adanya arahan yang jelas dari Teheran.
Perang yang dipicu AS dan Israel sejak akhir Februari ini telah menstabilkan ketidakamanan di Teluk serta meluas ke berbagai negara melalui serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS. Hingga saat ini, konflik tersebut telah merenggut ribuan korban jiwa yang sebagian besar tersebar di wilayah Iran dan Lebanon.
"Jika situasi saat ini memburuk, Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan ditutup dalam sebuah aliansi operasional. Harga minyak bisa melonjak hingga USD200 per barel dalam guncangan yang sangat mengerikan," ujar Anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Houthi (Ansarullah), Mohammed al-Farah, dalam laporannya kepada Press TV Iran, dikutip dari Reuters pada Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Al-Farah juga memperingatkan jika Washington terus menghasut Arab Saudi untuk menyerang Yaman. Menurutnya, provokasi semacam itu sama sekali tidak akan pernah menguntungkan kepentingan AS di Timur Tengah.
Seiring dengan semakin dalamnya serangan balasan AS ke wilayah dalam Iran dan meningkatnya serangan Houthi, para analis menilai Teheran sedang memperluas cakupan konflik. Iran berupaya menekan Washington dengan menyebarkan ancaman terhadap perdagangan global dan pasokan energi hingga ke luar wilayah Teluk.
Pengamat Timur Tengah, Fawaz Gerges, menyatakan Teheran ingin menunjukkan kepada Washington mengenai kemampuan mereka dalam mengancam kedua jalur pelayaran tersebut secara bersamaan. Upaya ini berpotensi mengubah konflik bilateral menjadi tantangan besar bagi jalur laut yang menopang perdagangan energi global.
Ancaman dari Houthi ini digambarkan oleh Andreas Krieg, dosen senior di School of Security Studies King's College London, sebagai "pilihan nuklir" kedua bagi Iran setelah Selat Hormuz. Langkah ekstrem ini diperkirakan baru akan dikerahkan jika Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyimpulkan bahwa perang total sudah tidak dapat dihindari lagi.
Baca Juga: Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
Krieg menambahkan, apabila Washington mengintensifkan serangan terhadap infrastruktur kritis Iran, Teheran dipastikan merespons dengan menggunakan sekutunya di Yaman untuk menutup Bab el-Mandeb. Blokade ini diyakini akan memperparah guncangan ekonomi dunia yang sebelumnya telah terdampak oleh situasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, Ketua Gulf Research Center yang berbasis di Arab Saudi, Abdulaziz Sager, menyatakan negara-negara Teluk kian percaya bahwa upaya diplomasi dengan Iran telah mencapai batas. Kendati demikian, kelompok Houthi dinilai kecil kemungkinan akan mengambil langkah eskalasi massal tanpa adanya arahan yang jelas dari Teheran.
Perang yang dipicu AS dan Israel sejak akhir Februari ini telah menstabilkan ketidakamanan di Teluk serta meluas ke berbagai negara melalui serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS. Hingga saat ini, konflik tersebut telah merenggut ribuan korban jiwa yang sebagian besar tersebar di wilayah Iran dan Lebanon.
(nng)
Lihat Juga :