Krisis Selat Hormuz, Bos IEA Wanti-wanti Ekonomi Global dalam Bahaya
Jum'at, 17 Juli 2026 - 08:16 WIB
loading...
Asap hitam dan kobaran api terlihat dari cerobong pembakaran (flare) di kompleks kilang minyak dan gas saat proses operasi berlangsung. FOTO/Shutterstock
A
A
A
COLORADO - Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) Fatih Birol memperingatkan ekonomi global menghadapi ancaman serius apabila konflik yang mengganggu pelayaran di Selat Hormuz tidak segera diselesaikan dalam beberapa pekan ke depan. Gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut dinilai berpotensi menghambat pasokan minyak, gas alam, pupuk, dan berbagai komoditas penting dunia.
"Pasar sedang gelisah dan menghadapi ketidakpastian yang besar," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam wawancara di sela-sela Aspen Security Forum di Colorado, AS dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Wapres AS Vance Tuding Para Pejabat Israel Berusaha Perpanjang Perang Iran: Pergi ke Neraka
Birol mengatakan eskalasi serangan antara AS dan Iran telah meningkatkan risiko terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Dalam sepekan terakhir, lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan menurun tajam setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan dan AS kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman dari Iran.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia. Pengiriman minyak Arab Saudi melalui Teluk Persia dilaporkan merosot setelah serangan terhadap kapal tanker berukuran besar, sementara Organisasi Maritim Internasional (IMO) menilai Selat Hormuz masih terlalu berbahaya untuk dilintasi kapal-kapal komersial.
"Jika Selat Hormuz tetap ditutup, kita akan kembali menghadapi kesulitan bagi perekonomian global, termasuk negara-negara di kawasan, negara berkembang, dan Asia. Ini bukan persoalan berbulan-bulan, tetapi hitungan minggu. Selat Hormuz harus dibuka sepenuhnya tanpa syarat," ujar Birol.
Baca Juga: Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Menurut Birol, gangguan distribusi energi dari Teluk Persia telah memengaruhi sejumlah negara pengimpor energi seperti Korea Selatan dan Jepang. Namun, negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Pakistan, dan India dinilai jauh lebih rentan terhadap terhentinya pasokan energi karena ketergantungan yang lebih besar terhadap impor dari kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi lintasan bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan biaya logistik, dan memperburuk tekanan inflasi di berbagai negara.
Peringatan IEA muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Apabila konflik terus bereskalasi dan akses pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dipulihkan, dampaknya diperkirakan tidak hanya mengganggu pasar energi, tetapi juga mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi global.
"Pasar sedang gelisah dan menghadapi ketidakpastian yang besar," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam wawancara di sela-sela Aspen Security Forum di Colorado, AS dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Wapres AS Vance Tuding Para Pejabat Israel Berusaha Perpanjang Perang Iran: Pergi ke Neraka
Birol mengatakan eskalasi serangan antara AS dan Iran telah meningkatkan risiko terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Dalam sepekan terakhir, lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan menurun tajam setelah sejumlah kapal menjadi sasaran serangan dan AS kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman dari Iran.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia. Pengiriman minyak Arab Saudi melalui Teluk Persia dilaporkan merosot setelah serangan terhadap kapal tanker berukuran besar, sementara Organisasi Maritim Internasional (IMO) menilai Selat Hormuz masih terlalu berbahaya untuk dilintasi kapal-kapal komersial.
"Jika Selat Hormuz tetap ditutup, kita akan kembali menghadapi kesulitan bagi perekonomian global, termasuk negara-negara di kawasan, negara berkembang, dan Asia. Ini bukan persoalan berbulan-bulan, tetapi hitungan minggu. Selat Hormuz harus dibuka sepenuhnya tanpa syarat," ujar Birol.
Baca Juga: Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Menurut Birol, gangguan distribusi energi dari Teluk Persia telah memengaruhi sejumlah negara pengimpor energi seperti Korea Selatan dan Jepang. Namun, negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Pakistan, dan India dinilai jauh lebih rentan terhadap terhentinya pasokan energi karena ketergantungan yang lebih besar terhadap impor dari kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi lintasan bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan biaya logistik, dan memperburuk tekanan inflasi di berbagai negara.
Peringatan IEA muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Apabila konflik terus bereskalasi dan akses pelayaran di Selat Hormuz tidak segera dipulihkan, dampaknya diperkirakan tidak hanya mengganggu pasar energi, tetapi juga mengancam stabilitas pertumbuhan ekonomi global.
(nng)
Lihat Juga :