S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
Jum'at, 17 Juli 2026 - 23:58 WIB
loading...
A
A
A
Padahal, Fuad mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang terjadi hari ini bukanlah monopoli Indonesia. Seluruh negara di dunia saat ini sedang menghadapi badai dan masalah geopolitik-ekonomi yang kurang lebih identik.
"Lihat saja, ada orang yang kayanya luar biasa, lalu tambah kaya secara radikal. Tapi kalau kita baca profil pajak pribadi mereka, kayaknya biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol. Ini yang harus dibenahi melalui langkah intensifikasi," jelas Fuad.
Ia juga membongkar trik para eksportir nakal yang enggan memarkir Devisa Hasil Ekspor (DHE) mereka di perbankan dalam negeri. Melalui perbaikan administrasi, pemerintah harus memaksa dana tersebut pulang ke tanah air.
"Harus dibenahi supaya devisa ekspor bisa kembali ke kita. Selama ini, kalau devisa selalu ditaruh di luar negeri, mereka kalau ditanya alasannya macam-macam saja. Alasan mereka pintar, tapi itu sebenarnya bohong aja," pungkasnya.
Dengan kondisi APBN yang sehat di bawah pengawasan ketat S&P, komitmen menekan utang, serta ketegasan menarik pulang devisa yang menguap, Fuad optimistis fondasi ekonomi Indonesia akan kembali kokoh dan bersiap lepas landas dalam satu semester ke depan.
3 Pilar Fiskal: Stop Utang Baru dan Bongkar Siasat Ekspor Culas
Untuk memastikan momentum kebangkitan ekonomi dalam 6 bulan ke depan berjalan mulus, Fuad Bawazier membedah tiga pilar utama dalam postur fiskal (APBN) yang wajib dikelola dengan tegas oleh pemerintah.1. Setop Utang Baru: Diingatkan Tetap Bandel!
Fuad secara terang-terangan meminta pemerintah untuk mengerem penambahan utang luar negeri. "Saya terus terang tidak menyarankan mengambil utang lagi. Bagaimanapun juga utang itu memberatkan ekonomi kita, baik sekarang maupun masa depan. Bikin makin berat, makin terpuruk. Dari dulu sudah diingatkan, tapi pada bandel. Jadi kalau bisa, hindari utang," tegasnya.2. Pengawas Ketat Pengeluaran
Dari sisi belanja negara, Fuad mengapresiasi tingginya tingkat pengawasan di Indonesia. Menurutnya, politic spending atau belanja pemerintah saat ini sudah jauh lebih terkontrol karena "pelototan" berlapis dari elemen masyarakat, media massa, hingga aparat penegak hukum yang siap bersuara jika ada kejanggalan.3. Sektor Penerimaan: Kejar Pajak Crazy Rich & Tarik Pulang Devisa
Ini adalah titik paling krusial. Fuad menyebut potensi penerimaan negara Indonesia sebetulnya sangat masif, namun sektor pajaknya masih tergolong lemah dan luput dari sorotan masyarakat."Lihat saja, ada orang yang kayanya luar biasa, lalu tambah kaya secara radikal. Tapi kalau kita baca profil pajak pribadi mereka, kayaknya biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol. Ini yang harus dibenahi melalui langkah intensifikasi," jelas Fuad.
Ia juga membongkar trik para eksportir nakal yang enggan memarkir Devisa Hasil Ekspor (DHE) mereka di perbankan dalam negeri. Melalui perbaikan administrasi, pemerintah harus memaksa dana tersebut pulang ke tanah air.
"Harus dibenahi supaya devisa ekspor bisa kembali ke kita. Selama ini, kalau devisa selalu ditaruh di luar negeri, mereka kalau ditanya alasannya macam-macam saja. Alasan mereka pintar, tapi itu sebenarnya bohong aja," pungkasnya.
Dengan kondisi APBN yang sehat di bawah pengawasan ketat S&P, komitmen menekan utang, serta ketegasan menarik pulang devisa yang menguap, Fuad optimistis fondasi ekonomi Indonesia akan kembali kokoh dan bersiap lepas landas dalam satu semester ke depan.
(akr)
Lihat Juga :