Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
Senin, 20 Juli 2026 - 21:58 WIB
loading...
Pertamina diyakini mampu berperan besar dalam proyek LNG kelas dunia, Blok Masela. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Keterlibatan Pertamina melalui Sub Holding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam proyek LNG kelas dunia , Blok Masela diyakini menjadi angin segar yang sangat menguntungkan kas negara. Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo optismistis, Pertamina mampu berperan besar.
Proyek ini sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan hak partisipasi sebesar 20% pada tahun 2023.
Keikutsertaan Pertamina memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari Pemerintah pada November 2023. “PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional,” kata Sartono kepada media.
Baca Juga: Blok Masela Ditargetkan Produksi 2029, Alokasi Gas Domestik Capai 60%
Menurut Sartono, kehadiran PHE di Blok Masela memang harus menghasilkan nilai tambah, bukan sekadar kepemilikan saham. Karena itulah, kontribusi PHE yang memiliki hak partisipasi 20% di lapangan abadi tersebut juga harus terukur.
Pada fase konstruksi misalnya, Sartono menyebut, peran besar PHE antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, juga melalui keterlibatan industri nasional, transfer teknologi, dan pengendalian biaya proyek yang memiliki nilai investasi USD20,94 miliar tersebut.
Harapan besar Sartono terhadap peran PHE, juga karena memiliki SDM yang kompeten. Karena itu, diharapkan PHE mempunyai kemampuan mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.
Baca Juga: Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
Hanya saja Sartono mengingatkan, bahwa Blok Masela merupakan merupakan proyek LNG kelas dunia yang menuntut standar ESG dan daya saing komersial tinggi. Dalam kondisi demikian, lanjut dia, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memastikan proyek tetap kompetitif di pasar LNG global.
“Karena itu, penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci,” tegas Sartono.
Sartono menambahkan, dengan potensi cadangan gas mencapai 18,54 TCF dan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, Blok Masela diharapkan bisa memperkuat ketahanan energi, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian Timur.
“Kita tentu bangga. Namun, kebanggaan itu harus dibuktikan melalui manfaat nyata bagi rakyat, yaitu pasokan gas untuk industri dan kelistrikan dalam negeri. Bukan hanya keberhasilan membangun proyek atau meningkatkan ekspor LNG,” ujarnya.
Terpisah, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha juga menilai positif keterlibatan Pertamina melalui PHE dalam pengelolaan Blok Masela.
Selain berpotensi meningkatkan produksi migas nasional, lanjut dia, kebaradaan PHE di blok tersebut juga membuat Indonesia sangat diuntungkan karena mendapat double split atau pembagian produksi ganda. Pertama dari bagian untuk negara dan kedua dari PHE. “Jadi positif banget ini,” jelas Satya.
Karena itu Satya berharap, proyek ini bisa berjalan lancar. Terlebih, sebelum groundbreaking dilakukan, proyek sempat lama tertunda hingga 27 tahun. “Ya, kita doakan lancar. Karena kan sudah terlambat lama,” ucapnya.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku, Kamis (16/7). Peresmian itu menandai dimulainya fase baru pengembangan cadangan gas raksasa tersebut setelah sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela menyumbang penerimaan negara hingga 37,8 miliar dolar AS.
“Proyek Abadi Masela diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan, antara lain meningkatkan penerimaan negara dengan proyeksi pendapatan langsung sekitar 37,8 miliar dolar AS,” ujar Bahlil dalam acara Groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela yang digelar di Tanimbar, Maluku, Kamis.
Di sisi lain, kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar USD6,43 miliar. Lapangan gas dengan potensi cadangan mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar USD20,9 miliar atau setara Rp352 triliun.
Buatkan menjadi berita online yang menarik banyak pembaca dengan menggabungkan aspek jurnalistik, psikologi pembaca, dan teknik SEO. Disertai judul yang memicu rasa ingin tahu (curiosity gap), mengandung urgensi, atau emosi yang kuat.
Proyek ini sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan hak partisipasi sebesar 20% pada tahun 2023.
Keikutsertaan Pertamina memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari Pemerintah pada November 2023. “PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional,” kata Sartono kepada media.
Baca Juga: Blok Masela Ditargetkan Produksi 2029, Alokasi Gas Domestik Capai 60%
Menurut Sartono, kehadiran PHE di Blok Masela memang harus menghasilkan nilai tambah, bukan sekadar kepemilikan saham. Karena itulah, kontribusi PHE yang memiliki hak partisipasi 20% di lapangan abadi tersebut juga harus terukur.
Pada fase konstruksi misalnya, Sartono menyebut, peran besar PHE antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, juga melalui keterlibatan industri nasional, transfer teknologi, dan pengendalian biaya proyek yang memiliki nilai investasi USD20,94 miliar tersebut.
Harapan besar Sartono terhadap peran PHE, juga karena memiliki SDM yang kompeten. Karena itu, diharapkan PHE mempunyai kemampuan mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.
Baca Juga: Bahlil Sebut Kehadiran Blok Masela Mampu Dongkrak PDB Nasional hingga Rp2.477 Triliun
Hanya saja Sartono mengingatkan, bahwa Blok Masela merupakan merupakan proyek LNG kelas dunia yang menuntut standar ESG dan daya saing komersial tinggi. Dalam kondisi demikian, lanjut dia, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memastikan proyek tetap kompetitif di pasar LNG global.
“Karena itu, penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci,” tegas Sartono.
Sartono menambahkan, dengan potensi cadangan gas mencapai 18,54 TCF dan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, Blok Masela diharapkan bisa memperkuat ketahanan energi, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian Timur.
“Kita tentu bangga. Namun, kebanggaan itu harus dibuktikan melalui manfaat nyata bagi rakyat, yaitu pasokan gas untuk industri dan kelistrikan dalam negeri. Bukan hanya keberhasilan membangun proyek atau meningkatkan ekspor LNG,” ujarnya.
Terpisah, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha juga menilai positif keterlibatan Pertamina melalui PHE dalam pengelolaan Blok Masela.
Selain berpotensi meningkatkan produksi migas nasional, lanjut dia, kebaradaan PHE di blok tersebut juga membuat Indonesia sangat diuntungkan karena mendapat double split atau pembagian produksi ganda. Pertama dari bagian untuk negara dan kedua dari PHE. “Jadi positif banget ini,” jelas Satya.
Karena itu Satya berharap, proyek ini bisa berjalan lancar. Terlebih, sebelum groundbreaking dilakukan, proyek sempat lama tertunda hingga 27 tahun. “Ya, kita doakan lancar. Karena kan sudah terlambat lama,” ucapnya.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku, Kamis (16/7). Peresmian itu menandai dimulainya fase baru pengembangan cadangan gas raksasa tersebut setelah sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela menyumbang penerimaan negara hingga 37,8 miliar dolar AS.
“Proyek Abadi Masela diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan, antara lain meningkatkan penerimaan negara dengan proyeksi pendapatan langsung sekitar 37,8 miliar dolar AS,” ujar Bahlil dalam acara Groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela yang digelar di Tanimbar, Maluku, Kamis.
Di sisi lain, kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar USD6,43 miliar. Lapangan gas dengan potensi cadangan mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar USD20,9 miliar atau setara Rp352 triliun.
Buatkan menjadi berita online yang menarik banyak pembaca dengan menggabungkan aspek jurnalistik, psikologi pembaca, dan teknik SEO. Disertai judul yang memicu rasa ingin tahu (curiosity gap), mengandung urgensi, atau emosi yang kuat.
(akr)
Lihat Juga :