Ancaman Blokade Laut Merah, Asia Nego Arab Saudi Alihkan Rute Tanker Minyak ke Afrika
Kamis, 23 Juli 2026 - 20:52 WIB
loading...
Kapal-kapal melintasi Terusan Suez, di Ismailia, Mesir, 31 Juli 2025. FOTO/Reuters
A
A
A
HOUSTON - Kilang-kilang minyak di Asia meminta Arab Saudi mengalihkan rute pengiriman minyak mentah melalui Terusan Suez dan mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam memberlakukan blokade Laut Merah. Perubahan jalur tersebut diperkirakan memperpanjang waktu pengiriman hingga empat pekan sekaligus meningkatkan biaya angkut dan bahan bakar.
"Perubahan pola pelayaran kapal tanker menunjukkan bahwa mereka menganggap ancaman tersebut serius," ujar Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith dikutip dari Reuters, Kamis (23/7/2026).
Pengalihan rute ini merupakan dampak terbaru dari konflik AS-Israel dengan Iran yang telah mengganggu pasokan minyak global. Kondisi tersebut memaksa kilang-kilang di Asia mencari sumber pasokan alternatif maupun menyesuaikan jalur distribusi untuk menjaga kelancaran pasokan energi.
Baca Juga: AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Data pelacakan kapal dari LSEG dan Kpler menunjukkan dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah pada Selasa (21/7), setelah muncul ancaman dari kelompok Houthi. Pada saat yang sama, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz juga kembali menurun.
Analis memproyeksikan pengiriman minyak dari Pelabuhan Yanbu di Laut Merah menuju Asia melalui Terusan Suez dan memutari Tanjung Harapan di Afrika membutuhkan tambahan waktu hingga empat minggu dibandingkan rute normal menuju Laut Arab. Jalur yang lebih panjang tersebut diperkirakan meningkatkan biaya logistik dan operasional pengiriman.
Salah satu kapal berbendera Liberia, Rodos, yang memuat minyak mentah di Yanbu untuk dikirim ke pantai barat India, tercatat mengubah haluan ke arah barat menuju Terusan Suez. Sementara itu, kilang asal Korea Selatan, Hyundai Oilbank, dikabarkan mencari kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dapat mengangkut minyak dari Yanbu dengan opsi melewati Terusan Suez dan memanfaatkan jaringan pipa SUMED di Mesir sebelum melanjutkan pelayaran ke Korea Selatan.
Baca Juga: Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Penggunaan jaringan pipa SUMED diperlukan karena kapal tanker VLCC yang bermuatan penuh tidak dapat melintasi Terusan Suez akibat keterbatasan kedalaman kanal. Sebagian muatan minyak dipindahkan melalui pipa SUMED yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania, kemudian dimuat kembali setelah kapal berhasil melewati Terusan Suez.
Menurut Matt Smith, gangguan dari Houthi terjadi pada saat yang sensitif bagi Arab Saudi. Pasalnya, volume ekspor minyak mentah dan produk minyak Arab Saudi yang melintasi Selat Bab el-Mandeb mencapai rekor lebih dari 4 juta barel per hari pada bulan lalu, sehingga setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi global dan meningkatkan biaya perdagangan minyak.
"Perubahan pola pelayaran kapal tanker menunjukkan bahwa mereka menganggap ancaman tersebut serius," ujar Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith dikutip dari Reuters, Kamis (23/7/2026).
Pengalihan rute ini merupakan dampak terbaru dari konflik AS-Israel dengan Iran yang telah mengganggu pasokan minyak global. Kondisi tersebut memaksa kilang-kilang di Asia mencari sumber pasokan alternatif maupun menyesuaikan jalur distribusi untuk menjaga kelancaran pasokan energi.
Baca Juga: AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Data pelacakan kapal dari LSEG dan Kpler menunjukkan dua kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah pada Selasa (21/7), setelah muncul ancaman dari kelompok Houthi. Pada saat yang sama, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz juga kembali menurun.
Analis memproyeksikan pengiriman minyak dari Pelabuhan Yanbu di Laut Merah menuju Asia melalui Terusan Suez dan memutari Tanjung Harapan di Afrika membutuhkan tambahan waktu hingga empat minggu dibandingkan rute normal menuju Laut Arab. Jalur yang lebih panjang tersebut diperkirakan meningkatkan biaya logistik dan operasional pengiriman.
Salah satu kapal berbendera Liberia, Rodos, yang memuat minyak mentah di Yanbu untuk dikirim ke pantai barat India, tercatat mengubah haluan ke arah barat menuju Terusan Suez. Sementara itu, kilang asal Korea Selatan, Hyundai Oilbank, dikabarkan mencari kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dapat mengangkut minyak dari Yanbu dengan opsi melewati Terusan Suez dan memanfaatkan jaringan pipa SUMED di Mesir sebelum melanjutkan pelayaran ke Korea Selatan.
Baca Juga: Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Penggunaan jaringan pipa SUMED diperlukan karena kapal tanker VLCC yang bermuatan penuh tidak dapat melintasi Terusan Suez akibat keterbatasan kedalaman kanal. Sebagian muatan minyak dipindahkan melalui pipa SUMED yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania, kemudian dimuat kembali setelah kapal berhasil melewati Terusan Suez.
Menurut Matt Smith, gangguan dari Houthi terjadi pada saat yang sensitif bagi Arab Saudi. Pasalnya, volume ekspor minyak mentah dan produk minyak Arab Saudi yang melintasi Selat Bab el-Mandeb mencapai rekor lebih dari 4 juta barel per hari pada bulan lalu, sehingga setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi global dan meningkatkan biaya perdagangan minyak.
(nng)
Lihat Juga :