Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Jum'at, 24 Juli 2026 - 17:19 WIB
loading...
Sejumlah pengendara motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (10/6/2026). FOTO/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah sedang menyiapkan sejumlah skenario Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mengantisipasi dampak lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level USD100 per barel. Di tengah kenaikan harga energi global tersebut, pemerintah memastikan alokasi subsidi energi tetap dipertahankan sehingga harga Bbahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite tidak mengalami kenaikan.
"Kalau yang subsidi (energi) akan kita jaga terus. Cuma kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, kan satu saja atau lebih jadi bagaimana kita anggarannya? Jadi kita sedang hitung," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Purbaya mengatakan penyusunan berbagai simulasi tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo dalam rapat kabinet sebagai langkah antisipasi terhadap volatilitas harga minyak global. Hasil simulasi akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal apabila tren kenaikan harga minyak berlanjut dan berpotensi membebani APBN.
Menurut dia, pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan subsidi energi agar masyarakat tetap terlindungi dari gejolak harga minyak dunia. Meski demikian, pemerintah tetap menghitung berbagai kemungkinan perubahan asumsi harga minyak guna memastikan ruang fiskal tetap terjaga.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan seiring penguatan harga minyak mentah di pasar internasional. Hingga pukul 14.15 WIB pada Jumat, harga minyak mentah Brent kontrak September 2026 berada di level USD98,91 per barel setelah pada sesi sebelumnya sempat menembus USD100,69 per barel.
Baca Juga: Kendalikan Konsumsi BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mendidih, Purbaya Sebut Kuota Tetap
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September 2026 berada di level USD90,5 per barel, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup di posisi USD92,19 per barel. Kenaikan harga minyak dipengaruhi ketidakpastian pasokan dan dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar energi global.
"Kalau yang subsidi (energi) akan kita jaga terus. Cuma kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, kan satu saja atau lebih jadi bagaimana kita anggarannya? Jadi kita sedang hitung," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Purbaya mengatakan penyusunan berbagai simulasi tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo dalam rapat kabinet sebagai langkah antisipasi terhadap volatilitas harga minyak global. Hasil simulasi akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal apabila tren kenaikan harga minyak berlanjut dan berpotensi membebani APBN.
Menurut dia, pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan subsidi energi agar masyarakat tetap terlindungi dari gejolak harga minyak dunia. Meski demikian, pemerintah tetap menghitung berbagai kemungkinan perubahan asumsi harga minyak guna memastikan ruang fiskal tetap terjaga.
Langkah antisipatif tersebut dilakukan seiring penguatan harga minyak mentah di pasar internasional. Hingga pukul 14.15 WIB pada Jumat, harga minyak mentah Brent kontrak September 2026 berada di level USD98,91 per barel setelah pada sesi sebelumnya sempat menembus USD100,69 per barel.
Baca Juga: Kendalikan Konsumsi BBM Subsidi saat Harga Minyak Dunia Mendidih, Purbaya Sebut Kuota Tetap
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September 2026 berada di level USD90,5 per barel, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup di posisi USD92,19 per barel. Kenaikan harga minyak dipengaruhi ketidakpastian pasokan dan dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar energi global.
(nng)
Lihat Juga :