Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF

Jum'at, 24 Juli 2026 - 18:25 WIB
loading...
Bitcoin Kembali ke Level...
Harga Bitcoin kembali ke posisi tertinggi dalam sekitar lima pekan terakhir didorong membaiknya sentimen pasar aset kripto. FOTO/iStock Photo
A A A
JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) kembali menembus level USD65.500 atau ke posisi tertinggi dalam sekitar lima pekan terakhir didorong membaiknya sentimen pasar aset kripto. Penguatan tersebut juga diikuti kenaikan sejumlah aset digital berkapitalisasi besar di tengah optimisme terhadap perkembangan regulasi, arus dana investor institusi, dan perhatian pelaku pasar terhadap agenda ekonomi global.

"Penguatan yang terjadi tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga mulai diikuti oleh sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif mulai dirasakan oleh pasar secara lebih luas. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan," ujar Chief Marketing Officer (CMO) Indodax Aloysia Dian seperti dikutip pada Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru

Aloysia mengatakan pergerakan pasar saat ini mencerminkan semakin matangnya industri aset kripto, di mana pembentukan harga tidak lagi hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek, tetapi juga berbagai faktor fundamental seperti kebijakan ekonomi, perkembangan regulasi, serta meningkatnya partisipasi investor institusi.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama turut menguat, di antaranya Ethereum (ETH) yang diperdagangkan di kisaran USD1.880, XRP sekitar USD1,11, dan Solana (SOL) di level USD75,80. Menurut Aloysia, penguatan yang terjadi secara merata menunjukkan sentimen positif mulai meluas ke pasar aset kripto secara keseluruhan.


Ia menambahkan, salah satu faktor yang menopang optimisme pasar adalah semakin jelasnya arah pembahasan regulasi aset kripto di Amerika Serikat (AS). Perkembangan pembahasan CLARITY Act dinilai memberi kepastian hukum yang lebih baik bagi industri, sekaligus berpotensi meningkatkan kepercayaan investor dan memperluas partisipasi investor institusi dalam jangka panjang.

Di sisi lain, minat investor institusi terhadap Bitcoin masih terjaga. Berdasarkan data SoSoValue, Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat mencatat arus dana bersih (net inflow) sekitar USD430 juta dalam dua hari perdagangan pada 20–21 Juli. Arus dana tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap eksposur Bitcoin masih cukup kuat meski bukan satu-satunya faktor penentu harga.

Baca Juga: Inflasi AS Turun Jadi 3,5%, Bitcoin dan Ethereum Berpeluang Menguat

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi global dalam waktu dekat, antara lain keputusan suku bunga Federal Reserve serta musim laporan keuangan perusahaan teknologi besar di AS seperti Alphabet, Tesla, dan Intel. Kinerja emiten tersebut diperkirakan dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto, mengingat korelasi Bitcoin dengan saham sektor teknologi dalam beberapa waktu terakhir.

Aloysia mengingatkan bahwa pasar aset kripto kini semakin terintegrasi dengan dinamika pasar keuangan global sehingga investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan investasi.

"Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang," ujarnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Trump Getok Tarif Impor...
Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes Keras
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
60 Negara Kena Getok...
60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Pengamat Hubungan Internasional:...
Pengamat Hubungan Internasional: Indonesia Perlu Cermati Dinamika Jelang Pilpres AS 2028
AS Tak Umumkan Serangan...
AS Tak Umumkan Serangan Udara ke Iran, Apakah Dikaitkan dengan Angka Sial?
Trump Tiba-tiba Ganti...
Trump Tiba-tiba Ganti Pesawat karena Takut Dibunuh usai KTT NATO di Turki
Rekomendasi
Sinopsis Terlanjur Mencintaimu...
Sinopsis 'Terlanjur Mencintaimu' Eps.23: Pengorbanan Elio Demi Menyelamatkan Arumi Harus Dibayar Mahal
Wamendagri: Indonesia...
Wamendagri: Indonesia Punya Satu Kesempatan Manfaatkan Bonus Demografi Menuju Negara Maju
Almarhum Juru Bicara...
Almarhum Juru Bicara IKN Troy Harold Yohanes Pantouw Dibawa ke Jakarta Besok
Berita Terkini
PLN EPI Perluas Kemitraan...
PLN EPI Perluas Kemitraan Global Bangun Rantai Pasok Hidrogen Hijau
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
PT Astra International...
PT Astra International Tbk: Dari Rumah Koran di Desa Sejahtera Astra Kanreapia Menjadi Sentra Sayuran di Sulawesi Selatan
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Majalengka dan Subang
Lepas dari Pertamina,...
Lepas dari Pertamina, Pelita Air Bakal Gabung di Bawah Garuda Indonesia
Ekonomi Restoratif Digagas...
Ekonomi Restoratif Digagas Jadi Jembatan Pembangunan Hijau Berkelanjutan
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved