Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Jum'at, 24 Juli 2026 - 19:31 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 27 poin atau 0,15% menjadi Rp17.963 per dolar AS pada perdagangan Jumat, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif impor baru AS, lonjakan harga minyak dunia, serta defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda.
"AS resmi memberlakukan tarif impor baru 10% dan 12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia usai berakhirnya tarif sementara 150 hari. Eskalasi militer juga meningkat setelah Houthi menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah yang direspons ancaman Trump ke Iran, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak akibat serangan drone Ukraina ke terminal Laut Hitam," ujar pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya pada Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.963 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.936 per dolar AS. Ibrahim menilai pelemahan tersebut dipicu meningkatnya proteksionisme perdagangan global, memanasnya ketegangan geopolitik di sektor energi, serta tekanan dari kondisi fundamental ekonomi domestik.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan di Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid sehingga memunculkan ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Klaim pengangguran awal AS secara tak terduga turun ke 187.000 yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan ini menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," ujarnya.
Baca Juga: Heboh! Sejumlah Artis Tagih Honor Miliaran Rupiah ke TV Swasta
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya kebutuhan impor energi nasional yang mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari di tengah harga minyak dunia yang masih berada di atas asumsi APBN-P sebesar USD83 per barel. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi.
Sentimen negatif juga datang dari defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar, yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Defisit terjadi setelah ekspor turun 5,73% menjadi USD23,2 miliar, sementara impor naik 22,16% menjadi USD24,81 miliar, terutama didorong peningkatan impor bahan baku dan barang modal.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan depan. Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.960-Rp18.020 per dolar AS pada awal pekan, sedangkan sepanjang pekan depan diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.880-Rp18.250 per dolar AS.
"AS resmi memberlakukan tarif impor baru 10% dan 12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia usai berakhirnya tarif sementara 150 hari. Eskalasi militer juga meningkat setelah Houthi menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah yang direspons ancaman Trump ke Iran, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak akibat serangan drone Ukraina ke terminal Laut Hitam," ujar pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya pada Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Pada penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.963 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.936 per dolar AS. Ibrahim menilai pelemahan tersebut dipicu meningkatnya proteksionisme perdagangan global, memanasnya ketegangan geopolitik di sektor energi, serta tekanan dari kondisi fundamental ekonomi domestik.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pasokan di Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid sehingga memunculkan ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Klaim pengangguran awal AS secara tak terduga turun ke 187.000 yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade, sehingga mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan ini menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," ujarnya.
Baca Juga: Heboh! Sejumlah Artis Tagih Honor Miliaran Rupiah ke TV Swasta
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya kebutuhan impor energi nasional yang mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari di tengah harga minyak dunia yang masih berada di atas asumsi APBN-P sebesar USD83 per barel. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi.
Sentimen negatif juga datang dari defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar, yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Defisit terjadi setelah ekspor turun 5,73% menjadi USD23,2 miliar, sementara impor naik 22,16% menjadi USD24,81 miliar, terutama didorong peningkatan impor bahan baku dan barang modal.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan depan. Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.960-Rp18.020 per dolar AS pada awal pekan, sedangkan sepanjang pekan depan diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.880-Rp18.250 per dolar AS.
(nng)
Lihat Juga :