Rupiah Tembus 18.009 per Dolar AS, Pasar Respons Negatif Mundurnya Bos BI

Senin, 27 Juli 2026 - 17:25 WIB
loading...
A A A
“Langkah itu dengan cepat dibalas. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan menangguhkan serangan balasan selama jeda AS tetap berlaku, meskipun kedua pihak telah memperingatkan bahwa mereka tetap siap untuk melanjutkan aksi militer jika pembicaraan gagal,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Menurut Ibrahim, investor juga mendapat dorongan dari laporan pada hari Jumat bahwa China sedang berupaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian yang macet antara Washington dan Teheran, meningkatkan harapan bahwa konflik dapat bergeser kembali ke arah negosiasi setelah berminggu-minggu peningkatan militer.

Meskipun jeda dalam serangan AS dan Iran menandai indikasi nyata pertama bahwa ketegangan mungkin mereda, bank tersebut memperingatkan bahwa hanya ada sedikit penjelasan dari Washington untuk penghentian tersebut dan memperingatkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih tahan lama.

Gangguan pengiriman membuat kekhawatiran pasokan tetap ada, meskipun permusuhan mereda, para pedagang tetap waspada karena gangguan pengiriman terus berlanjut. Jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari selama akhir pekan lebih sedikit, sementara lalu lintas melalui Selat Bab el-Mandeb juga melambat setelah serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi.

Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish. Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September, sementara pada pertemuan 28-29 Juli, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Efek Gubernur BI Mundur,...
Efek Gubernur BI Mundur, Rupiah Melemah ke Rp17.972 per Dolar AS
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%,  Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Secret Service hingga...
Secret Service hingga FBI Dilibatkan Uji Keaslian Dolar Sitaan Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Rekomendasi
BGN Larang Dapur MBG...
BGN Larang Dapur MBG Gunakan Elpiji 3 Kg, Minyakita dan Beras SPHP: Melanggar Ditutup Permanen!
Ancaman Radikalisme...
Ancaman Radikalisme Digital Meningkat, Pemda Diminta Jadi Garda Terdepan
Perang Ukraina Masuk...
Perang Ukraina Masuk ke Babak Baru, Pasokan Senjata Rusia ke Iran Terganggu
Berita Terkini
BPDP dan RPN Dorong...
BPDP dan RPN Dorong UMKM Jadi Penggerak Hilirisasi Pangan Berbasis Sawit
AS-Iran Mendadak Gencatan...
AS-Iran Mendadak Gencatan Senjata, Harga Minyak Merosot Tajam hingga 5%
Rights Issue, cashUP...
Rights Issue, cashUP Siapkan Modal Baru untuk Perluasan Ekosistem Merchant
PLN EPI Dorong Standardisasi...
PLN EPI Dorong Standardisasi Biomassa, Efisiensi Rantai Pasok Jadi Penentu
Pengusaha Minta Transisi...
Pengusaha Minta Transisi Gubernur BI Berjalan Transparan dan Kredibel
Prioritaskan Lingkungan,...
Prioritaskan Lingkungan, PT Dairi Prima Mineral Pilih Tambang Bawah Tanah
Infografis
Harga Emas Menggila,...
Harga Emas Menggila, Kini Tembus Rp1,9 Juta Per Gram
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved