BLT UMKM Memacu Pelaku Usaha Mandiri
Rabu, 23 September 2020 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Solusi pembiayaan untuk menjawab krisis dan bisa bangkit. Sebanyak 91,8% ingin mendapatkan pembiayaan yang tidak ada bunganya. “Pinjaman, tapi nol persen. Di bawah itu, 89 persen ingin ada hibah yang diberikan pemerintah. Apa yang dilakukan pemerintah dan Kemenkop ingin membekali usaha mikro bertahan di tengah pandemi,” tuturnya. (Baca juga: Kasus Corona Capai 4.000 per Hari, IDI Berikan Dua Solusi)
Riza menjelaskan, dalam rangka mengangkat kembali UMKM ada dua langkah yang dilakukan. Pertama, memperkuat pelaku UMKM yang sudah mempunyai akses ke perbankan (bankable). Bentuknya, restrukturisasi pinjaman dan insentif pajak. Kedua, memberikan bantuan kepada pelaku UMKM yang belum pernah meminjam atau tidak pernah mengakses perbankan.
“Ini kaitannya dengan bansos seperti Ibu Narsih. Saya kira itu untuk kebutuhan domestik. Di saat bersamaan, pemerintah mengeluarkan stimulus dalam bentuk banpres produktif. Presiden sudah mengalokasikan untuk 12 juta (orang). Ini diharapkan untuk UMKM bertahan dan bekal bertransformasi ke skema bankable,” paparnya.
Di masa pandemi ini, Kemenkop dan UMKM berusaha mengumpulkan dan menyempurnakan data pelaku UMKM. Saat ini ada sepuluh sumber data yang dijadikan rujukan dengan jumlah UMKM potensial untuk mendapatkan BLT sekitar 21 juta dari total 63 juta orang. Data ini menjadi modal kuat untuk mendorong UMKM yang lebih kuat di masa yang akan datang
Pelaku usaha akan dibantu mengenal lembaga pembiayaan, akses pasar, dan ekosistem digital. Kemenkop dan UMKM berusaha melakukan pendekatan yang komprehensif dari hulu hingga hilir. “Di hilir market-nya kami perluas, online dan offline. Kami bangun laman khusus UMKM di sejumlah e-commerce atau kerja sama dengan sejumlah BUMN dan LKPP untuk belanja prioritas produk UMKM,” ucapnya. (Baca juga: Duh! Pemerintah Tambah Sempoyongan Tanggung Beban Utang)
Pelatihan
BRI juga melakukan pemetaan kerentanan UMKM menghadapi Covid-19. Menurut Direktur Usaha Mikro BRI Supari, ada empat profil UMKM saat ini, yakni tidak mempunyai tabungan dan tidak ada pinjaman di lembaga keuangan formal; tidak punya tabungan, tetapi memiliki pinjaman; mempunyai tabungan dan pinjaman; dan mempunyai tabungan dan tidak ada pinjaman.
Riza menjelaskan, dalam rangka mengangkat kembali UMKM ada dua langkah yang dilakukan. Pertama, memperkuat pelaku UMKM yang sudah mempunyai akses ke perbankan (bankable). Bentuknya, restrukturisasi pinjaman dan insentif pajak. Kedua, memberikan bantuan kepada pelaku UMKM yang belum pernah meminjam atau tidak pernah mengakses perbankan.
“Ini kaitannya dengan bansos seperti Ibu Narsih. Saya kira itu untuk kebutuhan domestik. Di saat bersamaan, pemerintah mengeluarkan stimulus dalam bentuk banpres produktif. Presiden sudah mengalokasikan untuk 12 juta (orang). Ini diharapkan untuk UMKM bertahan dan bekal bertransformasi ke skema bankable,” paparnya.
Di masa pandemi ini, Kemenkop dan UMKM berusaha mengumpulkan dan menyempurnakan data pelaku UMKM. Saat ini ada sepuluh sumber data yang dijadikan rujukan dengan jumlah UMKM potensial untuk mendapatkan BLT sekitar 21 juta dari total 63 juta orang. Data ini menjadi modal kuat untuk mendorong UMKM yang lebih kuat di masa yang akan datang
Pelaku usaha akan dibantu mengenal lembaga pembiayaan, akses pasar, dan ekosistem digital. Kemenkop dan UMKM berusaha melakukan pendekatan yang komprehensif dari hulu hingga hilir. “Di hilir market-nya kami perluas, online dan offline. Kami bangun laman khusus UMKM di sejumlah e-commerce atau kerja sama dengan sejumlah BUMN dan LKPP untuk belanja prioritas produk UMKM,” ucapnya. (Baca juga: Duh! Pemerintah Tambah Sempoyongan Tanggung Beban Utang)
Pelatihan
BRI juga melakukan pemetaan kerentanan UMKM menghadapi Covid-19. Menurut Direktur Usaha Mikro BRI Supari, ada empat profil UMKM saat ini, yakni tidak mempunyai tabungan dan tidak ada pinjaman di lembaga keuangan formal; tidak punya tabungan, tetapi memiliki pinjaman; mempunyai tabungan dan pinjaman; dan mempunyai tabungan dan tidak ada pinjaman.
Lihat Juga :