14 BUMN Akan Dilikuidasi
Rabu, 30 September 2020 - 10:02 WIB
loading...
A
A
A
Untuk sektor pariwisata, Kementerian BUMN sudah membicarakan dengan Presiden Joko Widodo. Karena itu, dalam waktu yang tidak lama ini pembentukan holding BUMN aviasi dan pariwisata akan terealisasi. Hal yang sama pun berlaku bagi Pelindo.
Untuk kluster pangan, pemerintah menunjuk PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI perusahaan induk. Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha RNI Febriyanto mengatakan, pemegang saham menunjuk RNI sebagai ketua BUMN kluster pangan. Karena itu, pihaknya tengah berupaya agar holding BUMN pangan bisa terbentuk pada akhir tahun ini.
Dia berharap agar upaya tersebut dapat disetujui pemegang saham RNI dan pemerintah sehingga perseroan plat merah di sektor pangan dapat terakomodasi dalam satu kesatuan kluster pangan holding BUMN. (Baca juga: Si Pelupa Telat Datang Latihan)
“Jadi, kami ditunjuk oleh pemegang saham RNI sebagai ketua BUMN kluster pangan yang sekarang alhamdulillah sedang berproses untuk menjadi holding BUMN pangan. Mudah-mudahan pada akhir tahun ini paling lambat hal tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dan pemerintah untuk menjadi holding BUMN pangan,” ucap Febriyanto dalam webinar BUMN, Kamis (24/9).
Febriyanto merinci ada delapan BUMN pangan yang akan bergabung ke dalam kluster. Delapan perseroan itu di antaranya Perikanan Indonesia (Perindo) di budi daya ikan, layanan jasa di pelabuhan ikan dan pengolahan ikan, Berdikari pada peternakan dan logistik, serta Garam di industri garam.
Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang bergerak di perdagangan dalam negeri dan internasional, serta BGR Logistics yang akan mendukung sebagai logistik provider yang menghubungkan mata rantai dari pasok pangan dari hulu sampai hilir. (Lihat videonya: Habiskan 300 M, Proyek Kota Baru Lampung Kini Jadi Kota Mati)
Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, sebanyak 142 perusahaan BUMN akan digabungkan ke dalam 15 subholding yang ditangani dua wakil menteri (wamen) BUMN. Setiap wamen akan mengelola tujuh subholding. Satu subholding tersisa terdiri atas BUMN yang tidak sehat dan akan dievaluasi kembali apakah akan melakukan merger atau dilikuidasi. (Suparjo Ramalan)
Untuk kluster pangan, pemerintah menunjuk PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI perusahaan induk. Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha RNI Febriyanto mengatakan, pemegang saham menunjuk RNI sebagai ketua BUMN kluster pangan. Karena itu, pihaknya tengah berupaya agar holding BUMN pangan bisa terbentuk pada akhir tahun ini.
Dia berharap agar upaya tersebut dapat disetujui pemegang saham RNI dan pemerintah sehingga perseroan plat merah di sektor pangan dapat terakomodasi dalam satu kesatuan kluster pangan holding BUMN. (Baca juga: Si Pelupa Telat Datang Latihan)
“Jadi, kami ditunjuk oleh pemegang saham RNI sebagai ketua BUMN kluster pangan yang sekarang alhamdulillah sedang berproses untuk menjadi holding BUMN pangan. Mudah-mudahan pada akhir tahun ini paling lambat hal tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dan pemerintah untuk menjadi holding BUMN pangan,” ucap Febriyanto dalam webinar BUMN, Kamis (24/9).
Febriyanto merinci ada delapan BUMN pangan yang akan bergabung ke dalam kluster. Delapan perseroan itu di antaranya Perikanan Indonesia (Perindo) di budi daya ikan, layanan jasa di pelabuhan ikan dan pengolahan ikan, Berdikari pada peternakan dan logistik, serta Garam di industri garam.
Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang bergerak di perdagangan dalam negeri dan internasional, serta BGR Logistics yang akan mendukung sebagai logistik provider yang menghubungkan mata rantai dari pasok pangan dari hulu sampai hilir. (Lihat videonya: Habiskan 300 M, Proyek Kota Baru Lampung Kini Jadi Kota Mati)
Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, sebanyak 142 perusahaan BUMN akan digabungkan ke dalam 15 subholding yang ditangani dua wakil menteri (wamen) BUMN. Setiap wamen akan mengelola tujuh subholding. Satu subholding tersisa terdiri atas BUMN yang tidak sehat dan akan dievaluasi kembali apakah akan melakukan merger atau dilikuidasi. (Suparjo Ramalan)
(ysw)
Lihat Juga :