Petani Purworejo Dibekali Kemampuan Pertanian Cerdas Iklim

Rabu, 07 Oktober 2020 - 15:11 WIB
loading...
Petani Purworejo Dibekali...
Para petani di Purworejo mengikuti Training of Farmer (ToF) untuk mempelajari pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) yang merupakan bagian dari proyek SIMURP. Foto/Dok
A A A
PURWOREJO - Para petani di Purworejo mengikuti Training of Farmer (ToF) di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Gebang, Purworejo, 6 - 8 Oktober 2020, di Aula Kecmatan Gebang. Dalam kegiatan ini petani mempelajari pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) yang merupakan bagian dari proyek SIMURP.

Kegiatan yang menggunakan fasilitas World Bank (WB) dan Asian Investasi Infrastrucutre Bank (AIIB) ini, merupakan tindak lanjut dari Training of Trainer (TOT) CSA melalui Virtual Literasi yang diselenggarakan bulan Agustus.

(Baca Juga: Kebal dari Serangan Covid-19, Saatnya Berpaling ke Sektor Pertanian )

Pelatihan untuk petani di BPP Gebang diikuti 24 peserta dari dua kecamatan. Peserta dari Kecamatan Gebang sebanyak 8 orang, sedangkan dari Kecamatan Bayan sebanyak 16 orang. Kegiatan juga melibatkan petani milenial dan Kelompok wanita tani (KWT).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, berharap pelatihan CSA bisa berdampak positif pada peningkatan produksi pertanian. Agar ketersediaan pangan untuk masyarakat Indonesia mencukupi.

"Bila pangan tercukupi, maka masyarakat Indonesia tidak bermasalah dengan pangan. Ini juga sekaligus untuk ketahanan nasional," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nusyamsi menjelaskan, penerapan pertanian cerdas iklim sangat penting.

"Terutama penerapan teknologi hemat air, penggunaan pupuk organik, serta penerapan pertanian ramah lingkungan. Selain akan meningkatkan produksi dan kualitas komoditas pertanian, juga akan meringankan pemerintah dalam pemberian subsidi pupuk pada petani dan tentunya akan meningkatkan pendapatan petani sekaligus melestarikan lingkungan," ujarnya.

(Baca Juga: Ekspor Produk Pertanian Tak Goyah Dihantam Pandemi, Airlangga: Luar Biasa )

Metode pelatihan memberikan nilai tersendiri bagi peserta. Terlebih diikuti dengan praktek, seperti cara pembuatan pestisida nabati dan pupuk organik. Pelatihan dirasa sangat membantu petani selain ramah lingkungan dan mudah melakukannya.

Selama ini, petani hanya mengandalkan air dan pupuk serta pestisida kimia yang diyakini dapat meningkatkan hasil panennya secara cepat. Namun penggunaan air, pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan dan terus menerus akan memicu bertambahnya unsur gas rumah kaca (GRK CH4, N2O dan CO2).

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Purworejo Wasit Diono mengutarakan, limbah pertanian dan kotoran ternak jika tidak dikelola dengan baik akan menghasilkan gas rumah kaca.

"Ternyata dengan memanfaatkan limbah pertanian dan diolah menjadi pupuk organik dan pestisida nabati menggunakan bahan organik yang ada disekitar kita sebagai pupuk organik dan pestisida nabati. Sehingga penurunan emisi rumah kaca bisa ditekan seminim mungkin," ujarnya.

Salah seorang penyuluh kabupaten Turoso, yang juga alumni TOM SIMURP mengatakan, pelatihan ToF bisa mengubah perilaku petani. “Petani yang biasanya selalu tergantung dengan bahan kimia bisa beralih menggunakan bahan organik," katanya.

Dengan dukungan Koordinator Penyuluh BPP Gebang Rubingati, para peserta untuk memiliki komitmen terus menerus menyebarkan ilmu CSA ini ke petani di desa. Ini agar petani mau dan mampu menerapkan budidaya dengan sistem CSA yang diharapkan dapat meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP), produksi, produktivitas dan potensi menurunkan emisi gas rumah kaca.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
BRI Salurkan KUR Rp65,95...
BRI Salurkan KUR Rp65,95 Triliun, Jangkau 558.000 Petani dan 23.000 Nelayan
Garudafood dan Pemkab...
Garudafood dan Pemkab Sumedang Jalin Kemitraan Strategis Pengembangan Pertanian Kacang Tanah
Mahasiswa Indonesia-Thailand...
Mahasiswa Indonesia-Thailand Pelajari Rantai Pasok Kopi Jawa Lewat Short Course UNEJ
Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran:...
Relawan Tim 8 Prabowo-Gibran: Program Perhutanan Sosial Jangkau 2 Juta Keluarga Petani
Polinema Bantu Petani-UMKM...
Polinema Bantu Petani-UMKM Melon Blitar Go Digital dan Hemat Energi
Rekomendasi
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Biaya Operasional Tinggi,...
Biaya Operasional Tinggi, Gapasdap Minta Pemerintah Naikkan Tarif Angkutan Penyeberangan
Ketua Dewan Pers Komaruddin...
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Tekankan Sikap Kritis dan Konstruktif Media Massa
Berita Terkini
Perkuat Ekosistem Pendidikan,...
Perkuat Ekosistem Pendidikan, BTN Teken MoU Strategis dengan UNAIR
Brantas Abipraya Kebut...
Brantas Abipraya Kebut Penyelesaian Akhir Sekolah Rakyat Jabar II, DPR Optimistis Segera Operasional
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
Santai Seaplane Buka...
Santai Seaplane Buka Pangkalan di Banyuwangi, Perkuat Konektivitas Wisata Premium
IHSG Melesat 3,5 Persen,...
IHSG Melesat 3,5 Persen, Saham BUMN Jadi Motor Penguatan Bursa
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
Infografis
Inilah Kemampuan Roket...
Inilah Kemampuan Roket Fajr Iran yang Digunakan Hizbullah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved