Kementan Ajak Generasi Milenial Manfaatkan PWMP
Rabu, 06 Mei 2020 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
Stimulus modal sebesar Rp35 juta tersebut, cukup memantik nyali sarjana pertanian dari NTB ini untuk memulai usaha budidaya ternak ayam kampung. Ia mendatangkan DOC (Day Old Chicken) sebanyak 250 ekor ayam KUB dan 250 ekor ayam arab.
"Dalam 100 ekor ayam, dibutuhkan modal atau biaya sebesar Rp1,070 juta, termasuk bibit, pakan dan vaksin. Dipelihara selama 55 hari untuk ayam KUB dan 40 hari untuk ayam arab," ujar Sui penuh semangat.
Dengan membentuk kelompok usaha yang dinamakan "Sapoq Angen" bersama rekannya Iksan Wahyudi, Sui mulai merintis pola kemitraan Yarnen (bayar setelah panen) yang merupakan kolaborasi dengan produsen DOC lokal UD. FT, Lombok dengan 4 orang peternak, sebanyak 2.000 ekor ayam KUB dan ayam arab.
Sui berperan membuatkan SOP (Standart Operasional Prosedur) budidaya dan pendampingan sampai panen, sekaligus juga sebagi avails pasarnya.
"Pola kemitraan ini sebagai jawaban untuk merespon permintaan pasar ayam kampung yang semakin melambung. Panen hasil kemitraan ini diperkirakan setelah Lebaran nanti," tutur Sui optimistis.
Menurutnya, pelanggan atau pembelinya rata-rata mencari ayam dengan bobot 4,7-5,5 ons per ekor. Ia membrandrolnya dengan harga mulai Rp30.000-Rp50.000 per ekor dengan spesifikasi ayam kampung utuh yang sudah dipanggang. Permintaan bisa mencapai 40 ekor per hari dengan pengiriman mulai dari kota Lombok sampai ke Bali.
"Dalam 100 ekor ayam, dibutuhkan modal atau biaya sebesar Rp1,070 juta, termasuk bibit, pakan dan vaksin. Dipelihara selama 55 hari untuk ayam KUB dan 40 hari untuk ayam arab," ujar Sui penuh semangat.
Dengan membentuk kelompok usaha yang dinamakan "Sapoq Angen" bersama rekannya Iksan Wahyudi, Sui mulai merintis pola kemitraan Yarnen (bayar setelah panen) yang merupakan kolaborasi dengan produsen DOC lokal UD. FT, Lombok dengan 4 orang peternak, sebanyak 2.000 ekor ayam KUB dan ayam arab.
Sui berperan membuatkan SOP (Standart Operasional Prosedur) budidaya dan pendampingan sampai panen, sekaligus juga sebagi avails pasarnya.
"Pola kemitraan ini sebagai jawaban untuk merespon permintaan pasar ayam kampung yang semakin melambung. Panen hasil kemitraan ini diperkirakan setelah Lebaran nanti," tutur Sui optimistis.
Menurutnya, pelanggan atau pembelinya rata-rata mencari ayam dengan bobot 4,7-5,5 ons per ekor. Ia membrandrolnya dengan harga mulai Rp30.000-Rp50.000 per ekor dengan spesifikasi ayam kampung utuh yang sudah dipanggang. Permintaan bisa mencapai 40 ekor per hari dengan pengiriman mulai dari kota Lombok sampai ke Bali.
Lihat Juga :