Dijegal Corona, Target Ekspor dan Serapan Batu Bara RI Meleset

loading...
Dijegal Corona, Target Ekspor dan Serapan Batu Bara RI Meleset
Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah mencatat kinerja sektor pertambangan sampai dengan Agustus 2020 mengalami kontraksi. Hal ini tercermin pada permintaan domestik yang hanya mencapai 141 juta ton.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, serapan batu bara untuk Domestic Market Obligation (DMO) hanya mencapai 141 juta ton atau sekitar 90,9 persen dari target pemerintah pada tahun ini yakni 155 juta ton.

Di mana, harga batubara mengalami penurunan dari USD66,89 pada Februari 2020 atau turun turun 35,95 persen menjadi USD49,42 pada September. Airlangga mengutarakan, penurunan terjadi akibat dampak pandemi Covid-19.

(Baca juga: Hilirisasi Batu Bara Lamban, Jokowi Pecut Jajarannya Cari Solusi)



"Saat ini Indonesia masuk dalam proses pemulihan ekonomi nasional dan juga masih situasi dalam pandemi Covid-19. Oleh karena itu kami berharap bahwa momentum pemulihan ekonomi akan terus berlanjut hingga tahun 2001, bahkan di tahun 2002. Demikian pula dengan penanganan Covid-19," ujar Airlangga, Jakarta, Selasa (27/10/2020).

Hal serupa juga terjadi pada target ekspor batu bara. Pemerintah memproyeksikan ekspor bisa mencapai 359 juta ton sampai akhir tahun 2020, namun per Oktober (year to date) baru mencapai 58,81 persen atau 232,3 juta ton.

Demikian pula dengan target pemerintah di sisi investasi. Dari target 7,7 miliar capaiannya baru 27,16 persen atau sebesar 2,1 miliar.



Meski demikian, fase pemulihan tengah digodok pemerintah. Di mana, sektor ekonomi yang sempat terkontraksi di kuartal ke-II 2020 mulai menunjukan tren positif.

(Baca juga: Nih Pilihan Investasi yang Tepat Bagi Kantong Mahasiswa)

Hal ini, kata Airlangga, karena adanya realisasi program penerapan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan new normal yang dinilai bisa mendorong perbaikan di sejumlah indikator ekonomi.

"Fase pemulihan juga terjadi di Indonesia, di mana ekonomi yang sempat terkontraksi di kuartal II mulai menunjukan tren positif, di mana penerapan PEN dan new normal mendorong perbaikan di sejumlah indikator ekonomi," kata dia.
(ind)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top