Rendah, Konsumsi Fesyen Muslim di Indonesia Hanya USD21 Miliar
Jum'at, 08 Mei 2020 - 21:52 WIB
loading...
Konsumsi fesyen muslim di Indonesia hanya sekitar USD21 Miliar. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri fesyen bisa menjadi peluang bagi Indonesia. Hal ini mengingat peminat industri fesyen di dunia tidaklah sedikit.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan berdasarkan laporan global economy pada periode 2019-2020 konsumsi fesyen muslim mencapai USD238 miliar. Angka ini diprediksi akan terus meningkat pada 2024 mendatang menjadi USD402 miliar.
Sedangkan konsumsi fesyen muslim di Indonesia masih sangat rendah sekali yakni hanya USD21 miliar. Artinya, ada peluang bagi Indonesia untuk terus mendorong industri fesyen muslim.
"Konsumsi fesyen muslim di Indonesia USD21 miliar. Tentunya hal ini masih terbuka peluang besar pasar global maupun domestik, yang harus diisi oleh industri fesyen muslim di Indonesia," ujarnya dalam teleconfrence, Jumat (8/5/2020).
Dia melanjutkan, sebenarnya prestasi Indonesia di industri fesyen muslim ini cukup membanggakan. Mengingat, Indonesia berada di peringkat 3 terbaik dunia setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengatakan berdasarkan laporan global economy pada periode 2019-2020 konsumsi fesyen muslim mencapai USD238 miliar. Angka ini diprediksi akan terus meningkat pada 2024 mendatang menjadi USD402 miliar.
Sedangkan konsumsi fesyen muslim di Indonesia masih sangat rendah sekali yakni hanya USD21 miliar. Artinya, ada peluang bagi Indonesia untuk terus mendorong industri fesyen muslim.
"Konsumsi fesyen muslim di Indonesia USD21 miliar. Tentunya hal ini masih terbuka peluang besar pasar global maupun domestik, yang harus diisi oleh industri fesyen muslim di Indonesia," ujarnya dalam teleconfrence, Jumat (8/5/2020).
Dia melanjutkan, sebenarnya prestasi Indonesia di industri fesyen muslim ini cukup membanggakan. Mengingat, Indonesia berada di peringkat 3 terbaik dunia setelah Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki.
Lihat Juga :