Alami Resesi, Pengusaha: Mau Resesi atau Covid, Pemerintah Jaga Kedamaian Politik Tidak?
Kamis, 05 November 2020 - 13:20 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menyikapi resesi yang dialami Indonesia, Ketua Koordinator Gas Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Ahmad Wijaya mengatakan, dampaknya besar bagi pengusaha dan sektor bisnis. ( Baca juga:Akankah Resesi Berlanjut ke Depresi Ekonomi? Ini Kata Ekonom )
Menurutnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak bisa dihindari. Dia menegaskan, PHK akan berlanjut bila stimulus ekonomi bagi sektor manufaktur tidak berjalan secara maksimal.
PHK itu sudah otomatis kalau memang kita tidak mendapat dukungan stimulus yang betul-betul membantu proses manufaktur. Itu nanti otomatis para pengusaha juga tahu, sejak Covid-19 hingga saat ini kita sepakat dengan buruh, mana yang perlu dikerjakan. Apa yang sudah kita sepakati, itu yang kita jalani," kata dia saat dihubungi, Jakarta, Kamis (5/11/2020).
Ahmad menilai, dalam kondisi saat ini ketegasan pemerintah untuk memberikan stimulus bagi korporasi sangat penting. Tanpa stimulus tersebut, korporasi sangat tergantung pada modal mandiri yang dinilai cukup terbatas.
Masalahnya, cash flow sudah tergerus sejak Maret dan terus terpaksa menanggung kerugian sampai saat ini. Terlebih, demand pasar yang masih lemah.
Menurutnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak bisa dihindari. Dia menegaskan, PHK akan berlanjut bila stimulus ekonomi bagi sektor manufaktur tidak berjalan secara maksimal.
PHK itu sudah otomatis kalau memang kita tidak mendapat dukungan stimulus yang betul-betul membantu proses manufaktur. Itu nanti otomatis para pengusaha juga tahu, sejak Covid-19 hingga saat ini kita sepakat dengan buruh, mana yang perlu dikerjakan. Apa yang sudah kita sepakati, itu yang kita jalani," kata dia saat dihubungi, Jakarta, Kamis (5/11/2020).
Ahmad menilai, dalam kondisi saat ini ketegasan pemerintah untuk memberikan stimulus bagi korporasi sangat penting. Tanpa stimulus tersebut, korporasi sangat tergantung pada modal mandiri yang dinilai cukup terbatas.
Masalahnya, cash flow sudah tergerus sejak Maret dan terus terpaksa menanggung kerugian sampai saat ini. Terlebih, demand pasar yang masih lemah.
Lihat Juga :