Transaksi Single Day Meledak, Ekonomi China Positif Pulih
Jum'at, 13 November 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Para pebisnis, baik atas, menengah, ataupun bawah, juga senang dengan volume transaksi Singles Day mengingat bisnis terpukul cukup kuat selama pandemi. Bahkan, tak sedikit yang sukses melipatgandakan penjualannya. Survei Olver Wyman menunjukkan sekitar 86% konsumen China juga amat “haus” untuk berbelanja.
“Mayoritas konsumen China berbelanja ini itu seperti tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan diskon,” kata Jacques Penhirin, mitra Wyman. Uniknya, sekalipun dilanda ketidakpastian ekonomi global, hanya sekitar 14% konsumen China yang menahan tabungan mereka untuk berbelanja selama Singles Day. (Baca juga: Bantuan Kuota Internet, Nadiem Minta Kepsek Segera Unggah Surat Pernyataan)
Masyarakat kelas menengah China menjadikan Singles Day sebagai tempat untuk menghabiskan uang. Kebanyakan dari mereka menabung uang itu selama pandemi karena tak dapat bepergian akibat ada lockdown di berbagai daerah dan negara. Biasanya, mereka akan menghabiskan uang itu untuk berwisata.
Tahun lalu Alibaba telah meraup hingga 213,5 miliar yuan (Rp428,5 triliun) selama Singles Day dalam 16,5 jam. Minat belanja konsumen tidak terbendung, terutama untuk barang smartphone, pakaian, dan kosmetik. “Singles Day menjadi festival untuk mengukur kekuatan ekonomi China,” ujar ahli ekonomi Benson Ng.
Seperti dilansir SCMP, Singles Day saat ini berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, pangsa pasar Singles Day dikuasai dan dimonopoli Tmall dan Taobao. Namun, kali ini Alibaba membentuk platform e-commerce business-to-business untuk menjaring konsumen internasional dari Amerika, Australia, dan Jepang. (Baca juga: Manfaat Produk Herbal untuk Ibu Hamil dan Menyusui)
“Mayoritas konsumen China berbelanja ini itu seperti tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan diskon,” kata Jacques Penhirin, mitra Wyman. Uniknya, sekalipun dilanda ketidakpastian ekonomi global, hanya sekitar 14% konsumen China yang menahan tabungan mereka untuk berbelanja selama Singles Day. (Baca juga: Bantuan Kuota Internet, Nadiem Minta Kepsek Segera Unggah Surat Pernyataan)
Masyarakat kelas menengah China menjadikan Singles Day sebagai tempat untuk menghabiskan uang. Kebanyakan dari mereka menabung uang itu selama pandemi karena tak dapat bepergian akibat ada lockdown di berbagai daerah dan negara. Biasanya, mereka akan menghabiskan uang itu untuk berwisata.
Tahun lalu Alibaba telah meraup hingga 213,5 miliar yuan (Rp428,5 triliun) selama Singles Day dalam 16,5 jam. Minat belanja konsumen tidak terbendung, terutama untuk barang smartphone, pakaian, dan kosmetik. “Singles Day menjadi festival untuk mengukur kekuatan ekonomi China,” ujar ahli ekonomi Benson Ng.
Seperti dilansir SCMP, Singles Day saat ini berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, pangsa pasar Singles Day dikuasai dan dimonopoli Tmall dan Taobao. Namun, kali ini Alibaba membentuk platform e-commerce business-to-business untuk menjaring konsumen internasional dari Amerika, Australia, dan Jepang. (Baca juga: Manfaat Produk Herbal untuk Ibu Hamil dan Menyusui)
Lihat Juga :