Cari Pasar Baru untuk Ekspor Pangan
Sabtu, 21 November 2020 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Solusinya ialah Indonesia harus selalu membuka komunikasi secara terbuka terkait eksistensi sawit Indonesia. Bahkan bukan hanya sawit yang harus dikawal, tetapi juga komoditas unggulan lainnya seperti kopi dan karet.
Sementara itu Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta W Kamdani menjelaskan, pengusaha memang harus didorong agar dapat lebih berorientasi ekspor dan tidak hanya berfokus memenuhi kebutuhan domestik. Langkah dan strategi itu perlu dilakukan demi menemukan peluang-peluang pasar baru.
Badan Perdagangan Dunia (WTO) memproyeksikan volume perdagangan dunia akan turun sebesar 9,2% pada 2020. Volume perdagangan global ada kemungkinan baru bisa pulih pada akhir 2021 dengan pertumbuhan sekitar 7,2%. Seiring dengan anjloknya transaksi perdagangan dunia, WTO memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 akan minus 4,8% dan diprediksi kembali tumbuh 4,9% pada 2021.
Hambatan dagang tarif dan nontarif masih menjadi tekanan tersendiri bagi komoditas ekspor utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah, karet, dan produk perikanan. (Baca juga: Jangan Kendor, Olahraga HArus Tetap Dilakukan Pada Masa Pandemi)
"Hambatan nontarif meliputi standar terkait sustainability seperti IIU Fishing, standar tenaga kerja dan perlindungan lingkungan, standar kesehatan dan keselamatan yang menyangkut toleransi polutan dan zat karionegen serta standar kemasan," ujarnya.
Shinta menambahkan, untuk meminimalkan hambatan perdagangan dan meningkatkan ekspor, Kadin mengusulkan sejumlah cara, yakni meningkatkan produktivitas dan stabilisasi produksi dalam negeri serta reformasi sektor agrikultur dan perikanan dengan perbaikan iklim usaha.
Selanjutnya pembenahan mistmatch input-output antara produksi pangan hulu dengan kebutuhan input industri makanan dan minuman serta pasar ekspor dari segi volume dan standar serta sinergi dan kerja sama antarelemen pemerintah. (Baca juga: Respons Kekebalan terhadap Virus Corona Bertahan hingga 6 Bulan)
Sementara itu Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta W Kamdani menjelaskan, pengusaha memang harus didorong agar dapat lebih berorientasi ekspor dan tidak hanya berfokus memenuhi kebutuhan domestik. Langkah dan strategi itu perlu dilakukan demi menemukan peluang-peluang pasar baru.
Badan Perdagangan Dunia (WTO) memproyeksikan volume perdagangan dunia akan turun sebesar 9,2% pada 2020. Volume perdagangan global ada kemungkinan baru bisa pulih pada akhir 2021 dengan pertumbuhan sekitar 7,2%. Seiring dengan anjloknya transaksi perdagangan dunia, WTO memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 akan minus 4,8% dan diprediksi kembali tumbuh 4,9% pada 2021.
Hambatan dagang tarif dan nontarif masih menjadi tekanan tersendiri bagi komoditas ekspor utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah, karet, dan produk perikanan. (Baca juga: Jangan Kendor, Olahraga HArus Tetap Dilakukan Pada Masa Pandemi)
"Hambatan nontarif meliputi standar terkait sustainability seperti IIU Fishing, standar tenaga kerja dan perlindungan lingkungan, standar kesehatan dan keselamatan yang menyangkut toleransi polutan dan zat karionegen serta standar kemasan," ujarnya.
Shinta menambahkan, untuk meminimalkan hambatan perdagangan dan meningkatkan ekspor, Kadin mengusulkan sejumlah cara, yakni meningkatkan produktivitas dan stabilisasi produksi dalam negeri serta reformasi sektor agrikultur dan perikanan dengan perbaikan iklim usaha.
Selanjutnya pembenahan mistmatch input-output antara produksi pangan hulu dengan kebutuhan input industri makanan dan minuman serta pasar ekspor dari segi volume dan standar serta sinergi dan kerja sama antarelemen pemerintah. (Baca juga: Respons Kekebalan terhadap Virus Corona Bertahan hingga 6 Bulan)
Lihat Juga :