Sektor Properti Mulai Siuman, Saham APLN Jadi Incaran
Senin, 23 November 2020 - 19:00 WIB
loading...
Salah satu proyek APLN di Medan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Meski pandemibelum usai, keyakinan investor terhadap saham-saham emiten properti terus menguat. Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bungaacuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75% menjadi salah satu katalisnya.
Ini adalah suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah sejak bank sentral mengubah penghitungan dari bulanan menjadi per pekan, tepatnya pada 19 Agustus 2016. ( Baca juga:Terobosan Jitu Bisnis Properti pada Masa Pandemi )
Menangkap sinyal bank sentral itu, para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung bereaksi. Sejumlah saham properti menjadi buruan. Beberapa saham seperti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), serta PT Alam Sutra Realty (ASRI) menguat tajam jika dibandingkan dengan posisi di awal bulan.
Analis pasar modal Fendi Susiyanto menilai kenaikan saham-saham properti lebih banyak didorong oleh faktor sentimen penurunan suku bunga dan teknikal. Sebab, secara fundamental kinerja perusahaan properti belum pulih akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak Maret lalu.
“Kenaikan saham properti masih didorong oleh faktor teknikal. Beberapa saham seperti APLN masih cukup murah, sementara prospeknya masih sangat bagus. Inilah yang membuat saham ini naik tajam pekan lalu,” ujar Fendi, pendiri Finvesol Consulting, Senin (23/11/2020).
Sepanjang pekan lalu, saham APLN melesat 35% dari Rp120 per saham (16/11) hingga ke level Rp 162 per saham (19/11). Awal pekan ini saham perusahaan yang sedang getol membangun berbagai proyek hunian hijau tersebut berada di level Rp162 per saham.
Menurut Fendi, secara teknikal saham APLN masih berpotensi menguat dikisaran Rp170-Rp200 per saham. Sementara secara fundamental book value per share masih tinggi, sebesar Rp359. “Tren penguatan akan terus terjadi jika di kuartal IV-2020 recovery ekonomi berjalan lebih baik, sehingga penjualan APLN juga tumbuh lebih tinggi,” katanya.
Sampai kuartal III 2020 APLN mencatat pendapatan sebesar Rp2,88 triliun, turun tipis 1,2% dibanding periode sama 2019 sebesar Rp2,92 triliun. Meskipun manajemen telah melakukan berbagai upaya efisiensi, seperti biaya operasional berhasil dipangkas 23,6%, namun di akhir September 2020 lalu perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp195,2 miliar.
Beroperasinya kembali mall dan pusat perbelanjaan di DKI Jakarta diyakini akan menjadi salah satu sumber recurring income APLN yang potensial meningkat di kuartal IV 2020 ini. Di kuartal III lalu, recurring income perseroan mencapai Rp776,6 miliar.
Sebelumnya, marketing Director Agung Podomoro Agung Wirajaya mengatakan selama pandemi Covid-19 permintaan properti di proyek-proyek APLN seperti di Jawa Barat justru meningkat. Hingga September 2020, dari empat proyek APLN di Jawa Barat, yaitu Kota Kertabumi, Vimala Hills, Podomoro Golf View, dan Podomoro Park Bandung mampu membukukanmarketing salessekitar 63% dari totalmarketing salesdi luar lahan industri. ( Baca juga:PM Selandia Baru Beri Biden 'Bocoran' Cara Hadapi Covid-19 )
“Dengan konsep hunian hijau yang mendukung kebutuhan masyarakat saat ini, penjualan properti APLN terus meningkat sepanjang pandemi. Kami optimistis penjualan ini akan terus tumbuh sejalan dengan perbaikan ekonomi yang kini sedang berlangsung,” jelas Agung.
Ini adalah suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah sejak bank sentral mengubah penghitungan dari bulanan menjadi per pekan, tepatnya pada 19 Agustus 2016. ( Baca juga:Terobosan Jitu Bisnis Properti pada Masa Pandemi )
Menangkap sinyal bank sentral itu, para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung bereaksi. Sejumlah saham properti menjadi buruan. Beberapa saham seperti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), serta PT Alam Sutra Realty (ASRI) menguat tajam jika dibandingkan dengan posisi di awal bulan.
Analis pasar modal Fendi Susiyanto menilai kenaikan saham-saham properti lebih banyak didorong oleh faktor sentimen penurunan suku bunga dan teknikal. Sebab, secara fundamental kinerja perusahaan properti belum pulih akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak Maret lalu.
“Kenaikan saham properti masih didorong oleh faktor teknikal. Beberapa saham seperti APLN masih cukup murah, sementara prospeknya masih sangat bagus. Inilah yang membuat saham ini naik tajam pekan lalu,” ujar Fendi, pendiri Finvesol Consulting, Senin (23/11/2020).
Sepanjang pekan lalu, saham APLN melesat 35% dari Rp120 per saham (16/11) hingga ke level Rp 162 per saham (19/11). Awal pekan ini saham perusahaan yang sedang getol membangun berbagai proyek hunian hijau tersebut berada di level Rp162 per saham.
Menurut Fendi, secara teknikal saham APLN masih berpotensi menguat dikisaran Rp170-Rp200 per saham. Sementara secara fundamental book value per share masih tinggi, sebesar Rp359. “Tren penguatan akan terus terjadi jika di kuartal IV-2020 recovery ekonomi berjalan lebih baik, sehingga penjualan APLN juga tumbuh lebih tinggi,” katanya.
Sampai kuartal III 2020 APLN mencatat pendapatan sebesar Rp2,88 triliun, turun tipis 1,2% dibanding periode sama 2019 sebesar Rp2,92 triliun. Meskipun manajemen telah melakukan berbagai upaya efisiensi, seperti biaya operasional berhasil dipangkas 23,6%, namun di akhir September 2020 lalu perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp195,2 miliar.
Beroperasinya kembali mall dan pusat perbelanjaan di DKI Jakarta diyakini akan menjadi salah satu sumber recurring income APLN yang potensial meningkat di kuartal IV 2020 ini. Di kuartal III lalu, recurring income perseroan mencapai Rp776,6 miliar.
Sebelumnya, marketing Director Agung Podomoro Agung Wirajaya mengatakan selama pandemi Covid-19 permintaan properti di proyek-proyek APLN seperti di Jawa Barat justru meningkat. Hingga September 2020, dari empat proyek APLN di Jawa Barat, yaitu Kota Kertabumi, Vimala Hills, Podomoro Golf View, dan Podomoro Park Bandung mampu membukukanmarketing salessekitar 63% dari totalmarketing salesdi luar lahan industri. ( Baca juga:PM Selandia Baru Beri Biden 'Bocoran' Cara Hadapi Covid-19 )
“Dengan konsep hunian hijau yang mendukung kebutuhan masyarakat saat ini, penjualan properti APLN terus meningkat sepanjang pandemi. Kami optimistis penjualan ini akan terus tumbuh sejalan dengan perbaikan ekonomi yang kini sedang berlangsung,” jelas Agung.
(uka)
Lihat Juga :