Mentan Ajak Penyuluh Pertanian Paham Agroklimat Antisipasi La Nina
Rabu, 25 November 2020 - 03:20 WIB
loading...
A
A
A
Dedi Nursyamsi menambahkan la nina merupakan anomali iklim global yang kerap terjadi dengan periode ulang 2 - 7 tahunan. Pada sektor pertanian, la nina mengakibatkan kerusakan tanaman akibat banjir/terendam dan ledakan organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Penyuluh harus meningkatkan sinerginya dengan petani dan para pemangku kepentingan, antisipasi dampak la nina. Lakukan mapping wilayah rawan banjir dan longsor, karena bisa mengancam panen,” kata Dedi. Dia meminta penyuluh menyosialisasikan Tujuh Strategi Antisipasi La Nina. Pertama, pemetaan mengacu intensitas curah hujan, dengan menetapkan zonasi warna: hijau, merah dan kuning. Kedua, siapkan sistem peringatan dini bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
(Baca juga:Memanfaatkan Peluang La Nina untuk Menggenjot Produksi Beras)
Ketiga, bentuk Brigade La Nina (Brigade DPI-OPT), Brigade Alsintan dan Tanam, Brigade Panen dan Serap Gabah Kostraling, yang harus ada di tiap kabupaten dan kota, sehingga bisa langsung bergerak. Keempat, pompanisasi in and out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan kuarter, terutama di wilayah jalur merah. Kelima, penyediaan benih tahan genangan seperti Inpara 1 - 10, Inpari 29, Inpari 30 dan Ciherang.
Begitu pula benih varietas lokal juga harus disiapkan dengan optimal. Keenam, mendorong petani manfaatkan Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) untuk antisipasi dampak kerugian. “Ketujuh, Kementan menyiapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pascapanen seperti mesin pengering dan mesin penggilingan,” kata Dedi.
“Penyuluh harus meningkatkan sinerginya dengan petani dan para pemangku kepentingan, antisipasi dampak la nina. Lakukan mapping wilayah rawan banjir dan longsor, karena bisa mengancam panen,” kata Dedi. Dia meminta penyuluh menyosialisasikan Tujuh Strategi Antisipasi La Nina. Pertama, pemetaan mengacu intensitas curah hujan, dengan menetapkan zonasi warna: hijau, merah dan kuning. Kedua, siapkan sistem peringatan dini bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
(Baca juga:Memanfaatkan Peluang La Nina untuk Menggenjot Produksi Beras)
Ketiga, bentuk Brigade La Nina (Brigade DPI-OPT), Brigade Alsintan dan Tanam, Brigade Panen dan Serap Gabah Kostraling, yang harus ada di tiap kabupaten dan kota, sehingga bisa langsung bergerak. Keempat, pompanisasi in and out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan kuarter, terutama di wilayah jalur merah. Kelima, penyediaan benih tahan genangan seperti Inpara 1 - 10, Inpari 29, Inpari 30 dan Ciherang.
Begitu pula benih varietas lokal juga harus disiapkan dengan optimal. Keenam, mendorong petani manfaatkan Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) untuk antisipasi dampak kerugian. “Ketujuh, Kementan menyiapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pascapanen seperti mesin pengering dan mesin penggilingan,” kata Dedi.
(dar)
Lihat Juga :