Akibat Covid-19, Ekonomi Dunia Rugi USD9 Triliun
Selasa, 12 Mei 2020 - 22:11 WIB
loading...
Virus corona membuat ekonomi dunia rugi USD9 triliun. Foto/iStock
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pandemi virus corona (Covid-19) membuat kegiatan ekonomi merosot, sehingga banyak perusahaan yang merugi bahkan bangkrut. Ini berdampak pada meluasnya tingkat pengangguran dan kemiskinan.
Akibat virus mematikan ini, Sri Mulyani mengatakan perekonomian dunia mengalami kerugian hingga USD9 triliun atau setara 9 kali Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
"Akibat Covid-19 terjadi kepanikan global dan merosotnya kegiatan ekonomi, melonjaknya pengangguran dan kebangkrutan jelas dapat mengancam stabilitas sosial, ekonomi, dan sistem keuangan suatu negara," ujar Sri Mulyani dalam sidang paripurna RAPBN 2021 di Jakarta, Selasa (12/5/2020).
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini melanjutkan, dalam periode Januari-Maret 2020, terjadi arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp148,8 triliun, baik di pasar saham, pasar Surat Berharga Negara maupun Sertifikat Bank Indonesia.
Hal tersebut mendorong kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara bertenor 10 tahun yang meningkat di atas 8%, Indeks Harga Saham Gabungan yang melemah tajam hampir 28%. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 17,6% (year to date) di akhir Maret 2020, yang sempat menyentuh Rp16.600 per dolar Amerika Serikat pada 23 Maret 2020.
Akibat virus mematikan ini, Sri Mulyani mengatakan perekonomian dunia mengalami kerugian hingga USD9 triliun atau setara 9 kali Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
"Akibat Covid-19 terjadi kepanikan global dan merosotnya kegiatan ekonomi, melonjaknya pengangguran dan kebangkrutan jelas dapat mengancam stabilitas sosial, ekonomi, dan sistem keuangan suatu negara," ujar Sri Mulyani dalam sidang paripurna RAPBN 2021 di Jakarta, Selasa (12/5/2020).
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini melanjutkan, dalam periode Januari-Maret 2020, terjadi arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar Rp148,8 triliun, baik di pasar saham, pasar Surat Berharga Negara maupun Sertifikat Bank Indonesia.
Hal tersebut mendorong kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara bertenor 10 tahun yang meningkat di atas 8%, Indeks Harga Saham Gabungan yang melemah tajam hampir 28%. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 17,6% (year to date) di akhir Maret 2020, yang sempat menyentuh Rp16.600 per dolar Amerika Serikat pada 23 Maret 2020.
Lihat Juga :