Merger Bank Syariah BUMN Diharapkan Bisa Bersaing dengan Malaysia
Minggu, 27 Desember 2020 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Hingga Juni 2020, OJK mencatat market share keuangan syariah Indonesia masih sangat rendah, yaitu 9,63% atau secara nominal mencapai sekitar Rp1.608,50 triliun. Posisi ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 8,29% atau sekitar Rp1.335,41%.
Dari total aset tersebut keuangan syariah tahun 2020, masih didominasi pada sektor pasar modal syariah dengan aset mencapai Rp955,89 triliun atau 17,72% dari total market share pasar modal. Perbankan syariah hanya memiliki market share sekitar 6,18%.
Sedangkan, IKNB Syariah juga masih 4,33%. Masih rendahnya market share ini menunjukkan bahwa keuangan syariah masih belum sepenuhnya dioptimalkan. ( Baca juga:Pandemi COVID-19, Menparekraf Sandiaga Uno Segera Berbenah Potensi Wisata Bali )
Hal tersebut dikarenakan lanskap keuangan syariah kita berbeda dibandingkan dengan negara lain, seperti malaysia maupun negara timur tengah. Pasar keuangan syariah kita masih lebih berorientasi pada ritel dibandingkan negara tersebut yang sangat bergantung pada perbankan investasi syariah dan sukuk. Hal tersebut tidak terlepas dari keterbatasan dari sisi permodalan untuk mengembangkan inovasi produk layanan.
Anggota DPR RI lainnya, Misbakhun, juga menyampaikan harapannya pada Bank Syariah hasil merger tersebut. Menurut Misbakhun, ini harus bisa memperluas dan memperkuat akses keuangan syariah dalam perekonomian Indonesia. "Sehingga perbankan syariah bisa menjadi salah satu pendorong kemajuan sektor riil dengan pembiayaan sistem syariah dan menjadi alternatif di luar pembiayaan konvensional," kata Misbakhun.
Dari total aset tersebut keuangan syariah tahun 2020, masih didominasi pada sektor pasar modal syariah dengan aset mencapai Rp955,89 triliun atau 17,72% dari total market share pasar modal. Perbankan syariah hanya memiliki market share sekitar 6,18%.
Sedangkan, IKNB Syariah juga masih 4,33%. Masih rendahnya market share ini menunjukkan bahwa keuangan syariah masih belum sepenuhnya dioptimalkan. ( Baca juga:Pandemi COVID-19, Menparekraf Sandiaga Uno Segera Berbenah Potensi Wisata Bali )
Hal tersebut dikarenakan lanskap keuangan syariah kita berbeda dibandingkan dengan negara lain, seperti malaysia maupun negara timur tengah. Pasar keuangan syariah kita masih lebih berorientasi pada ritel dibandingkan negara tersebut yang sangat bergantung pada perbankan investasi syariah dan sukuk. Hal tersebut tidak terlepas dari keterbatasan dari sisi permodalan untuk mengembangkan inovasi produk layanan.
Anggota DPR RI lainnya, Misbakhun, juga menyampaikan harapannya pada Bank Syariah hasil merger tersebut. Menurut Misbakhun, ini harus bisa memperluas dan memperkuat akses keuangan syariah dalam perekonomian Indonesia. "Sehingga perbankan syariah bisa menjadi salah satu pendorong kemajuan sektor riil dengan pembiayaan sistem syariah dan menjadi alternatif di luar pembiayaan konvensional," kata Misbakhun.
(uka)
Lihat Juga :