BNI Uji Coba Smart Farming di 5 Provinsi
Selasa, 05 Januari 2021 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
"Memasuki musim panen, telah disiapkan fitur di dalam aplikasi agar mengakomodasi hasil produksi petani diserap oleh offtaker mitra BNI . Dengan menempatkan alat sensor di lahan, maka kondisi tanaman sejak sebelum, saat tanam, pemeliharaan, hingga pemanenan dapat terpantau secara real time,” paparnya.
Rekomendasi diperoleh dari alat sensor yang dapat menjangkau area hingga seluas 100 Ha akan terkoneksi dengan aplikasi yang disematkan ke dalam gadget berbasis android milik petani sehingga kondisi lahan khususnya yang berkaitan dengan curah hujan, suhu, kondisi tanah (Ph), hingga kebutuhan pupuk dapat terdeteksi dengan mudah.
Dari sisi cost efficiency, rekomendasi dari sensor yang disematkan ke dalam aplikasi di genggaman petani tidak hanya akan memudahkan petani, tetapi juga memberikan pola pertanian yang paling baik termasuk intensitas penggunaan pupuk. Dengan demikian, petani akan menjadi lebih produktif, lebih efisien dan efektif, hasil lahan/ladangnya mudah dijangkau pasar serta akhirnya menjadi petani yang profesional dan berkualitas. “Dengan volume hasil panen yang meningkat dan kualitas hasil yang lebih baik maka kesejahteraan petani akan semakin terjamin,” katanya. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Selama tahun 2020, beberapa kegiatan program Smart Farming ini diimplementasikan di 6 (enam) titik di 5 (lima) provinsi di Indonesia dan manfaatnya telah dirasakan oleh para petani.
Salah satu petani dari Situbondo Fero Kamahendra menceritakan bahwa di daerahnya petani telah merasakan manfaat yang positif dari kehadiran Program Smart Farming ini di mana selain mendapat dukungan permodalan untuk bertani, petani di daerahnya telah didukung dengan alat sensor. " BNI benar-benar memperhatikan masyarakat pertanian di daerah kami." ujar Fero. (Hatim Varabi)
Rekomendasi diperoleh dari alat sensor yang dapat menjangkau area hingga seluas 100 Ha akan terkoneksi dengan aplikasi yang disematkan ke dalam gadget berbasis android milik petani sehingga kondisi lahan khususnya yang berkaitan dengan curah hujan, suhu, kondisi tanah (Ph), hingga kebutuhan pupuk dapat terdeteksi dengan mudah.
Dari sisi cost efficiency, rekomendasi dari sensor yang disematkan ke dalam aplikasi di genggaman petani tidak hanya akan memudahkan petani, tetapi juga memberikan pola pertanian yang paling baik termasuk intensitas penggunaan pupuk. Dengan demikian, petani akan menjadi lebih produktif, lebih efisien dan efektif, hasil lahan/ladangnya mudah dijangkau pasar serta akhirnya menjadi petani yang profesional dan berkualitas. “Dengan volume hasil panen yang meningkat dan kualitas hasil yang lebih baik maka kesejahteraan petani akan semakin terjamin,” katanya. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Selama tahun 2020, beberapa kegiatan program Smart Farming ini diimplementasikan di 6 (enam) titik di 5 (lima) provinsi di Indonesia dan manfaatnya telah dirasakan oleh para petani.
Salah satu petani dari Situbondo Fero Kamahendra menceritakan bahwa di daerahnya petani telah merasakan manfaat yang positif dari kehadiran Program Smart Farming ini di mana selain mendapat dukungan permodalan untuk bertani, petani di daerahnya telah didukung dengan alat sensor. " BNI benar-benar memperhatikan masyarakat pertanian di daerah kami." ujar Fero. (Hatim Varabi)
(ysw)
Lihat Juga :