Pimpinan di 3 Unit Usaha PTPN XIV Berganti
Jum'at, 15 Januari 2021 - 20:48 WIB
loading...
A
A
A
"Komoditas sawit, mayoritas tidak pernah rugi. Keuntungan operasional di atas Rp1 triliun tiap tahun. Namun komoditi gula yang high cost tidak bisa operational exelence akibat berbagai keterbatasan. Lima tahun sawit terus mensubsidi biaya operasional komoditi tebu/gula, akibatnya sawit juga terseret tidak exelence," ujar Wardi Samad, Senin (11/01/2021).
Berikut produksi gula PTPN XIV pada tahun 2019 hingga 2020, PG Takalar memproduksi 17.1 ribu ton meningkat sebesar 17.9 ribu ton, PG Bone mproduksi 14.4 ribu ton meningkat sebesar 19.4 ribu ton, dan PG Camming memproduksi 14.6 ribu ton meningkat sebesar 18.6 ribu ton
"Ke depan lebih fokus maka gula akan dijadikan satu entitas sendiri dengan join investor ataupun kerjasama dengan BUMN lain. Pada pemaparan holding Minggu lalu akan menggandeng RNI / BUMN pangan dan Perhutani yang punya cukup luas lahan di jawa," ucap Wardi Samad.
Core Business PTPN XIV saat ini adalah tebu dengan produksi berupa gula dan tetes. PTPN terus berinovasi dalam ekstensifikasi pasar. Produk inovasi komoditi tebu telah masuk ke industri hilir melalui program retail gula kemasan 1 kg dengan merk Gollata. Pembeli mayoritas terserap dari pelaku bisnis lokal Makassar dan sekitarnya.
Wardi melanjutkan, sampai sekarang, PTPN XIV masih konsisten berada pada garis haluan menggandeng warga untuk tetap bekerja. Namun, ditunjang dengan peningkatan kinerja produksi gula. Ini membawa dampak positif bagi penyerapan tenaga kerja lokal yang terus meningkat. Selain itu, tenaga tebang tebu juga menjadi armada angkut yang tersebar di beberapa kabupaten di Sulsel.
Baca juga: Beredar Surat dari PTPN VIII, Desak Ponpes Habib Rizieq di Megamendung Dikosongkan
Sudah menjadi budaya bagi masyarakat sekitar pabrik gula, saat di masa giling tebu, warga berbondong-bondong menjadi jasa angkutan tebu menggunakan hand traktor. Hal yang menarik, karena hand traktor hanya digunakan saat musim penghujan untuk membajak sawah. Sementara saat musim giling pabrik gula atau musim kemarau dapat digunakan mengangkut tebu.
"Di sini ramai sekali kalau musim giling. Domppeng (sebutan hand traktor warga lokal) berbaris panjang mengangkut tebu sampai ke pabrik. Pendapatan saya sekitar Rp 150 hingga 300 ribu per hari," tandas salah satu petani di PG Takalar.
Berikut produksi gula PTPN XIV pada tahun 2019 hingga 2020, PG Takalar memproduksi 17.1 ribu ton meningkat sebesar 17.9 ribu ton, PG Bone mproduksi 14.4 ribu ton meningkat sebesar 19.4 ribu ton, dan PG Camming memproduksi 14.6 ribu ton meningkat sebesar 18.6 ribu ton
"Ke depan lebih fokus maka gula akan dijadikan satu entitas sendiri dengan join investor ataupun kerjasama dengan BUMN lain. Pada pemaparan holding Minggu lalu akan menggandeng RNI / BUMN pangan dan Perhutani yang punya cukup luas lahan di jawa," ucap Wardi Samad.
Core Business PTPN XIV saat ini adalah tebu dengan produksi berupa gula dan tetes. PTPN terus berinovasi dalam ekstensifikasi pasar. Produk inovasi komoditi tebu telah masuk ke industri hilir melalui program retail gula kemasan 1 kg dengan merk Gollata. Pembeli mayoritas terserap dari pelaku bisnis lokal Makassar dan sekitarnya.
Wardi melanjutkan, sampai sekarang, PTPN XIV masih konsisten berada pada garis haluan menggandeng warga untuk tetap bekerja. Namun, ditunjang dengan peningkatan kinerja produksi gula. Ini membawa dampak positif bagi penyerapan tenaga kerja lokal yang terus meningkat. Selain itu, tenaga tebang tebu juga menjadi armada angkut yang tersebar di beberapa kabupaten di Sulsel.
Baca juga: Beredar Surat dari PTPN VIII, Desak Ponpes Habib Rizieq di Megamendung Dikosongkan
Sudah menjadi budaya bagi masyarakat sekitar pabrik gula, saat di masa giling tebu, warga berbondong-bondong menjadi jasa angkutan tebu menggunakan hand traktor. Hal yang menarik, karena hand traktor hanya digunakan saat musim penghujan untuk membajak sawah. Sementara saat musim giling pabrik gula atau musim kemarau dapat digunakan mengangkut tebu.
"Di sini ramai sekali kalau musim giling. Domppeng (sebutan hand traktor warga lokal) berbaris panjang mengangkut tebu sampai ke pabrik. Pendapatan saya sekitar Rp 150 hingga 300 ribu per hari," tandas salah satu petani di PG Takalar.
(luq)
Lihat Juga :