Pemerintah Terbitkan Surat Utang Ritel, Pengamat: 2021 Bukan Iklim yang Tepat
Senin, 25 Januari 2021 - 22:01 WIB
loading...
A
A
A
Perbankan dan multi-finance, lanjut dia, memang mendominasi di tahun 2018. Tetapi di tahun 2020 jatuh hingga 67%. "Hanya Rp7,9 triliun dari perbankan. Ini karena kondisi likuiditas perbankan melimpah, DPK tumbuh tinggi tapi kredit tumbuh rendah," tambah Ahmad.
Pemerintah menjalankan belanja untuk Covid-19 dan Bank Indonesia menurunkan suku bunga, sehingga likuiditas di perekonomian melimpah. Dari sisi permintaan domestik besar, tapi sektor ritel dan lainnya ekspansinya tidak berjalan. Pemerintah menurunkan pajak bunga obligasi untuk meningkatkan permintaan ke depan.
"Kebutuhan ekspansif belum kelihatan di tahun lalu, kalau tahun ini kemungkinan di semester II. Tunggu sinyal dari sektor riil apakah memang tumbuh atau tidak. Bergantung pada seberapa cepatnya pemulihan ekonomi," jelas Ahmad. ( Baca juga:Iran Sambut Baik Kesiapan Arab Saudi Gelar Perundingan Bilateral )
Dia menyebutkan juga bahwa sektor riil akan berekspansi lebih cepat seiring pemulihan ekonomi. "Asing masuk ke pasar domestik sejak 1 Januari hingga 20 Januari, di pasar saham Rp11 triliun, kalau di surat utang ada Rp5 triliun. Sentimen di pasar saham menarik, karena euforia pemulihan ekonomi dan kemungkinan investor mengantisipasi harga rendah jadi pada memborong saham," pungkasnya.
Pemerintah menjalankan belanja untuk Covid-19 dan Bank Indonesia menurunkan suku bunga, sehingga likuiditas di perekonomian melimpah. Dari sisi permintaan domestik besar, tapi sektor ritel dan lainnya ekspansinya tidak berjalan. Pemerintah menurunkan pajak bunga obligasi untuk meningkatkan permintaan ke depan.
"Kebutuhan ekspansif belum kelihatan di tahun lalu, kalau tahun ini kemungkinan di semester II. Tunggu sinyal dari sektor riil apakah memang tumbuh atau tidak. Bergantung pada seberapa cepatnya pemulihan ekonomi," jelas Ahmad. ( Baca juga:Iran Sambut Baik Kesiapan Arab Saudi Gelar Perundingan Bilateral )
Dia menyebutkan juga bahwa sektor riil akan berekspansi lebih cepat seiring pemulihan ekonomi. "Asing masuk ke pasar domestik sejak 1 Januari hingga 20 Januari, di pasar saham Rp11 triliun, kalau di surat utang ada Rp5 triliun. Sentimen di pasar saham menarik, karena euforia pemulihan ekonomi dan kemungkinan investor mengantisipasi harga rendah jadi pada memborong saham," pungkasnya.
(uka)
Lihat Juga :