Mengubah Penghalang Jadi Peluang
Jum'at, 29 Januari 2021 - 06:27 WIB
loading...
A
A
A
"Untuk dijual di pasaran cacingnya harus kering. Kalau panen 36 kg cacing basah maka bila dikeringkan menjadi enam kilogram," ujarnya.
(Baca juga: Sempat Dihantam Pandemi Industri Alas Kaki Mulai Bangkit )
Di pasaran, harga cacing tanah jenis Lumbricus bisa dijual dengan harga Rp500.000 per kilogram. Artinya, jika dalam satu bulan Rian panen 72 kg cacing basah atau 12 kg kering, maka dia bisa meraup omzet hingga Rp6 juta. Dari usahanya ini Rian banyak memasok perusahaan jamu karena cacing dianggap sebagai obat.
“Kebutuhan pabrik jamu herbal terhadap cacing kering masih sangat besar. Dari kebutuhan tujuh ton cacing kering, saat ini baru terpenuhi dua ton. "Biasanya warga banyak mencari cacing untuk mengobati sakit maag, tifus, hingga melancarkan peredaran darah," tutur Rian.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Wisnu Wibowo, mengatakan, wabah pandemi saat ini secara tidak langsung menuntut masyarakat untuk mengeluarkan insting bertahannya dengan cara mengembangkan berbagai inovasi yang mereka miliki.
"Di masa ini, milenial harus bisa lebih tangguh untuk bertahan dengan menciptakan solusi yang langsung aplikatif dan sesuai dengan minat mereka. Saya yakin dengan semakin banyaknya entrepreneur muda kita bisa menciptakan peluang usaha baru, membuka lapangan kerja, menciptakan inovasi-inovasi sehingga terwujudlah kepribadian tangguh. Terlebih lagi untuk kaum setelah milenial atau generasi Z," tambahnya.
(Baca juga: Sempat Dihantam Pandemi Industri Alas Kaki Mulai Bangkit )
Di pasaran, harga cacing tanah jenis Lumbricus bisa dijual dengan harga Rp500.000 per kilogram. Artinya, jika dalam satu bulan Rian panen 72 kg cacing basah atau 12 kg kering, maka dia bisa meraup omzet hingga Rp6 juta. Dari usahanya ini Rian banyak memasok perusahaan jamu karena cacing dianggap sebagai obat.
“Kebutuhan pabrik jamu herbal terhadap cacing kering masih sangat besar. Dari kebutuhan tujuh ton cacing kering, saat ini baru terpenuhi dua ton. "Biasanya warga banyak mencari cacing untuk mengobati sakit maag, tifus, hingga melancarkan peredaran darah," tutur Rian.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Wisnu Wibowo, mengatakan, wabah pandemi saat ini secara tidak langsung menuntut masyarakat untuk mengeluarkan insting bertahannya dengan cara mengembangkan berbagai inovasi yang mereka miliki.
"Di masa ini, milenial harus bisa lebih tangguh untuk bertahan dengan menciptakan solusi yang langsung aplikatif dan sesuai dengan minat mereka. Saya yakin dengan semakin banyaknya entrepreneur muda kita bisa menciptakan peluang usaha baru, membuka lapangan kerja, menciptakan inovasi-inovasi sehingga terwujudlah kepribadian tangguh. Terlebih lagi untuk kaum setelah milenial atau generasi Z," tambahnya.
Lihat Juga :