Jurus Pertamina Keluar dari Kubangan Minyak
Selasa, 02 Februari 2021 - 12:02 WIB
loading...
foto/ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memastikan kesiapannya dalam menghadapi transisi energi global dengan menjalankan inisiatif strategis untuk pengembangan green energy (energi bersih) sekaligus mendukung target pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) .
Mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pertamina dalam rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) menetapkan program green transition pada 2035. Saat ini, penurunan permintaan minyak dunia telah mencapai 35%, dan diperkirakan pada tahun 2035 akan menjadi 24%. Sebaliknya, kebutuhan energi bergeser ke renewable energy yang meningkat hingga 30%. ( Baca juga:EBT KO vs Fosil, Kiai Ma'ruf: RI Perlu Belajar dari Jerman )
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, langkah dan inisiatif strategis yang dilakukan Pertamina saat ini sejalan dengan agenda perusahaan minyak dan gas dunia. Seluruh perusahaan energi global bergerak untuk mengantisipasi tren penurunan permintaan minyak yang cukup tajam yang akan terjadi di masa depan. Sementara permintaan dan konsumsi minyak dunia diperkirakan akan turun dari 110 juta barel per hari menjadi sekitar 65-73 juta barel per hari.
"Dengan dasar ini, Pertamina melakukan transisi dengan perubahan global. Kami melihat international oil company lain juga merespons ini. Intinya agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, carbon emission, menjadi agenda dari seluruh oil company di seluruh dunia," ujar Nicke dalam siaran pers, Selasa (2/2/2021).
Agenda strategi yang pertama mengembangkan energi listrik dengan monetisasi aset panas bumi melalui independent power producer (IPP) untuk mengembangkan 1,3 GW proyek panas bumi serta IPP berbasis surya di area dengan iradiasi matahari tinggi dan menjalin kemitraan strategis untuk pembuatan sel surya. Namun, dalam jangka pendek akan fokus dalam penerapan solar PV di lingkungan Pertamina Group melalui sinergi antara subholding dan captive market di BUMN.
Kedua, lanjut Nicke, mengoptimalkan penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor transportasi dengan mendukung pemerintah melaksanakan mandatori biodiesel 30% (B30), green refinery, dan Co processing CPO. Pertamina juga menyiapkan produksi baterai melalui kemitraan dengan penyedia teknologi baterai dan BUMN serta menyediakan infrastruktur pengisian daya untuk mobil listrik (E2W dan E4W).
"Inisiatif kami melakukan transisi dari fossil fuel ke bio energy ini dapat menurunkan gas rumah kaca. Dari hasil studi, ini bisa menurunkan gas karbon monoksida maupun emisi dari gas hidrokarbon antara 20 hingga 50% emisi," jelasnya.
Mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pertamina dalam rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) menetapkan program green transition pada 2035. Saat ini, penurunan permintaan minyak dunia telah mencapai 35%, dan diperkirakan pada tahun 2035 akan menjadi 24%. Sebaliknya, kebutuhan energi bergeser ke renewable energy yang meningkat hingga 30%. ( Baca juga:EBT KO vs Fosil, Kiai Ma'ruf: RI Perlu Belajar dari Jerman )
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, langkah dan inisiatif strategis yang dilakukan Pertamina saat ini sejalan dengan agenda perusahaan minyak dan gas dunia. Seluruh perusahaan energi global bergerak untuk mengantisipasi tren penurunan permintaan minyak yang cukup tajam yang akan terjadi di masa depan. Sementara permintaan dan konsumsi minyak dunia diperkirakan akan turun dari 110 juta barel per hari menjadi sekitar 65-73 juta barel per hari.
"Dengan dasar ini, Pertamina melakukan transisi dengan perubahan global. Kami melihat international oil company lain juga merespons ini. Intinya agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, carbon emission, menjadi agenda dari seluruh oil company di seluruh dunia," ujar Nicke dalam siaran pers, Selasa (2/2/2021).
Agenda strategi yang pertama mengembangkan energi listrik dengan monetisasi aset panas bumi melalui independent power producer (IPP) untuk mengembangkan 1,3 GW proyek panas bumi serta IPP berbasis surya di area dengan iradiasi matahari tinggi dan menjalin kemitraan strategis untuk pembuatan sel surya. Namun, dalam jangka pendek akan fokus dalam penerapan solar PV di lingkungan Pertamina Group melalui sinergi antara subholding dan captive market di BUMN.
Kedua, lanjut Nicke, mengoptimalkan penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor transportasi dengan mendukung pemerintah melaksanakan mandatori biodiesel 30% (B30), green refinery, dan Co processing CPO. Pertamina juga menyiapkan produksi baterai melalui kemitraan dengan penyedia teknologi baterai dan BUMN serta menyediakan infrastruktur pengisian daya untuk mobil listrik (E2W dan E4W).
"Inisiatif kami melakukan transisi dari fossil fuel ke bio energy ini dapat menurunkan gas rumah kaca. Dari hasil studi, ini bisa menurunkan gas karbon monoksida maupun emisi dari gas hidrokarbon antara 20 hingga 50% emisi," jelasnya.
Lihat Juga :