Memanfaatkan Rezim Suku Bunga Rendah

Selasa, 09 Februari 2021 - 05:50 WIB
loading...
A A A
"Hal ini menunjukkan perbankan masih berupaya untuk meningkatkan volume penyaluran kredit dengan suku bunga yang lebih murah," ungkap Wimboh.

Dia menjelaskan rincian penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBK) sejak posisi Desember tahun lalu. Dari sisi SBDK Modal Kerja turun 88 bps menjadi 8,88%, lalu SBDK Investasi turun 102 bps menjadi 9,21%, dan SBDK Konsumsi turun 65 bps menjadi 10,97%.

Sementara untuk SBDK di semua segmen kredit juga telah berada pada single digit yaitu ritel 8,88% (turun 84,2 bps), korporasi 8,75% (turun 79,9 bps), KPR 8,36% (turun 73,1 bps), Non KPR 8,69% (turun 56,3 bps), dan mikro 7,33% (turun49 bps).

"Ini didorong oleh penurunan harga pokok dana seiring dengan penurunan suku bunga acuan dan juga penurunan biaya overhead," katanya.

Permintaan Kredit Lemah
Upaya penurunan suku bunga kredit juga diklaim telah dilakukan pihak perbankan. Hal ini setidaknya diakui oleh Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Menurutnya, suku bunga BCA saat ini sudah rendah berbarengan dengan turunnya bunga acuan BI. Hanya saja, ucap Jahja, saat ini permintaan kredit dari dunia usaha ke BCA masih lemah. Penyebabnya, kata dia, adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

"Bunga BCA sudah rendah seiring turun dengan bunga BI. Cuma permintaan kreditnya yang masih lemah disebabkan PSBB dan PPKM menyebabkan dunia bisnis nggak bisa berkembang dan mereka nggak perlu kredit," ujar Jahja saat dihubungi KORAN SINDO, di Jakarta, Jumat (5/2) sore.

Baca juga: PPKM Mikro, Kemenkes Siapkan Kader Kesehatan dan Puskesmas di Posko Desa

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Aestika Oryza Gunarto juga menyatakan, penurunan bunga acuan telah diikuti dengan penurunan suku bunga BRI. Sepanjang 2020, BRI telah menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps-150 bps. Penurunan suku bunga tersebut, tutur Oryza, merupakan salah satu bentuk dukungan dan penyelamatan yang dilakukan oleh BRI terhadap UMKM yang sedang bergelut dengan kondisi pandemi.

"Penurunan suku bunga tersebut ke depan juga akan terus dilakukan dengan mengikuti kondisi pasar, dan dilakukan melalui efisiensi dari digitalisasi proses bisnis yang dilakukan BRI," ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta, Minggu (7/2).

Baca juga: Gabungan BRI-PNM serta Pegadaian, Sri Mulyani Jamin Tak Ada Penutupan Usaha

Ingin Lebih Rendah
Di bagian lain, kalangan dunia usaha mengkritisi masih tingginya tingkat suku bunga acuan di Tanah Air jika dibandingnya dengan negara lain di ASEAN. Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Daging (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani berujar, suku bunga acuan di Indonesia sudah lama menjadi yang paling tinggi di kawasan ASEAN.

Dia membandingkan, hanya Myanmar yang suku bunga pinjaman riil-nya lebih tinggi dari Indonesia di antara 10 negara ASEAN. Menurutnya, rata-rata suku bunga pinjaman riil di ASEAN sebelum pandemi beraa di level 7%.

“Dengan banyaknya negara yang berupaya memicu ekonomi melalui kebijakan moneter, kami asumsikan rata-tata suku bunga pinjaman riil di ASEAN sudah turun dari level tersebut. Mungkin di level 6% atau 5%,” katanya.

Shinta menambahkan, beberapa negara seperti Thailand, sebelum terjadi pandemi sudah memberikan kredit korporasi dengan bunga 4% per tahun. Bandingkan dengan suku bunga pinjaman korporasi riil di Indonesia yang sebelum pandemi rata-rata ada di level 10-12%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BI: Penyerapan Tenaga...
BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
Purbaya Tarik Dana SAL,...
Purbaya Tarik Dana SAL, BTN Siap Kembalikan Rp38 Triliun
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp8.030 Triliun di Akhir Mei 2026
BI Blak-blakan soal...
BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
Perkuat Digitalisasi...
Perkuat Digitalisasi Pariwisata dan Kuliner Jakarta, BI-Pemprov DKI Kolaborasi Ceremony QRIS
OJK Sita Aset Rp113,97...
OJK Sita Aset Rp113,97 Miliar Terkait Kasus Asuransi Prolife Indonesia
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Rekomendasi
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
Infografis
Bayar Bunga Warisan...
Bayar Bunga Warisan Jokowi Rp183 T, Prabowo Bakal Tarik Utang Rp775 T
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved