Memanfaatkan Rezim Suku Bunga Rendah

Selasa, 09 Februari 2021 - 05:50 WIB
loading...
A A A
“Sepanjang pandemi suku bunga memang turun tetapi sangat tipis meskipun suku bunga acuan turun 100 bps sepanjang pandemi,? ungkapnya.

Saat ini kata dia, suku bunga pinjaman usaha riil di Indonesia yang paling murah masih sebesar 9%. Bahkan, ada bank yang mengenakan bunga 11% per tahun.

Dia berharap, idealnya suku bunga pinjaman riil Indonesia harus turun lebih signifikan dibanding saat ini. Bahkan, akan sangat baik bila bisa turun ke rata-rata suku bunga pinjaman riil di ASEAN agar daya saing di kawasan bisa lebih baik.

“Ini bisa dilakukan tanpa menurunkan suku bunga BI lebih lanjut, apalagi sampai nol. Tidak perlu. Kita bukan AS, Jepang, atau negara maju lain yang tingkat pertumbuhan ekonominya sudah mature dan dana publik di sektor perbankannya sudah sangat besar sehingga bisa menanggung kerugian tersebut,” katanya.

Yang perlu dilakukan, kata Shinta, adalah pembenahan efisiensi di sektor perbankan. Khususnya dengan mengkoreksi BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) yang terlalu tinggi sehingga tidak menjadi beban pada perhitungan suku bunga pinjaman riil bagi pelaku usaha.

Selain itu, bank yang memiliki likuiditas tinggi perlu didorong untuk memberikan pinjaman kepada sektor-sektor yang belum sepenuhnya pulih dari krisis. “Banyak bank yang tidak mau menanggung risiko peningkatan NPL. Ini harus dipikirkan agar stimulus moneter Indonesia bisa lebih efektif ntk mendongkrak kegiatan ekonomi nasional di masa mendatang,” pungkasnya.

Pengamat ekonomi dari Intitute for Development of economic and finance (Indef) Rizal Taufikurohman melihat bahwa penetapan suku bunga acuan rendah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) dinilai sudah tepat, mengingat kondisi ekonomi saat ini yang terus mengalami penurunan.

"Sudah tepat, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menurun. Indonesia mengalami resesi, untuk itu perlu diambil kebijakan yang dapat mendorong investasi agar pertumbuhan ekonomi bisa semakin positif," katanya.

Hanya saja, Rizal menambahkan, kebijakan tersebut harus dilihat efektivitasnya karena hal ini akan mendorong perbaikan investasi, kemudian perbaikan konsumsi tapi nyatanya hal tersebut masih belum mendorong peningkatan laju pasar investasi. Di 2020, uata dia, laju investasi mengalami penurunan di angka minus 4,5%. Untuk itu, kebijakan menurunkan suku bunga harus bersinergi dengan kebijakan fiskal.

"Dengan turunnya suku bunga acuan diharapkan investasi akan tumbuh. Indonesia sangat memerlukan investasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan," ungkapnya.

Sementara itu, ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Jahen Rezki berpendapat, penetapan suku bunga acuan rendah saat ini masih bisa dipangkas lebih lanjut, namun kebijakan untuk menahan suku bunga di angka saat ini tetap diperlukan dengan tetap menjaga kebijakan makroprudensial untuk mengelola stabilitas keuangan.

"Sisi baiknya dari suku bunga rendah ini, bisa dilihat dari beberapa faktor eksternal yang membawa dampak positif bagi perekonomian," katanya.

Namun di sisi lain, ia pun menjelaskan eskalasi sektor keuangan dan sektor riil masih belum ada kejelasan karena situasi pandemi yang masih belum tertangani dan masih terus berlangsung. Permasalahan yang terjadi adalah perbankan domestik masih kesulitan untuk menyalurkan kredit meski likuiditas di perbankan melimpah, salah satunya dikarenakan masih lemahnya permintaan.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
BI Respons Rupiah Tembus...
BI Respons Rupiah Tembus Rp18.000, Samakan Nasib dengan Tetangga RI
Kurs Rupiah Ambruk ke...
Kurs Rupiah Ambruk ke Rp17.956 per Dolar AS, BI Angkat Suara
BRI KPR Solusi Promo...
BRI KPR Solusi Promo hingga Tenor 20 Tahun dan Bunga Mulai 2,50%, Makin Mudah Punya Properti Impian
Rupiah Semakin Terpuruk...
Rupiah Semakin Terpuruk Dekati Rp17.900 per Dolar AS, BI Buka Suara
Ekonomi RI Punya Ketahanan...
Ekonomi RI Punya Ketahanan Nasional, Gubernur BI: Tuhan Cinta Sama Kita
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Dilema Bank Indonesia:...
Dilema Bank Indonesia: Menjaga Rupiah demi Menjaga Masa Depan Ekonomi
Rekomendasi
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Pramono Tegaskan 2.843...
Pramono Tegaskan 2.843 Lowongan Padat Karya Program Jangka Pendek
Pengamat: Seskab Teddy...
Pengamat: Seskab Teddy Punya Kapasitas untuk Dipercaya Presiden Prabowo
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
Infografis
Gaji Guru Honorer Masih...
Gaji Guru Honorer Masih Rendah, 74% Dibayar di Bawah Rp2 Juta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved