Konsep Green Port Bikin Biaya Pelabuhan Lebih Efisien
Sabtu, 20 Februari 2021 - 22:51 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi, menegaskan biaya-biaya pelabuhan di Indonesia harus lebih efisien sesuai dengan komoditi yang ditangani. Pelabuhan juga harus menjadi pintu gerbang perekonomian yang lebih efektif serta memberikan bilai tambah terhadap barang-barang yang dikirim lewat pelabuhan.
"Kalau ada yang menyebut biaya pelabuhan harus murah, saya lebih suka bilang bahwa biaya pelabuhan harus lebih efisien sesuai komoditinya. Sebab, kedepan pemilik barang akan terus menuntut biaya yang lebih efisien dan pelayanan pelabuhan yang lebih baik," ujar Yukki saat menjadi nara sumber dalam Webinar Nasional bertema 'Peran Pelabuhan Sebagai Katalisator Pemulihan Perekonomian Setelah Pandemi Covid 19', yang digelar secara virtual, Sabtu (20/2/2021).
Yukki juga mengingatkan supaya pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sudah semestinya mengarah pada green port. "Kita harus sudah masuk pada green port , bukan sekedar urban logistic centre di pelabuhan utuk situasi dan kondisi yang lebih baik lagi," ucapnya.
Baca Juga: Banjir di Jakarta Belum Surut, Sejumlah Ruas Jalan Masih Tergenang
Chairman Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) itu juga mengingatkan bahwa kata kunci pertumbuhan dari sisi kaca mata logistik itu bisa dilihat jika pertumbuhan tersebut penyebaran merata secara ekonomi diseluruh wilayah RI. Sebab, imbuhnya, pertumbuhan atau produk domestik bruto (GDP) berdasarkan pada dua aspek yakni investasi dan konsumsi.
"Kita sering mengalami imbas gejolak krisis global tersebut. Sebut saja pada tahun 2018 dimana krisis ekonomi global akibat perdagangan dan energi yang nyata dilihat dari tekanan suply dan demand-nya," ujarnya.
Kemudian di tahun 2019, RI juga mengalami imbas krisis global akibat perang dagang Amerika dan China. Sedangkan pada 2020 krisis global terjadi akibat Pandemi Covid 19 yang bersumber pada krisis kesehatan dan pada akhirnya menekan perekonomian dunia.
"Kalau ada yang menyebut biaya pelabuhan harus murah, saya lebih suka bilang bahwa biaya pelabuhan harus lebih efisien sesuai komoditinya. Sebab, kedepan pemilik barang akan terus menuntut biaya yang lebih efisien dan pelayanan pelabuhan yang lebih baik," ujar Yukki saat menjadi nara sumber dalam Webinar Nasional bertema 'Peran Pelabuhan Sebagai Katalisator Pemulihan Perekonomian Setelah Pandemi Covid 19', yang digelar secara virtual, Sabtu (20/2/2021).
Yukki juga mengingatkan supaya pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sudah semestinya mengarah pada green port. "Kita harus sudah masuk pada green port , bukan sekedar urban logistic centre di pelabuhan utuk situasi dan kondisi yang lebih baik lagi," ucapnya.
Baca Juga: Banjir di Jakarta Belum Surut, Sejumlah Ruas Jalan Masih Tergenang
Chairman Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) itu juga mengingatkan bahwa kata kunci pertumbuhan dari sisi kaca mata logistik itu bisa dilihat jika pertumbuhan tersebut penyebaran merata secara ekonomi diseluruh wilayah RI. Sebab, imbuhnya, pertumbuhan atau produk domestik bruto (GDP) berdasarkan pada dua aspek yakni investasi dan konsumsi.
"Kita sering mengalami imbas gejolak krisis global tersebut. Sebut saja pada tahun 2018 dimana krisis ekonomi global akibat perdagangan dan energi yang nyata dilihat dari tekanan suply dan demand-nya," ujarnya.
Kemudian di tahun 2019, RI juga mengalami imbas krisis global akibat perang dagang Amerika dan China. Sedangkan pada 2020 krisis global terjadi akibat Pandemi Covid 19 yang bersumber pada krisis kesehatan dan pada akhirnya menekan perekonomian dunia.
Lihat Juga :