Energi Terbarukan Penting untuk Atasi Tiga Krisis
Rabu, 03 Maret 2021 - 22:42 WIB
loading...
Berdasarkan paparan Badan Energi Terbarukan Internasional, transformasi energi dari fosil menuju EBT akan merangsang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan berperan penting tidak hanya untuk mengurangi emisi karbon guna mengatasi krisis perubahan iklim . Tapi juga mendukung pemulihan ekonomi dan pertumbuhan lapangan pekerjaan, termasuk dari dampak pandemi Covid-19.
Berdasarkan paparan Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency/IRENA), transformasi energi dari fosil menuju EBT akan merangsang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) hingga 2,4%. Kemudian, fokus investasi yang mengarah kepada pemanfaatan energi terbarukan diyakini berdampak pada munculnya 42 juta lapangan pekerjaan baru secara global.
Baca Juga: Demi Kemandirian Energi, DEN Siap Dorong Energi Baru Terbarukan
Pakar Komunikasi Hijau, Wimar Witoelar mengatakan, pengurangan emisi karbon menjadi hal krusial dalam hal pencegahan dampak perubahan iklim yang setiap hari makin mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. “Mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan menunjukkan Indonesia sangat kooperatif di mata dunia untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Wimar.
Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbesar penggunaan energi terbarukan karena memiliki potensi energi terbarukan yang besar sekali yaitu mencapai 442,4 GW. Salah satu yang terbesar adalah dari energi air mencapai 75 GW (75.000 MW).
Pemanfaatan air sebagai energi listrik di Indonesia juga bisa mencapai kapasitas besar dan mampu mengurangi emisi karbon sangat signifikan. Misalnya, PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara diatur untuk berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon.
Berdasarkan paparan Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency/IRENA), transformasi energi dari fosil menuju EBT akan merangsang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) hingga 2,4%. Kemudian, fokus investasi yang mengarah kepada pemanfaatan energi terbarukan diyakini berdampak pada munculnya 42 juta lapangan pekerjaan baru secara global.
Baca Juga: Demi Kemandirian Energi, DEN Siap Dorong Energi Baru Terbarukan
Pakar Komunikasi Hijau, Wimar Witoelar mengatakan, pengurangan emisi karbon menjadi hal krusial dalam hal pencegahan dampak perubahan iklim yang setiap hari makin mengancam kehidupan seluruh makhluk hidup di Bumi. “Mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan menunjukkan Indonesia sangat kooperatif di mata dunia untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Wimar.
Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbesar penggunaan energi terbarukan karena memiliki potensi energi terbarukan yang besar sekali yaitu mencapai 442,4 GW. Salah satu yang terbesar adalah dari energi air mencapai 75 GW (75.000 MW).
Pemanfaatan air sebagai energi listrik di Indonesia juga bisa mencapai kapasitas besar dan mampu mengurangi emisi karbon sangat signifikan. Misalnya, PLTA Batang Toru berkapasitas 510 MW di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara diatur untuk berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton per tahun atau setara dengan kemampuan 12 juta pohon menyerap karbon.
Lihat Juga :