Rekomendasi Dongkrak Ekspor Produk Kayu Olahan Indonesia Saat Pandemi
Selasa, 19 Mei 2020 - 01:17 WIB
loading...
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyampaikan sejumlah rekomendasi, dalam mendongkrak ekspor produk kayu olahan Indonesia saat kondisi pandemi Corona seperti sekarang. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyampaikan sejumlah rekomendasi, dalam mendongkrak ekspor produk kayu olahan Indonesia saat kondisi pandemi Corona seperti sekarang. Pemulihan kinerja sektor usaha kehutanan yang terimbas karena pandemi Covid-19 didorong harus sudah dimulai di awal semester II tahun 2020.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo yang juga menjabat Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan (FKMPI) Indonesia mengharapkan dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Menurutnya peran kedutaan pasca Covid-19 sangat penting dan strategis, sebagai ujung tombak dalam mendongkrak ekspor.
“FKMPI mengapresiasi langkah-langkah pemerintah menerbitkan serangkaian kebijakan relaksasi untuk meringankan beban dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kebijakan relaksasi ini menjadi bekal untuk memulihkan kondisi perekonomian pasca Covid-19 di sektor usaha kehutanan, khususnya untuk menjaga serapan tenaga kerja dari hulu ke hilir yang saat ini mencapai sekitar 625.00 orang,” ujar Indroyono seusai dialog dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Korea dan Jepang di Jakarta, Senin (18/5/2020).
Sambung dia menambahkan FKMPI akan berdialog secara intens terkait strategi peningkatan ekspor bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta KBRI di negara-negara tujuan utama ekspor kayu olahan Indonesia. Sebagai langkah awal, dialog telah dilaksanakan dengan KBRI di Seoul dan Tokyo.
Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan yang berat terhadap kinerja sektor usaha kehutanan, karena negara-negara utama tujuan ekspor kayu olahan Indonesia yakni China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea terdampak parah karena pandemi tersebut. Sampai dengan April 2020, kinerja ekspor kayu olahan Indonesia turun 10 % yang diikuti dengan penurunan kinerja produksi kayu bulat alam sebagai pemasok bahan baku industri sebesar 20 %.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo yang juga menjabat Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan (FKMPI) Indonesia mengharapkan dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Menurutnya peran kedutaan pasca Covid-19 sangat penting dan strategis, sebagai ujung tombak dalam mendongkrak ekspor.
“FKMPI mengapresiasi langkah-langkah pemerintah menerbitkan serangkaian kebijakan relaksasi untuk meringankan beban dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kebijakan relaksasi ini menjadi bekal untuk memulihkan kondisi perekonomian pasca Covid-19 di sektor usaha kehutanan, khususnya untuk menjaga serapan tenaga kerja dari hulu ke hilir yang saat ini mencapai sekitar 625.00 orang,” ujar Indroyono seusai dialog dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Korea dan Jepang di Jakarta, Senin (18/5/2020).
Sambung dia menambahkan FKMPI akan berdialog secara intens terkait strategi peningkatan ekspor bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta KBRI di negara-negara tujuan utama ekspor kayu olahan Indonesia. Sebagai langkah awal, dialog telah dilaksanakan dengan KBRI di Seoul dan Tokyo.
Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan yang berat terhadap kinerja sektor usaha kehutanan, karena negara-negara utama tujuan ekspor kayu olahan Indonesia yakni China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea terdampak parah karena pandemi tersebut. Sampai dengan April 2020, kinerja ekspor kayu olahan Indonesia turun 10 % yang diikuti dengan penurunan kinerja produksi kayu bulat alam sebagai pemasok bahan baku industri sebesar 20 %.
Lihat Juga :