Membuat Pengguna Jalan Tol Aman dan Nyaman Lewat Genggaman
Minggu, 07 Maret 2021 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
Pembayaran nontunai dengan teknologi MLFF akan memudahkan pengguna jalan karena melalui jalan tol tanpa hambatan, solusi ini juga dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat.
Sebagai pengelola jalan tol terbesar di negeri ini, Jasa Marga pun diajak bekerjasama oleh Roatex Ltd Zrt Hongaria, untuk mengembangkan MLFF d Indonesia. Roatex perusahaan asal Hongaria yang telah ditetapkan oleh BPJT sebagai pememang tender penerapan MLFF di Indonesia.
Ajakan dari Roatex ini pun disambut baik oleh Jasa Marga. Subakti Syukur, mengatakan pihaknya siap siap dan menyambut baik ajakan kerjasama dari Roatex. Kesiapan Jasa Marga itu juga didukung oleh pusat riset dan pengembangan inovasi, Internet of Thinks (IoT) Laboratory.
Laboratorium ini didirikan perseroan untuk mengembangkan beragam pelayanan digital seperti transkasi keuangan, keamanan berkendara, traffic monitoring system dan lain-lain. Dipersaiapkan juga untuk mendukung bisnis jalan tol di masa depan. Melalui IoT Laboratory ini menunjukkan Jasa Marga sudah jauh-jauh hari mengantisipasi tawaran kerjasa sama seperti yang diajukan Roatex.
Tantangan bisnis ke depan akan semakin berat, apalagi Pandemi Covid 19 masih belum berakhir. Merebaknya virus yang mematikan itu, membuat ekonomi national terpuruk. Dampaknya juga dirasakan oleh Jasa Marga. Hal itu diakui oleh Direktur Utama Jasa Marga Subakti Syukur. “Dampak pandemi Covid-19 cukup memberikan imbas pada kinerja perseroan,”ujarnya.
Kebijakan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, serta PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah, membuat volume kendaraan yang melintasi jalan tol merosot. Imbasnya pendapatan dan laba yang dibukukan Jasa Marga pun ikut turun.
Subakti Syukur memperkirakan kinerja Jasa Marga di tahun 2020 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (2019). Pendapatan tol diproyeksikan lebih rendah 20% dari tahun 2019 sejalan dengan turunnya volume lalu lintas. " Laba bersih perusahaan juga turun secara proporsional," ujarnya.
Sebagai gambaran pada 2019, membukukan total pendapatan sebesar Rp 26,34 triliun. Pendapatan dari jalan tol berkontribusi sebesar Rp 10,13 triliun. Sedangkan, laba bersih yang berhasil dikantongi tercatat sebesar Rp 2,2 triliun.
Memasuki 2020, hingga kuartal III-2020 kinerja jasa marga memang lebih rendah dbandingkan dengan kuartal III/2019. Laba Bersih Jasa Marga sepanjang kuartal III-2020 tercatat Rp157,6 miliar, turun sebesar 89,50% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,50 triliun. Begitu juga dengan pendapatan, yang turun sedalam 50,13%. Dari Rp21,15 triliun di kurtal III-2019 menjadi Rp10,54 triliun.
Tahun 2021 ini, Jasa Marga telah menyusun rencana. Belanja modal atau Capex disiapkan sebesar Rp 7,75 triliun. Anggaran capex akan digunakan untuk pengembangan lini bisnis jalan tol. Pendapatan tol dan usaha lain perusahaan ditargetkan masih akan mengalami pertumbuhan sebesar 14% dan 4% dari prognosa 2020.
Meskipun pada waktu yang bersamaan, sejalan dengan telah beroperasinya ruas-ruas tol baru, beban bunga perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 33% dari prognosa 2020. Perseroan terus berusaha untuk menekan laju pertumbuhan beban melalui langkah efisiensi pada semua lini, sehingga EBITDA ditargetkan dapat tetap bertumbuh sebesar 12% dari prognosa 2020.
Mendung pasti akan berlalu, begitu juga dengan Pandemi Covid 19 juga pasti akan berakhir. Jalan Tol akan memegang peranan penting dalam menggerakan roda ekonomi pascapandemi. Saat kondisi ekonomi kembali normal, berbagai inovasi yang telah dilakukan Jasa Marga pasti berkontribusi besar terhadap perusahaan, sehingga membuat BUMN ini bangkit lebih cepat. Teknologi modern yang digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan tol juga akan mendongkrak kinerja Jasa Marga lebih tinggi.
Sebagai pengelola jalan tol terbesar di negeri ini, Jasa Marga pun diajak bekerjasama oleh Roatex Ltd Zrt Hongaria, untuk mengembangkan MLFF d Indonesia. Roatex perusahaan asal Hongaria yang telah ditetapkan oleh BPJT sebagai pememang tender penerapan MLFF di Indonesia.
Ajakan dari Roatex ini pun disambut baik oleh Jasa Marga. Subakti Syukur, mengatakan pihaknya siap siap dan menyambut baik ajakan kerjasama dari Roatex. Kesiapan Jasa Marga itu juga didukung oleh pusat riset dan pengembangan inovasi, Internet of Thinks (IoT) Laboratory.
Laboratorium ini didirikan perseroan untuk mengembangkan beragam pelayanan digital seperti transkasi keuangan, keamanan berkendara, traffic monitoring system dan lain-lain. Dipersaiapkan juga untuk mendukung bisnis jalan tol di masa depan. Melalui IoT Laboratory ini menunjukkan Jasa Marga sudah jauh-jauh hari mengantisipasi tawaran kerjasa sama seperti yang diajukan Roatex.
Tantangan bisnis ke depan akan semakin berat, apalagi Pandemi Covid 19 masih belum berakhir. Merebaknya virus yang mematikan itu, membuat ekonomi national terpuruk. Dampaknya juga dirasakan oleh Jasa Marga. Hal itu diakui oleh Direktur Utama Jasa Marga Subakti Syukur. “Dampak pandemi Covid-19 cukup memberikan imbas pada kinerja perseroan,”ujarnya.
Kebijakan bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, serta PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah, membuat volume kendaraan yang melintasi jalan tol merosot. Imbasnya pendapatan dan laba yang dibukukan Jasa Marga pun ikut turun.
Subakti Syukur memperkirakan kinerja Jasa Marga di tahun 2020 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (2019). Pendapatan tol diproyeksikan lebih rendah 20% dari tahun 2019 sejalan dengan turunnya volume lalu lintas. " Laba bersih perusahaan juga turun secara proporsional," ujarnya.
Sebagai gambaran pada 2019, membukukan total pendapatan sebesar Rp 26,34 triliun. Pendapatan dari jalan tol berkontribusi sebesar Rp 10,13 triliun. Sedangkan, laba bersih yang berhasil dikantongi tercatat sebesar Rp 2,2 triliun.
Memasuki 2020, hingga kuartal III-2020 kinerja jasa marga memang lebih rendah dbandingkan dengan kuartal III/2019. Laba Bersih Jasa Marga sepanjang kuartal III-2020 tercatat Rp157,6 miliar, turun sebesar 89,50% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,50 triliun. Begitu juga dengan pendapatan, yang turun sedalam 50,13%. Dari Rp21,15 triliun di kurtal III-2019 menjadi Rp10,54 triliun.
Tahun 2021 ini, Jasa Marga telah menyusun rencana. Belanja modal atau Capex disiapkan sebesar Rp 7,75 triliun. Anggaran capex akan digunakan untuk pengembangan lini bisnis jalan tol. Pendapatan tol dan usaha lain perusahaan ditargetkan masih akan mengalami pertumbuhan sebesar 14% dan 4% dari prognosa 2020.
Meskipun pada waktu yang bersamaan, sejalan dengan telah beroperasinya ruas-ruas tol baru, beban bunga perusahaan juga mengalami peningkatan sebesar 33% dari prognosa 2020. Perseroan terus berusaha untuk menekan laju pertumbuhan beban melalui langkah efisiensi pada semua lini, sehingga EBITDA ditargetkan dapat tetap bertumbuh sebesar 12% dari prognosa 2020.
Mendung pasti akan berlalu, begitu juga dengan Pandemi Covid 19 juga pasti akan berakhir. Jalan Tol akan memegang peranan penting dalam menggerakan roda ekonomi pascapandemi. Saat kondisi ekonomi kembali normal, berbagai inovasi yang telah dilakukan Jasa Marga pasti berkontribusi besar terhadap perusahaan, sehingga membuat BUMN ini bangkit lebih cepat. Teknologi modern yang digunakan untuk meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan tol juga akan mendongkrak kinerja Jasa Marga lebih tinggi.
(eko)
Lihat Juga :