Samara Suites Jadi Ladang Investasi Menggiurkan di Pusat Bisnis Jakarta
Senin, 08 Maret 2021 - 16:20 WIB
loading...
A
A
A
Di masa pandemi ini, Synthesis Development memilih untuk mengevaluasi beberapa proyek yang tengah dan akan dikembangkan ke depan. Edi mengatakan, pihaknya masih wait and see dan menimbang-nimbang secara cermat produk mana yang akan dirilis.
“Kami sebenarnya harus merilis minimal tiga proyek tahun ini, tetapi kami juga mesti melihat kondisi pasar. Kalau konsep dibuat lima tahun yang lalu, tentu harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Jika memaksakan konsep awal dengan situasi sekarang, bisa jadi produk tidak akan diserap pasar. Jadi konsep proyek harus dievaluasi dengan malihat pasar ke depan,” urainya.
Edi memberi contoh, rumah-rumah berukuran besar akan di-resize menjadi lebih kecil, sehingga ticketing price sesuai dengan pangsa pasar. Konsep desain dan layout rumah juga sudah harus disesuaikan dengan kondisi pandemi. Misalnya, sekarang orang butuh ruang kerja, roof top, dan ruang santai. ( Baca juga:Politikus Gerindra Sebut Moeldoko Bikin Malu, Sebaiknya Mundur dari KSP )
“Kita tidak tahu sampai kapan pandemi berlangsung. Dan pandemi ini sudah mengubah cara hidup dan kebiasaan orang, sehingga rumah pun harus disesuaikan. Dulu powder roo--toilet kecil dibuat khusus untuk tamu--di dalam rumah sempat ditinggalkan, namun setelah pandemi kembali diminati,” ucapnya.
Lebih lanjut, Asnedi menggarisbawahi bahwa harga properti tidak akan pernah turun. Properti di Jakarta juga akan tetap mahal dan kebutuhan properti di CBD area tidak akan pernah berhenti.
Menurutnya, kiblat tempat tinggal masyarakat tetap di tengah kota. Kalau kota penyangga berkembang, hal itu karena kebutuhan market makin tinggi, yang dipicu oleh ketidaksanggupan masyakarat membeli properti di tengah kota yang kian tak terjangkau.
“Nah, bila ada proyek di tengah kota, tetapi dengan harga kawasan penyangga kenapa tidak? Konsumen akan memperoleh fasilitas dan potensi sewa yang lebih baik. Salah satunya adalah Samara Suites,” pungkasnya.
“Kami sebenarnya harus merilis minimal tiga proyek tahun ini, tetapi kami juga mesti melihat kondisi pasar. Kalau konsep dibuat lima tahun yang lalu, tentu harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Jika memaksakan konsep awal dengan situasi sekarang, bisa jadi produk tidak akan diserap pasar. Jadi konsep proyek harus dievaluasi dengan malihat pasar ke depan,” urainya.
Edi memberi contoh, rumah-rumah berukuran besar akan di-resize menjadi lebih kecil, sehingga ticketing price sesuai dengan pangsa pasar. Konsep desain dan layout rumah juga sudah harus disesuaikan dengan kondisi pandemi. Misalnya, sekarang orang butuh ruang kerja, roof top, dan ruang santai. ( Baca juga:Politikus Gerindra Sebut Moeldoko Bikin Malu, Sebaiknya Mundur dari KSP )
“Kita tidak tahu sampai kapan pandemi berlangsung. Dan pandemi ini sudah mengubah cara hidup dan kebiasaan orang, sehingga rumah pun harus disesuaikan. Dulu powder roo--toilet kecil dibuat khusus untuk tamu--di dalam rumah sempat ditinggalkan, namun setelah pandemi kembali diminati,” ucapnya.
Lebih lanjut, Asnedi menggarisbawahi bahwa harga properti tidak akan pernah turun. Properti di Jakarta juga akan tetap mahal dan kebutuhan properti di CBD area tidak akan pernah berhenti.
Menurutnya, kiblat tempat tinggal masyarakat tetap di tengah kota. Kalau kota penyangga berkembang, hal itu karena kebutuhan market makin tinggi, yang dipicu oleh ketidaksanggupan masyakarat membeli properti di tengah kota yang kian tak terjangkau.
“Nah, bila ada proyek di tengah kota, tetapi dengan harga kawasan penyangga kenapa tidak? Konsumen akan memperoleh fasilitas dan potensi sewa yang lebih baik. Salah satunya adalah Samara Suites,” pungkasnya.
(uka)
Lihat Juga :