Mengintip Gesitnya Impor Barang Konsumsi di NKRI

Senin, 08 Maret 2021 - 20:34 WIB
loading...
Mengintip Gesitnya Impor...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, e-commerce boom di tahun 2015 bisa menjadi salah satu pembanding alasan terlontarnya diksi benci produk asing oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di mana saat e-commerce boom terjadi peningkatan impor barang konsumsi cukup besar.

"Jadi kisaran impor barang konsumsi itu peningkatannya atau pertumbuhan barang jauh lebih besar meski pun memang porsinya masih di bawah 10%, tapi meningkat cukup signifikan dalam waktu beberapa tahun dari 6%, 7% hingga 8% dan sampai sekarang kurang lebih mendekati 10%," katanya saat Konferensi Pers Indef bertajuk Produk Asing: Benci Tapi Rindu, Senin (8/3/2021).

Baca Juga: Jokowi Geram RI Banjir Produk Impor, Ekonom: Ya Salah Sendiri!

Menurut Ahmad, dengan kondisi tersebut impor bahan baku secara otomatis porsinya akan kalah meskupun terjadi pertumbuhan. Namun demikian pertumbuhannya masih lebih cepat dbandingkan barang konsumsi.

"Membandingkan dua periode ketika terjadi booming e-commerce setelah 2015 barang konsumsi itu peningkatannya sangat-sangat signifikan. Maka di sini saya mengambil kesimpulan bahwa jika kita tidak mempersiapkan daya saing produk lokal, maka yang terjadi adalah digitalisasi di tengah liberalisasi ini bisa menyebabkan deindustrialisasi," ujar dia.

Baca Juga: Jokowi: Produk Asing Boleh Dibenci, tapi Teknologinya Jangan!

Oleh karena itu, Indonesia diharapkan bisa mempersiapkan daya saing produk lokal dengan baik. Jika hal tersebut terjadi, maka digitalisasi akan memberikan akselerasi yang cukup berharga untuk peningkatan pertumbuhan industri Indonesia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Beberkan Penyebab...
Purbaya Beberkan Penyebab Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
Neraca Dagang RI Defisit...
Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
Cetak Rekor 70 Bulan...
Cetak Rekor 70 Bulan Berturut, Surplus Neraca Dagang RI di Februari 2026 Capai USD1,27 Miliar
Redam Risiko Lonjakan...
Redam Risiko Lonjakan Harga Minyak Dunia, INDEF: Kendaraan Listrik Jadi Strategi Krusial
Indef: MBG Investasi...
Indef: MBG Investasi Strategis Pembangunan Sumber Daya Manusia
CSED-Indef Dorong Reformasi...
CSED-Indef Dorong Reformasi Kelembagaan Haji dan Umrah
Rekomendasi
Jakarta Pro Cycling...
Jakarta Pro Cycling Team Raih 5 Medali di Kejurnas Road 2026, Aligya Keiko Bersinar dengan Emas
1 Abad Kelahiran Rahmi...
1 Abad Kelahiran Rahmi Hatta Momen Refleksi Nilai Keteladanan bagi Generasi Muda
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Curhat Sering Dicueki Anak, Syuting Jadi Obat Kesepian
Berita Terkini
Perkuat Kontribusi ke...
Perkuat Kontribusi ke Pembangunan Sultra, Setoran Pajak CNI Paling Besar
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Satu Sendok, Sejuta...
Satu Sendok, Sejuta Mitos: Sasa Luruskan Fakta MSG yang Benar
TAP Untuk Negeri Perkuat...
TAP Untuk Negeri Perkuat Produktivitas Petani Sawit Dukung Program B50
Percepat Program Prioritas...
Percepat Program Prioritas Ketahanan Pangan, KKP Dorong Kolaborasi Nasional
Inflasi Jakarta Terjaga...
Inflasi Jakarta Terjaga pada Level 0,41%, Terendah di Pulau Jawa
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved