Pengaruh Covid-19 Terhadap Ekonomi dan Belanja Konsumen di Asia Tenggara
Kamis, 25 Maret 2021 - 17:40 WIB
loading...
A
A
A
Ditambah serta diberlakukannya sanksi kepada mereka yang melanggar larangan atau protokol kesehatan, dan 21% masyarakat mengakui pengaruh peran aktif tokoh masyarakat (public figure/influencer) untuk memberikan contoh pola hidup baru (new normal) yang sesuai dengan protokol kesehatan yang benar dan sesuai anjuran Pemerintah, seperti menghindari kerumunan, memakai masker ketika berinteraksi dimana pun, dan lainnya.
Ekonomi dan Pendapatan Masyarakat
Secara umum, perekonomian negara di Asia Tenggara masih dalam tekanan akibat pandemi, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan hasil survei Ipsos pada gelombang ketiga ini, 30% masyarakat negara Asia Tenggara merasa situasi ekonomi negara meraka saat ini baik. Untuk Indonesia sendiri, 25% masyarakat mengakui ekonomi nasional saat ini baik.
Melihat 6 bulan ke depan, 42% masyarakat Asia Tenggara yakin perekonomian akan membaik. Meskipun bila dibandingan dengan hasil survei gelombang kedua pada bulan September 2020, optimisme masyarakat Asia Tenggara turun 4% (46% optimis pada survei gelombang kedua).
Indonesia sendiri konsisten muncul sebagai negara paling optimis di antara negeri Asia Tenggara lain, akan adanya pemulihan dan peningkatan ekonomi nasional dalam 6 bulan ke depan, dengan presentase 76%. Daripada hasil survei kedua, optimisme ini meningkat 1% (75% masyarakat optimis di survei September 2020).
Meskipun peningkatannya terlihat kurang signifikan, Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan negara lain yang tingkat optimismenya lebih rendah dan justru cenderung mengalami penurunan dari survei gelombang kedua (September 2020) dan ketiga (Februari 2021), seperti Filipina berada diperingkat kedua (49%), Singapura (37%),Vietnam (35%) dan Thailand (30%), dan Malaysia (24%).
Lebih rinci lagi, hasil survei gelombang ketiga ini juga mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Asia Tenggara optimis akan adanya pemulihan pendapatan dalam 6 bulan ke depan. Di Indonesia sendiri, 31% masyarakat optimis pendapatan mereka akan pulih dan meningkat, 45% berpendapat akan sama dengan saat ini, dan 24% mungkin akan memburuk.
Berbeda dengan Malaysia dan Thailand yang justru lebih pesimis pendapatan mereka akan pulih atau meningkat bahwa mungkin memburuk. Empat puluh satu persen (41%) masyarakat Malaysia sentiment pendapatnnya akan memburuk, dan 38% untuk Thailand.
“Penurunan tingkat infeksi dan rencana vaksinasi yang efektif dari Pemerintah memainkan peran kunci dalam membangun kembali kepercayaan ekonomi dan belanja konsumen, seperti yang terlihat di Singapura. Bisnis yang beroperasi di Filipina, Indonesia, dan Vietnam perlu memanfaatkan optimisme negara yang positif. Lonjakan infeksi Covid-19 baru-baru ini di Malaysia dan Thailand, sementara dikendalikan, memerlukan pelonggaran bertahap dari pembatasan dan kampanye yang rumit untuk mempromosikan vaksinasi,” ujar CEO Ipsos South East Asia, Suresh Ramalingam.
Menurut Soeprapto Tan, Paling tingginya optimisme masyarakat Indonesia terhadap adanya pemulihan ekonomi nasional maupun pendapatan mereka merupakan pencapaian tersendiri, termasuk Pemerintah. Terlebih ketika survei ini dilakukan pada Februari 2021 lalu, Indonesia tengah dalam penerapan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) khususnya Jawa dan Bali, yang notabene mayoritas aktivitas bisnis terpusat di sana, namun kita masih optimis.
"Selain itu, optimisme ini juga dipengaruhi oleh vaksinasi yang dimulai sejak Januari 2021. Masyarakat semakin yakin bahwa dengan vaksinasi ini imunitas kelompok (herd immunity) akan terbentuk, ekonomi terdongkrak, dan kita bisa keluar dari masa kelam pandemi ini," paparnya.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Dalam survei terbaru ini, Ipsos juga meneliti sejauhmana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi penopang ekonomi Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil survei yang didapat mengingat industri tersebut mendapat porsi pembelian tertinggi sebelum dan selama pandemi.
Sebelum pandemi, lebih dari setengah masyarakat Indonesia telah membeli produk industri usaha kecil menengah (54%) dan industri mikro atau bisnis rumahan (44%).
Pandemi tentu mengubah preferensi atau pilihan jenis produk masyarakat Indonesia. Selama, pandemi produk industri rumahan atau bisnis mikro adalah yang paling sedikit terimbas oleh pandemi (42%) dibandingkan sebelum pandemi turun 2%.
Ekonomi dan Pendapatan Masyarakat
Secara umum, perekonomian negara di Asia Tenggara masih dalam tekanan akibat pandemi, tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan hasil survei Ipsos pada gelombang ketiga ini, 30% masyarakat negara Asia Tenggara merasa situasi ekonomi negara meraka saat ini baik. Untuk Indonesia sendiri, 25% masyarakat mengakui ekonomi nasional saat ini baik.
Melihat 6 bulan ke depan, 42% masyarakat Asia Tenggara yakin perekonomian akan membaik. Meskipun bila dibandingan dengan hasil survei gelombang kedua pada bulan September 2020, optimisme masyarakat Asia Tenggara turun 4% (46% optimis pada survei gelombang kedua).
Indonesia sendiri konsisten muncul sebagai negara paling optimis di antara negeri Asia Tenggara lain, akan adanya pemulihan dan peningkatan ekonomi nasional dalam 6 bulan ke depan, dengan presentase 76%. Daripada hasil survei kedua, optimisme ini meningkat 1% (75% masyarakat optimis di survei September 2020).
Meskipun peningkatannya terlihat kurang signifikan, Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan negara lain yang tingkat optimismenya lebih rendah dan justru cenderung mengalami penurunan dari survei gelombang kedua (September 2020) dan ketiga (Februari 2021), seperti Filipina berada diperingkat kedua (49%), Singapura (37%),Vietnam (35%) dan Thailand (30%), dan Malaysia (24%).
Lebih rinci lagi, hasil survei gelombang ketiga ini juga mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat Asia Tenggara optimis akan adanya pemulihan pendapatan dalam 6 bulan ke depan. Di Indonesia sendiri, 31% masyarakat optimis pendapatan mereka akan pulih dan meningkat, 45% berpendapat akan sama dengan saat ini, dan 24% mungkin akan memburuk.
Berbeda dengan Malaysia dan Thailand yang justru lebih pesimis pendapatan mereka akan pulih atau meningkat bahwa mungkin memburuk. Empat puluh satu persen (41%) masyarakat Malaysia sentiment pendapatnnya akan memburuk, dan 38% untuk Thailand.
“Penurunan tingkat infeksi dan rencana vaksinasi yang efektif dari Pemerintah memainkan peran kunci dalam membangun kembali kepercayaan ekonomi dan belanja konsumen, seperti yang terlihat di Singapura. Bisnis yang beroperasi di Filipina, Indonesia, dan Vietnam perlu memanfaatkan optimisme negara yang positif. Lonjakan infeksi Covid-19 baru-baru ini di Malaysia dan Thailand, sementara dikendalikan, memerlukan pelonggaran bertahap dari pembatasan dan kampanye yang rumit untuk mempromosikan vaksinasi,” ujar CEO Ipsos South East Asia, Suresh Ramalingam.
Menurut Soeprapto Tan, Paling tingginya optimisme masyarakat Indonesia terhadap adanya pemulihan ekonomi nasional maupun pendapatan mereka merupakan pencapaian tersendiri, termasuk Pemerintah. Terlebih ketika survei ini dilakukan pada Februari 2021 lalu, Indonesia tengah dalam penerapan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) khususnya Jawa dan Bali, yang notabene mayoritas aktivitas bisnis terpusat di sana, namun kita masih optimis.
"Selain itu, optimisme ini juga dipengaruhi oleh vaksinasi yang dimulai sejak Januari 2021. Masyarakat semakin yakin bahwa dengan vaksinasi ini imunitas kelompok (herd immunity) akan terbentuk, ekonomi terdongkrak, dan kita bisa keluar dari masa kelam pandemi ini," paparnya.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Dalam survei terbaru ini, Ipsos juga meneliti sejauhmana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi penopang ekonomi Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil survei yang didapat mengingat industri tersebut mendapat porsi pembelian tertinggi sebelum dan selama pandemi.
Sebelum pandemi, lebih dari setengah masyarakat Indonesia telah membeli produk industri usaha kecil menengah (54%) dan industri mikro atau bisnis rumahan (44%).
Pandemi tentu mengubah preferensi atau pilihan jenis produk masyarakat Indonesia. Selama, pandemi produk industri rumahan atau bisnis mikro adalah yang paling sedikit terimbas oleh pandemi (42%) dibandingkan sebelum pandemi turun 2%.
Lihat Juga :