Menristek : Inovasi Masa Depan Indonesia
Kamis, 01 April 2021 - 22:00 WIB
loading...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang PS Brodjonegoro menyatakan bahwa istilah ‘digital innovation’ seyogyanya tidak hanya sekadar istilah yang dilekatkan pada sebuah penganugerahan penghargaan.
Bambang menyebut bahwa makna ‘digital innovation’ kini lebih dalam lagi, yaitu sebagai masa depan Indonesia. Hal ini berkaitan dengan target pemerintah yang menginginkan agar pada tahun 2045 mendatang Indonesia telah lepas dari jebakan pendapatan kelas menengah ke atas, dan beranjak menjadi negara maju dengan pendapatan rata-rata yang tinggi.
“Untuk menuju ke sana jelas bukan satu hal yang mudah. Diperlukan perubahan mindset secara mendasar dari kita yang selama ini masih mengandalkan kegiatan ekonomi berbasis natural resources menjadi berbasis innovation. Artinya inovasi harus menjadi arus utama (mainstream) dalam setiap kegiatan ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Bambang dalam penghargaan Indonesia Digital Innovation Awards (IDIA) 2021, Kamis (1/4/2021).
Baca Juga: Jaga Inflasi Ramadan & Lebaran, Ini Upaya BI
Menurut Bambang, saat ini Indonesia masih berada di peringkat 85 dari daftar 165 negara yang masih dalam Global Innovation Index 2020 lalu. Peringkat tersebut cukup jauh di bawah beberapa negara tetangga, seperti Thailand (peringkat 44), Malaysia (peringkat 33) dan Singapura yang malah masuk peringkat 10 besar, tepatnya berada di peringkat delapan.
“Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat kita tertinggal. Pertama soal institusi. Masih banyak institusi kita yang belum mampu mendorong dan ramah terhadap terciptanya inovasi di lembaga itu sendiri,” kata Bambang.
Sedangkan faktor kedua, disebut Bambang, adalah faktor kapital dan sumber daya manusia (SDM). Bagaimana pun untuk menciptakan sebuah inovasi yang hebat membutuhkan SDM yang andal dan mumpuni di bidangnya masing-masing. Selain itu, daya dukung dari tersedianya lembaga-lembaga riset juga turut membantu mengatasi kelemahan di faktor SDM ini.
Bambang menyebut bahwa makna ‘digital innovation’ kini lebih dalam lagi, yaitu sebagai masa depan Indonesia. Hal ini berkaitan dengan target pemerintah yang menginginkan agar pada tahun 2045 mendatang Indonesia telah lepas dari jebakan pendapatan kelas menengah ke atas, dan beranjak menjadi negara maju dengan pendapatan rata-rata yang tinggi.
“Untuk menuju ke sana jelas bukan satu hal yang mudah. Diperlukan perubahan mindset secara mendasar dari kita yang selama ini masih mengandalkan kegiatan ekonomi berbasis natural resources menjadi berbasis innovation. Artinya inovasi harus menjadi arus utama (mainstream) dalam setiap kegiatan ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Bambang dalam penghargaan Indonesia Digital Innovation Awards (IDIA) 2021, Kamis (1/4/2021).
Baca Juga: Jaga Inflasi Ramadan & Lebaran, Ini Upaya BI
Menurut Bambang, saat ini Indonesia masih berada di peringkat 85 dari daftar 165 negara yang masih dalam Global Innovation Index 2020 lalu. Peringkat tersebut cukup jauh di bawah beberapa negara tetangga, seperti Thailand (peringkat 44), Malaysia (peringkat 33) dan Singapura yang malah masuk peringkat 10 besar, tepatnya berada di peringkat delapan.
“Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat kita tertinggal. Pertama soal institusi. Masih banyak institusi kita yang belum mampu mendorong dan ramah terhadap terciptanya inovasi di lembaga itu sendiri,” kata Bambang.
Sedangkan faktor kedua, disebut Bambang, adalah faktor kapital dan sumber daya manusia (SDM). Bagaimana pun untuk menciptakan sebuah inovasi yang hebat membutuhkan SDM yang andal dan mumpuni di bidangnya masing-masing. Selain itu, daya dukung dari tersedianya lembaga-lembaga riset juga turut membantu mengatasi kelemahan di faktor SDM ini.
Lihat Juga :