Menakar Prospek Industri Baja Ringan Nasional di Tengah Pandemi
Selasa, 11 Mei 2021 - 19:48 WIB
loading...
A
A
A
"Sementara itu kondisi harga baja dunia saat ini yang mengalami kenaikan hingga 100 persen dibanding tahun sebelumnya dan berkuruangnya suplay baja internasional akibat adanya issue emisi kontrol yang bergulir di negeri china berdampak pada terbatasnya supply baja," ungkapnya.
Rijal berujar, kondisi tersebut akan semakin diperburuk karena diterapkannya kebijakan pembatalan tax rebate untuk produk-produk baja oleh pemerintah China. Di satu sisi pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan kebijakan Anti dumping sektor BjLAS yang tentunya semakin membebani industri baja ringan nasional serta masyarakat luas selaku pengguna produk.
"Harga Baja akan mengalami kenaikan berlipat jika kebijakan anti dumping diterapkan, harga produk BjLAS akan mengalami kenaikan berkali lipat akibatnya membebani masyarakat pengguna prodak BjLAS secara luas. Oleh karena itu pemerintah harus hati-hati dalam mengambil kebijakan anti dumping, jangan sampai dampak ekonomi akibat kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku baja BjLAS menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akhir-akhir ini mengalami trend positif," tandasnya.
Baca Juga: Produsen Baja Ringan Investasi USD4,9 Juta di Kawasan Industri Kendal
Rijal menekankan, bahwa perkembangan impor Baja BjLAS pada quartal pertama tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 47% dibandingkan quartal pertama tahun 201.
"Sementara untuk tahun 2020, lantaran pandemi tidak bisa dijadikan patokan karena resesi ekonomi nasional yang minus. Terdapatnya peningkatan import Baja BjLAS diquartal satu tahun 2021 diakibatkan lantaran pengunduran jadwal dari importasi diquartal empat tahun 2020 dikarenakan terbatasnya ketersediaan kargo untuk melakukan importasi," jelas Ekonom yang juga Aktivis muda ini.
Rijal berujar, kondisi tersebut akan semakin diperburuk karena diterapkannya kebijakan pembatalan tax rebate untuk produk-produk baja oleh pemerintah China. Di satu sisi pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan kebijakan Anti dumping sektor BjLAS yang tentunya semakin membebani industri baja ringan nasional serta masyarakat luas selaku pengguna produk.
"Harga Baja akan mengalami kenaikan berlipat jika kebijakan anti dumping diterapkan, harga produk BjLAS akan mengalami kenaikan berkali lipat akibatnya membebani masyarakat pengguna prodak BjLAS secara luas. Oleh karena itu pemerintah harus hati-hati dalam mengambil kebijakan anti dumping, jangan sampai dampak ekonomi akibat kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku baja BjLAS menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akhir-akhir ini mengalami trend positif," tandasnya.
Baca Juga: Produsen Baja Ringan Investasi USD4,9 Juta di Kawasan Industri Kendal
Rijal menekankan, bahwa perkembangan impor Baja BjLAS pada quartal pertama tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 47% dibandingkan quartal pertama tahun 201.
"Sementara untuk tahun 2020, lantaran pandemi tidak bisa dijadikan patokan karena resesi ekonomi nasional yang minus. Terdapatnya peningkatan import Baja BjLAS diquartal satu tahun 2021 diakibatkan lantaran pengunduran jadwal dari importasi diquartal empat tahun 2020 dikarenakan terbatasnya ketersediaan kargo untuk melakukan importasi," jelas Ekonom yang juga Aktivis muda ini.
Lihat Juga :