Beli Klub Bola, Raffi Ahmad Cs Diingatkan Siap Hadapi Hukum Alam
Selasa, 15 Juni 2021 - 06:39 WIB
loading...
A
A
A
Gatot menuturkan pernah ada pengusaha yang membeli klub bola Indonesia beberapa tahun lalu. Namun, setelah banyak rugi dan tidak mendongkrak bisnisnya, secara perlahan yang sang pengusaha mundur dari industri sepakbola Tanah Air. Namun, kata dia, sosok Raffi Ahmad, Atta Halilintar, Gading Marten, dan Kaesang dianggap memiliki keunggulan lain yang tidak memiliki pengusaha, yakni bisa menarik sponsor untuk membenamkan fulusnya.
Terkait pencarian sponsor, Gatot memperkirakan memang tidak akan mudah. Sebab, klub yang dibeli para investor itu kini berada di lapis kedua kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Namun, kata dia, hal itu bisa dimaklumi karena ini meriupakan tahap awal.
Gatot mencontohkan, di luar negeri banyak selebritis dunia membenamkan dananya di sepakbola dan biasanya memilih klub kasta kedua. Misalnya, pebasket NBA Steve Nash yang membeli Real Mallorca di Liga Spanyol.
“Di Negara manapun mereka rata-ratanya masuknya tidak otomatis (ke klub besar) kecuali keuangannya luar biasa. Para (taipan) Timur Tengah dan Roman (Abramovich), ibaratnya rekeningnya enggak ada nomor serinya. Itu mereka enggak tanggung-tanggung. Orang-orang Qatar berapa klub di Eropa yang dimiliki,” terangnya.
Pengamat sepakbola Weshley Hutagalung menyambut hangat keterlibatan anak-anak muda yang masuk menjadi investor atau pemilik klub-klub sepakbola tanah air. Menurut dia, keterlibatan anak-anak muda itu mungkin saja bisa membawa gaya baru dan perubahan dalam cara pengelolaan sepakbola di Indonesia.
Di sisi lain, jika fenomena keterlibatan anak-anak muda itu dikomparasikan dengan negara-negara tentu agak susah, misalnya dikomparasikan dengan Thailand. Musababnya, kata Weshley, selama orang Indonesia maupun pemilik-pemilik klub sepakbola di tanah air tidak memahami secara utuh posisi dan nilai sepakbola, maka makna dan tujuan sepakbola sesungguhnya tidak tercapai.
Terkait pencarian sponsor, Gatot memperkirakan memang tidak akan mudah. Sebab, klub yang dibeli para investor itu kini berada di lapis kedua kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Namun, kata dia, hal itu bisa dimaklumi karena ini meriupakan tahap awal.
Gatot mencontohkan, di luar negeri banyak selebritis dunia membenamkan dananya di sepakbola dan biasanya memilih klub kasta kedua. Misalnya, pebasket NBA Steve Nash yang membeli Real Mallorca di Liga Spanyol.
“Di Negara manapun mereka rata-ratanya masuknya tidak otomatis (ke klub besar) kecuali keuangannya luar biasa. Para (taipan) Timur Tengah dan Roman (Abramovich), ibaratnya rekeningnya enggak ada nomor serinya. Itu mereka enggak tanggung-tanggung. Orang-orang Qatar berapa klub di Eropa yang dimiliki,” terangnya.
Pengamat sepakbola Weshley Hutagalung menyambut hangat keterlibatan anak-anak muda yang masuk menjadi investor atau pemilik klub-klub sepakbola tanah air. Menurut dia, keterlibatan anak-anak muda itu mungkin saja bisa membawa gaya baru dan perubahan dalam cara pengelolaan sepakbola di Indonesia.
Di sisi lain, jika fenomena keterlibatan anak-anak muda itu dikomparasikan dengan negara-negara tentu agak susah, misalnya dikomparasikan dengan Thailand. Musababnya, kata Weshley, selama orang Indonesia maupun pemilik-pemilik klub sepakbola di tanah air tidak memahami secara utuh posisi dan nilai sepakbola, maka makna dan tujuan sepakbola sesungguhnya tidak tercapai.
Lihat Juga :