Di Hadapan DPR, Wamen BUMN Beberkan Penyebab Keuangan BUMN Karya Porak-Poranda

Kamis, 08 Juli 2021 - 16:29 WIB
loading...
Di Hadapan DPR, Wamen...
Foto/ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Di hadapan Komisi VI DPR , saat rapat kerja bersama Kamis (8/7/2021), Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo membeberkan kondisi keuangan BUMN karya yang semakin memprihatinkan. Pandemi Covid-19 yang berdampak pada kontrak baru dan penjualan perusahaan menjadi penyebab utama.

"Kondisi BUMN karya saat ini cukup memprihatinkan terutama akibat kombinasi dari dua hal. Pertama, karena ada tekanan pandemi Covid-19 yang berdampak pada kontrak baru dan penjualan," ujar Kartika.

Tiko, sapaan akrab Kartika, menjelaskan, penugasan pemerintah kepada perusahaan untuk menjalankan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tidak didukung dengan penyertaan modal negara (PMN) yang memadai pun menjadi penyebab lain. Perkara tersebut dinilai memengaruhi keuangan perusahaan.

Baca juga:Terjun ke Daerah Operasi di Papua, Ini Pesan Dudung Abdurahman ke Prajurit TNI

"Seperti kita ketahui, hampir tidak ada PMN di tahun lalu, 2017- 2019 yang menanggung PSN (adalah perusahaan)," katanya.

Dia memaparkan, kondisi tersebut dialami oleh Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perumnas) Perusahaan saat ini tengah mengalami penurunan pendapatan karena penjualan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tercatat melandai.

Sementara, inventori rumah Perumnas tercatat tinggi sehingga menyebabkan rasio utang terhadap ekuitas menjadi naik. Untuk memastikan neraca maupun kekuatan ekuitas yang memadai, pemegang saham menginginkan ada tambahan PMN untuk memastikan penugasan Perumnas dalam membangun rumah bagi MBR bisa dilanjutkan.

Hal serupa juga dialami PT Waskita Karya (Persero) Tbk,. Tiko mengungkap, sejak 2015-2016 emiten ditugaskan negara untuk mengambil alih dan melanjutkan sejumlah proyek jalan tol di Jawa yang mangkrak. Tak pelak, aksi korporasi itu menyebabkan utang Waskita meningkat.

"Akan ada skema restrukturisasi menyeluruh, ada dua skema penjaminan proyek yang ada dan juga modal baru Rp79 triliun terutama memperkuat permodalan, karena banyak modal yang terserap dari masa lalu," kata dia.

PT Hutama Karya (Persero) pun tengah memikul beban keuangan. Saat ini, perseroan tengah mengerjakan proyek tol Trans Sumatera, namun selama dua tahun PMN untuk perusahaan mengalami keterlambatan.

Tiko mencatat, aset perusahaan meningkat, tapi nilai utang naik signifikan, sedangkan ekuitas tidak bertambah. Kondisi itu, membuat keuangannya tertekan.

Baca juga:Elon Musk Akui Sulit Bikin Mobil Self-Driving

Sementara, untuk menyelesaikan Tol Trans Sumatera tahap 1, manajemen membutuhkan anggaran senilai Rp66 triliun. Skema dana akan diberikan secara bertahap pada 2021 ini.

"Tadi sudah ditambahkan menjadi Rp25 triliun dan pada tahun 2022 diharapkan akan ada Rp30 triliun lagi untuk bisa memperkuat dan menyelesaikan tol Trans Sumatera tahap 1. Kemungkinan sisanya akan diberikan pada tahun 2023," kata dia.

Senasib, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, atau WIKA pun membutuhkan bantuan pendanaan dari pemerintah. Pemegang saham menilai, pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengharuskan negara menggelontorkan dana kepada perusahaan.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MSIN Putuskan Tak Bagi...
MSIN Putuskan Tak Bagi Dividen, Fokus Perkuat Platform Digital
Kinerja Keuangan Impresif,...
Kinerja Keuangan Impresif, MNC Kapital Rombak Direksi dan Bidik Penambahan Modal
Kinerja Apik 2025, INALUM...
Kinerja Apik 2025, INALUM Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Kinerja Keuangan BRI...
Kinerja Keuangan BRI Kokoh hingga Triwulan I 2026, Likuiditas dan Permodalan Terjaga
MARK Tetapkan Dividen...
MARK Tetapkan Dividen dan Proyeksi Laba 2026, Yield Berpotensi Double Digit
Kritik Pemadaman Listrik,...
Kritik Pemadaman Listrik, Komisi VI DPR: Tidak Boleh Lagi Terjadi
Harga Minyak Dunia Sudah...
Harga Minyak Dunia Sudah Turun, PDIP Minta Pemerintah Evaluasi Harga Pertamax
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Rekomendasi
Prabowo: Polri Harus...
Prabowo: Polri Harus Hadir Melindungi, Melayani, dan Mengabdi kepada Rakyat
Prabowo Beri Penghargaan...
Prabowo Beri Penghargaan Nugraha Sakanti ke Polda Riau, Kapolda: Milik Seluruh Personel
Komentar Judi Online...
Komentar Judi Online Dinilai Bukan Sekadar Promosi, Pakar: Tapi Upaya Provokasi Sistematis
Berita Terkini
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
Digitalisasi Kunci Kecepatan...
Digitalisasi Kunci Kecepatan Jasa Raharja Cairkan Santunan Korban Kecelakaan
Indonesia-Belarus Bidik...
Indonesia-Belarus Bidik Peningkatan Perdagangan dan Investasi Bilateral
DJP Targetkan Pajak...
DJP Targetkan Pajak Digital Melonjak Dua Kali Lipat, dari Marketpalce Rp24 Triliun
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
Investor RI Mulai Lirik...
Investor RI Mulai Lirik Saham AI Global, Bittime Hadirkan Fitur Earn
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved