Wakil Ketua Banggar: Ekonomi Sudah di Jalur Pemulihan yang Tepat
Kamis, 05 Agustus 2021 - 13:54 WIB
loading...
A
A
A
"Usaha yang dilakukan Pemerintah untuk menjaga momentum pemulihan dan perbaikan ekonomi ini mendapatkan hasil yang baik. Ekonomi Indonesia triwulan II/2021 dibanding triwulan II/2020 mengalami pertumbuhan sebesar 7,07%," ujarnya.
Muhidin menambahkan, pertumbuhan terjadi pada semua lapangan usaha. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah transportasi dan pergudangan sebesar 25,10% dan penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 21,58%. Sementara itu, industri pengolahan yang memiliki peran dominan juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,58%.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran pada triwulan II/2021 terhadap triwulan II/2020 (y-on-y) menunjukkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 31,78%; diikuti oleh komponen belanja pemerintah dan pembentukan modal bruto atau investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 8,06% dan 7,54%. Sementara itu, komponen impor barang dan jasa tumbuh 31,22%. Sedangkan konsumsi tumbuh pada angka 5,93%.
Terus membaiknya pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha menurutnya menunjukkan sektor transportasi dan industri mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan. Perekonomian sudah mulai pulih sehingga menyebabkan permintaan terhadap barang dan jasa mengalami peningkatan.
Selain itu, berdasarkan pengeluaran, kinerja ekspor dan belanja Pemerintah menjadi motor pertumbuhan, ini sejalan dengan perbaikan sektor industri dan berjalan efektifnya program perlindungan sosial bagi masyarakat, terutama untuk menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat. Sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil pada angka 5,93% (yoy).
"Kita menyambut baik, membaiknya kinerja ekspor nasional, sehingga menggairahkan kembali industri nasional. Selain itu, pulihnya sektor UMKM juga menjadi salah satu pendorong mulai membaiknya perekonomian nasional," katanya.
Akan tetapi, imbuh Muhidin, Indonesia tidak boleh lengah, masih tingginya penyebaran Covid-19 serta kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dimulai pada tanggal 5 Juli hingga 9 Agustus 2021, tentu akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian dan pelaksanaan APBN pada paruh triwulan III dan IV tahun 2021.
Selain itu, kata dia, Indonesia juga perlu terus mewaspadai dinamika kondisi moneter di Amerika Serikat, yaitu kebijakan tapering off dan kenaikan suku bunga acuan The Fed yang berpotensi menimbulkan dampak ikutan bagi perekonomian nasional, khususnya terhadap nilai tukar rupiah dan suku bunga SBN.
Muhidin menambahkan, pertumbuhan terjadi pada semua lapangan usaha. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah transportasi dan pergudangan sebesar 25,10% dan penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 21,58%. Sementara itu, industri pengolahan yang memiliki peran dominan juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,58%.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran pada triwulan II/2021 terhadap triwulan II/2020 (y-on-y) menunjukkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 31,78%; diikuti oleh komponen belanja pemerintah dan pembentukan modal bruto atau investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 8,06% dan 7,54%. Sementara itu, komponen impor barang dan jasa tumbuh 31,22%. Sedangkan konsumsi tumbuh pada angka 5,93%.
Terus membaiknya pertumbuhan ekonomi berdasarkan lapangan usaha menurutnya menunjukkan sektor transportasi dan industri mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan. Perekonomian sudah mulai pulih sehingga menyebabkan permintaan terhadap barang dan jasa mengalami peningkatan.
Selain itu, berdasarkan pengeluaran, kinerja ekspor dan belanja Pemerintah menjadi motor pertumbuhan, ini sejalan dengan perbaikan sektor industri dan berjalan efektifnya program perlindungan sosial bagi masyarakat, terutama untuk menjaga daya beli dan konsumsi masyarakat. Sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil pada angka 5,93% (yoy).
"Kita menyambut baik, membaiknya kinerja ekspor nasional, sehingga menggairahkan kembali industri nasional. Selain itu, pulihnya sektor UMKM juga menjadi salah satu pendorong mulai membaiknya perekonomian nasional," katanya.
Akan tetapi, imbuh Muhidin, Indonesia tidak boleh lengah, masih tingginya penyebaran Covid-19 serta kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dimulai pada tanggal 5 Juli hingga 9 Agustus 2021, tentu akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian dan pelaksanaan APBN pada paruh triwulan III dan IV tahun 2021.
Selain itu, kata dia, Indonesia juga perlu terus mewaspadai dinamika kondisi moneter di Amerika Serikat, yaitu kebijakan tapering off dan kenaikan suku bunga acuan The Fed yang berpotensi menimbulkan dampak ikutan bagi perekonomian nasional, khususnya terhadap nilai tukar rupiah dan suku bunga SBN.
Lihat Juga :