Pembibitan Mangrove Untungkan Masyarakat Secara Ekonomi
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 21:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Solihin dengan bangga, kelompok yang berdiri sejak 2011 itu, telah mengerjakan program penanaman mangrove dari BPDASHL Wampu Sei Ular di akhir tahun 2020 lalu. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keutuhan ekosistem mangrove. Sebab, di kawasan mangrove tersebut terdapat tambak alam yang menjadi mata pencaharian warga.
“Jadi di sini penambak memang ikut terlibat dalam kelompok kami. Malah mereka berharap tambaknya ditanami mangrove,” ujar dia.
Keinginan kuat menanam mangrove ini karena warga belajar dari kesalahan masa lalu. Kala itu, beberapa warga kerap menebangi mangrove untuk pembuatan arang. Warga juga membabat mangrove untuk membuka tambak dengan anggapan bisa meningkatkan hasil tangkapan ikan dan kepiting.
Akibatnya, meski ikan dan kepiting yang dihasilkan dalam setahun melimpah, namun sifatnya jangka pendek, setelah itu populasinya menurun drastis. “Ekosistemnya rusak. Ikan, udang, kepiting hilang. Kita belajar jadinya, mangrove itu memang perlu dijaga kealamiannya,” kata dia.
Untuk tambak yang juga sudah ditanami bibit mangrove, kata Solihin, nelayan bisa dua kali panen, pada saat pasang bulan purnama dan pasang bulan gelap, masing-masing menghasilkan Rp2 juta dan Rp1,5 juta.
Sementara untuk panen ikan, penambak bisa panen enam bulan sekali. Ikan yang dihasilkan pun bermacam-macam, misalnya, ikan sembilang, ikan siakap, ikan nila, dan ikan kerapu.
“Jadi di sini penambak memang ikut terlibat dalam kelompok kami. Malah mereka berharap tambaknya ditanami mangrove,” ujar dia.
Keinginan kuat menanam mangrove ini karena warga belajar dari kesalahan masa lalu. Kala itu, beberapa warga kerap menebangi mangrove untuk pembuatan arang. Warga juga membabat mangrove untuk membuka tambak dengan anggapan bisa meningkatkan hasil tangkapan ikan dan kepiting.
Akibatnya, meski ikan dan kepiting yang dihasilkan dalam setahun melimpah, namun sifatnya jangka pendek, setelah itu populasinya menurun drastis. “Ekosistemnya rusak. Ikan, udang, kepiting hilang. Kita belajar jadinya, mangrove itu memang perlu dijaga kealamiannya,” kata dia.
Untuk tambak yang juga sudah ditanami bibit mangrove, kata Solihin, nelayan bisa dua kali panen, pada saat pasang bulan purnama dan pasang bulan gelap, masing-masing menghasilkan Rp2 juta dan Rp1,5 juta.
Sementara untuk panen ikan, penambak bisa panen enam bulan sekali. Ikan yang dihasilkan pun bermacam-macam, misalnya, ikan sembilang, ikan siakap, ikan nila, dan ikan kerapu.
Lihat Juga :