PM Malaysia Mundur, Ringgit Jatuh ke Level Terendah
Senin, 16 Agustus 2021 - 19:37 WIB
loading...
Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassid. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Tan Sri Muhyiddin Yassid resmi mengundurkan diri sebagai perdana menteri (PM) Malaysia setelah kehilangan kepercayaan dari parlemen, Senin (16/8/2021).
Pihak oposisi menilai Muhyiddin melanggar konstitusi, terutama saat dirinya terlibat selisih pendapat dengan Raja Malaysia Sultan Abdullah, ihwal pemberlakuan status darurat di Malaysia. Kendati demikian, Muhyiddin masih menjadi PM sementara sambil menunggu pemimpin baru terpilih.
Pengunduran diri ini memicu sejumlah pergerakan ekonomi di Negeri Jiran. Mata uang Ringgit terpantau jatuh di level terendahnya sepanjang tahun ini. Ringgit turun sekitar 0,1 persen menyentuh 4,24 per dolar Amerika Serikat (AS), terendah sejak Juli 2020. Sedangkan indeks saham acuan juga terperosok 0,4 persen.
"Masalahnya adalah tidak adanya penggantian yang jelas yang justru meningkatkan ketidakpastian lebih lanjut dan itu berarti akan terjadi stagnansi ekonomi," kata Trinh Nguyen, Ekonom Senior Natixis di Hong Kong, dilansir Reuters, Senin (16/8/2021).
Baca juga: PM Malaysia Muhyiddin Yassin dan Kabinetnya Mengundurkan Diri
Penurunan mata uang Ringgit dinilai masih terus berlanjut imbas dari ketidakstabilan politik yang berlarut-larut. “Krisis politik yang sedang berlangsung saat ini, sangat sulit untuk melihat Malaysia meningkatkan tren pertumbuhan yang berbeda. Itu berarti akan semakin jauh tertinggal dari rekan-rekan regional seperti Vietnam,” urainya.
Pihak oposisi menilai Muhyiddin melanggar konstitusi, terutama saat dirinya terlibat selisih pendapat dengan Raja Malaysia Sultan Abdullah, ihwal pemberlakuan status darurat di Malaysia. Kendati demikian, Muhyiddin masih menjadi PM sementara sambil menunggu pemimpin baru terpilih.
Pengunduran diri ini memicu sejumlah pergerakan ekonomi di Negeri Jiran. Mata uang Ringgit terpantau jatuh di level terendahnya sepanjang tahun ini. Ringgit turun sekitar 0,1 persen menyentuh 4,24 per dolar Amerika Serikat (AS), terendah sejak Juli 2020. Sedangkan indeks saham acuan juga terperosok 0,4 persen.
"Masalahnya adalah tidak adanya penggantian yang jelas yang justru meningkatkan ketidakpastian lebih lanjut dan itu berarti akan terjadi stagnansi ekonomi," kata Trinh Nguyen, Ekonom Senior Natixis di Hong Kong, dilansir Reuters, Senin (16/8/2021).
Baca juga: PM Malaysia Muhyiddin Yassin dan Kabinetnya Mengundurkan Diri
Penurunan mata uang Ringgit dinilai masih terus berlanjut imbas dari ketidakstabilan politik yang berlarut-larut. “Krisis politik yang sedang berlangsung saat ini, sangat sulit untuk melihat Malaysia meningkatkan tren pertumbuhan yang berbeda. Itu berarti akan semakin jauh tertinggal dari rekan-rekan regional seperti Vietnam,” urainya.
Lihat Juga :